Volunteerisme

Kita mengenal kata-kata serapan dari bahasa asing yang sudah “malang melintang” di pendengaran kita, seperti kapitalisme, modernisme, pluralisme, sampai premanisme. Sufiks –isme di akhir kata menunjukkan bahwa kata tersebut memiliki makna keyakinan. Saya sengaja memberi embel-embel –isme tersebut di kata volunteer agar memiliki makna “yakin” bahwa kata ini memang patut untuk diyakini.

            Volunteer adalah kata dari bahasa Inggris yang artinya sukarelawan. Sukarelawan sendiri berasal dari kata dasar “sukarela” yang merupakan sifat rela dengan akhiran “wan” yang menunjukkan subjek. Lebih umum, volunterisme yang saya maksud adalah sebuah keyakinan untuk menjadi sukarelawan, yaitu seorang yang secara sukarela memberi kontribusi positif untuk sesuatu yang menjadi objek kerelawanan tersebut.

            Menurut saya, seharusnya sifat sukarela ini harus dipupuk sehingga menjadi kebiasaan. Secara psikologis, setiap manusia terlahir memiliki sifat sukarela. Tinggal bagaimana kita memupuk sifat genetis pada diri ini. Dengan menjadi sukarelawan, kita mendapat banyak manfaat seperti memeroleh pengalaman yang luar biasa, mendapat teman baru sehingga memperluas networking, mendapat ilmu yang bermanfaat, berlatih komunikasi, berlatih menjadi bagian dari sebuah tim yang baik, bahkan beberapa ada yang mendapatkan imbalan berupa uang.

             Namun, lebih dari itu, menjadi sukarelawan merupakan proses untuk membahagiakan diri sendiri, seperti kata Ainun Chomsun, pendiri Akademi Berbagi, “berbagi itu proses membahagiakan diri”. Semakin banyak kita berbagi (salah satunya dengan menjadi sukarelawan; membagi tenaga), semakin bahagia jiwa kita karena adanya rasa puas pascamembantu.

            Di atas, saya sempat menyebut. “mendapat imbalan uang ketika menjadi sukarelawan”. Jangan salah paham dulu, saya sama sekali tidak menganjurkan untuk menjadi sukarelawan hanya demi imbalan uang. Nanti, kalau ada kegiatan yang tidak dibayar, tidak mau. Ini bukan “ajaran” volunterisme. Tapi ajaran ekonomi, dimana setiap kegiatan harus menghasilkan keuntungan.

            Jadi, menjadi sukarelawan harus dilandasi oleh niat dan komitmen yang benar sejak awal. Kita harus tanamkan pada diri bahwa menjadi sukarelawan itu ya rela untuk membantu; berkontribusi, bukan untuk kerja yang menghasilkan uang. Jika pada akhirnya ada imbalan berupa finansial, anggap itu sebagai bonus, bukan tujuan utama. Saya yakin, jika niat awal kita sudah benar, maka segala sesuatunya akan menjadi baik pula.

Ahmad Zulfiyan

YOT Campus Ambassador

Universitas Negeri Jakarta

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on October 01, 2015 read:119

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter