Tonggak Pergerakan

Sistem demokrasi Indonesia dinilai sudah cukup baik dibandingkan dengan negara demokrasi lainnya. Namun, bukan rahasia umum lagi jika implementasi dari “demokrasi” itu sendiri sudah dinilai kebablasan dalam berbagai aspek aspirasi dan pemberitaan media. Adanya revolusi kebebasan pers, berkembang pesatnya teknologi dari dampak globalisasi dan sosial media yang merajai kehidupan hampir berbagai lapisan masyarakat seolah sebagai wadah yang sangat luas untuk mengekspresikan pendapat dengan berbagai bentuk aspirasi dan pemberitaan.
Di era intelektual dan globalisasi saat ini, masyarakat sangat kritis dan memiliki pola pikir yang dinamis dalam menanggapi berbagai permasalahan negeri. Ungkapan saran, kritik dan pendapat dalam rangka niatan untuk memabangun negeri telah banyak di posting dalam berbagai media penulisan. Baik dari blog pribadi, notes facebook maupun berbagai surat publik. Kreatifitas masyarakat yang seakan tak ada hentinya terus mewarnai jejaring sosial dalam mencurahkan aspirasi membangun untuk negeri. Khususnya generasi muda Indonesia.
Mengungkapkan aspirasi tak ada salahnya. Lengangnya ikatan peraturan perundang-undangan dapat menjadi hal positif jika diperlakukan secara tepat pada tempatnya. Aspirasi yang baik diungkapkan dengan sistematika logika yang apik dan santun tutur bahasanya. Curahan kata dalam tulisan menjadi cermin sudut pandang dan penilaian alur pemikiran sang penulis dengan opininya. Namun, jika aspirasi itu menusuk tajam merobek nama baik seseorang dan membawa SARA dalam bahasan topiknya, sedangkan realita beritanya masih dipertanyakan maka akan menjadi secarik berita penyebar fitnah pemicu pertikaian. Penghembusan isu ini adalah sebuah kemunduran demokrasi yang melebihi tapal batas. Isu tersebut seakan memecah belah masyarakat menjadi dua kubu. Isu semacam ini tidak hanya sensitif, tapi mengancam kerukunan antar umat beragama, berbagai suku dan daerah yang sudah terjalin di Indonesia selama ini. Dalam teori pergerakan politik, terdapat beberapa tipe pemilih dalam mengambil pilihannya dalam pemilihan, yakni pemilih rasional, psikologis, dan sosiologis. Pemuda idealnya harus dapat memosisikan diri sebagai kaum intelektual. Pemuda adalah pemikir rasional, yaitu pemilih yang mampu berpikir secara kritis dan
cerdas dalam menentukan pilihannya. Sikap pemuda yang mulai proaktif dan peduli atas dunia pergolakan politik negeri menjadi harapan baru masa depan bangsa yang lebih baik. Pendikotomian masyarakat menjadi dua sisi dalam bentuk apapun cenderung mendegradasi akal pikiran yang seharusnya setia pada keadilan dan keluhuran berpikir. Ingat idiom paling lantang yang pernah dikeluarkan oleh George W. Bush? “You either with Us or against Us”. Seakan masyarakat “dipaksa”memilih sisi jalan untuk diperhadapkan dengan sisi jalan lainnya. Seakan-akan pilihan yang diambil memiliki konsekuensi yakni menegasikan pilihan lainnya. Jika kamu tidak bersama kami, maka kamu memilih sebagai lawan kami. Satu pilihan yang menghilangkan pilihan yang lain. Salah satu pilar demokrasi modern adalah meritokrasi, yaitu menyerahkan kepemimpinan kepada orang yang memiliki kemampuan. Harapannya masyarakat memenuhi hakikat sebagai seorang intelektual. Seorang yang berpikir kritis dan cerdas dalam menggali program, nilai, serta misi seraya tidak berkutat pada pribadi semata. Harapan kepada pemuda untuk memiliki refleksi mendalam agar mengukur kapasitas seorang pemimpin dalam menentukan arah perjuangan negeri ini nantinya semakin memuncak di era intelektual masa kini. Jika kita memang berada pada pijakan yang sama yakni keberagaman, maka sudah barang tentu pilihan yang kita ambil melepaskan segala unsur-unsur yang berpotensi memecah belah tersebut.
 
by :
Lisa Amalia AR
YOTCA STAN
12.28
  




By : LISA AMALIA ARTISTRY RAMADHANI

Posted on October 24, 2015 read:66

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter