Untukmu, Mahasiswa Rantau

 

Artikel ini khusus ditujukan kepada mahasiswa rantau di seluruh Indonesia (mahasiswa luar negeri juga boleh asal mengerti bahasa Indonesia).

Tidak hanya rocker yang manusia, mahasiswa rantau juga manusia. Menjadi mahasiswa rantau bisa dibilang relatif lebih sulit daripada mahasiswa asli daerah tersebut, apalagi jika jarak rumah orang tua dengan kampus sampai beratus kilometer. Betapa tidak, kebutuhan hidup selama di perantauan harus dipenuhi secara mandiri. Ya, meski tak sepenuhnya mandiri karena banyak mahasiswa yang masih mengandalkan sokongan dana dari orang tua, namun, keberanian mahasiswa merantau demi niat belajar patut diacungi empat jempol.

Salah satu kesulitan terbesar mahasiswa rantau adalah terserang penyakit yang tak ada obat medisnya, homesick. Satu kata dalam bahasa Inggris ini sering diartikan sebagai sebuah situasi dimana kita merindu teramat dalam, terutama kepada keluarga di kampung halaman. Nah, saya yakin banyak mahasiswa rantau pernah terserang penyakit ini, terutama di tahun-tahun awal masa perantauan. Tak hanya itu, masalah keuangan sering menjadi momok paling menakutkan bagi mahasiswa rantau. Beruntung, mahasiswa yang mendapat beasiswa pendidikannya tidak terlalu terbebani. Pun, dengan masalah sakit. Jika penyakit sudah menyerang, tak ada cara lain selain “berobat secara mandiri” tanpa orang tua. Hmm.

Saya termasuk mahasiswa rantau. Orang tua saya berada di Tulungagung, Jawa Timur, begitupula dengan sekolah saya sebelumnya. Sekarang, saya sudah berada di semester 4 di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Bisa dibayangkan betapa jauh Tulungagung menuju Jakarta? Kalau kalian ingin mencobanya, silahkan naik kereta dari Stasiun Senen menuju Stasiun Tulungagung. Kalian akan menghabiskan sekitar 16 jam di dalam kereta Matarmaja.

Begitulah cerita singkat kehidupan mahasiswa rantau. Demi cita-cita dan harapan untuk hidup lebih baik, semua halangan mau tak mau harus dilalui sekuat tenaga. Ibarat lirik lagu David Archuleta berjudul Rainbow, there is always rainbow after the rain, setelah kesulitan pasti ada keindahan. Tidak masalah menanggung hidup yang sulit saat merantau, tapi yakinlah, nanti kita akan memetik hasilnya. Hasil tidak akan menghianati proses.

Tokoh sukses seperti Billy Boen, Basuki Tjahaja Purnama, Chairul Tanjung, dan lainnya pernah merasakan bagaimana menjadi mahasiswa rantau. Sekarang mereka jadi apa? Tanpa bermaksud menggeneralisasi, harusnya sosok yang lebih dulu “sukses” menjadi inspirator bagi kita yang saat ini masih menyandang status mahasiswa rantau. Mereka saja bisa, kenapa kita tidak bisa?

Lagipula, semua orang yang bernyawa dan hidup di dunia ini tak bisa lepas dari risiko-risiko kehidupan, bahkan yang hidup di zona nyamannya. Jika mereka yang berada di confort zone saja punya risiko kehidupan, lalu kenapa tak memilih keluar dari zona nyaman jika hal itu lebih berpeluang mengembangkan kita menjadi lebih baik? Mentor saya di Young On Top (YOT) dan beberapa dosen di kampus menganjurkan untuk menjadi orang yang out of the box, lain dari yang lain karena berawal dari pemikiran di luar kotak itu, ada hal yang mengesankan.

Yeah, secara pribadi saya angkat topi dengan mahasiswa yang sudah berani mengambil keputusan untuk merantau demi mencari ilmu dan mengembangkan karir (tidak untuk main-main). Meski banyak halangan, jauh dari orang terkasih, jarang berkumpul bersama keluarga, dan sering terjerat homesick zone, percayalah bahwa niat baik kita pasti akan Tuhan bayar dengan sebuah hasil yang baik kelak.

Ingat, sudah berapa banyak uang yang dikeluarkan orang tua untuk membiayai pendidikan kita? Sudah berapa kali orang tua menangis karena merindukan kita? Sudah berapa keringat yang mengucur dari tubuh mereka untuk keberhasilan kita? Mari membahagiakan mereka dengan keberhasilan. Hidup mahasiswa rantau.

Ahmad Zulfiyan, YOT Campus Ambassador

Sedang mencari ilmu yang bermanfaat di Faculty of Economic, UNJ

@azulfiyan

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on December 28, 2014 read:194

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter