Apakah Ada Kerajaan Bercorak Islam Di Pulau Sumatera?

Halo, YOTers! Apakah kalian masih ingat mata pelajaran sejarah SD/SMP? Kalian tau gak sih kalau ada lho kerajaan yang bercorak Islam di Pulau Sumatera. Yuk, kita simak ulasan berikut ini!

  1. Riau

Ada 4 sungai besar yang melewati daratan tinggi di Bukit Barisan dan bermuara di Selat Malaka, yaitu: Sungai Siak, Sungai Rokan, Sungai Kampar dan Sungai Indragiri. Sistem Kerajaan Siak, Kampar, dan Indragiri terdapat aturan seorang sultan dibantu oleh Dewan Kerajaan yang bertugas sebagai pelaksana pemerintahan dan penasihat sultan.

Kerajaan Siak, Kampar, dan Indragiri sering melakukan kontak dagang dengan Kerajaan Malaka. Kehidupan ekonomi masyarakat Siak dipengaruhi oleh keberadaan Sungai Siak. Kerajaan Siak, Kampar, dan Indragiri memeluk agama Islam karena dipengaruhi oleh aktivitas keagamaan Kerajaan Samudera Pasai dan Malaka.

Salah satu warisan budaya kerajaan Islam di Riau, yaitu Kerajaan Siak adalah tari Zapin.

 

  1. . Jambi

Jambi dilalui oleh sungai besar, salah satunya yaitu Sungai Batanghari.

Kerajaan Jambi didirikan oleh Datuk Paduko Bahalo. Kemudian dilanjutkan oleh raja: Rangkayo Hitam, Panembahan Ilang Daer, panembahan Rantau Kapas, dan Sultan Abdul Kahar. Sebagian besar penduduk kerajaan Jambi bermata pencaharian sebagai pedagang. Salah satu komoditas utamanya adalah lada.

Agama Islam di Jambi berkembang pesat sekira tahun 1500 saat kerajaan Jambi dipimpin oleh Rangkayo Hitam (1500-1515). Beberapa penyebar Islam menikah dengan penduduk setempat dan mendirikan masjid di sekitarnya. Masyarakat Jambi mengembangkan kesenian seperti seni ukir, seni tari, dan seni kriya (seni kerajinan dengan bahan rotan, bambu, dan dedaunan).

 

  1. Sumatera Selatan

Sejak abad VII dan VIII M, wilayah Sumatera Selatan menjadi bagian jalur perdagangan. Berita   I-Tsing menyebutkan kehadiran kapal-kapal pedagang muslim dari Arab dan Persia yang berlabuh di Pelabuhan Bhoga (Palembang). Saat Kerajaan Palembang dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin II, terjadi Perang Menteng antara VOC dengan Kerajaan Palembang. VOC berhasil menghancurkan Kerajaan Palembang.

Kerajaan Palembang sering melakukan hubungan dagang dengan Kerajaan Malaka dan Pahang. Komoditas perdagangannya yaitu beras, katun, rotan, lilin, madu, anggur, kapur barus, emas, dan besi. Perkembangan agama Islam di wilayah Sumatra Selatan ditandai munculnya komunitas Islam di Palembang pada akhir abad XIV.

Struktur masyarakat terbagi menjadi 2 golongan, yaitu:

  • Golongan priayi (khusus kaum ningrat/turunan raja).
  • Golongan rakyat biasa.

 

  1. Sumatera Barat

Kerajaan di Sumatera Barat bertempat di daerah Pariaman, Tiku, Kerinci, dan Barus. Secara umum, kondisi geografisnya dikelilingi oleh bukit dan gunung.

Raja tidak mempunyai kekuasaan dalam pemerintahan. Namun, kekuasaan tersebut berada di tangan para penghulu. Kerajaan Islam di Sumatera Barat menjadi daerah penghasil barang-barang perdagangan. Dari keempat daerah (Pariaman, Tiku, Kerinci, dan Barus), pedagang dari Arab dan Persia memperoleh emas, sutra, damar, lilin, madu, dan kapur barus.

Penyebaran agama Islam di Sumatera Barat dipelopori oleh ulama Syekh Burhanuddin yang dikenal dengan nama Tuanku Ulakan. Ia mendirikan surau sebagai tempat mengajarkan pendidikan Islam. Dalam masyarakat Sumatra Barat, terdapat 2 kaum, yaitu kaum adat yang memiliki kebiasaan berjudi, sabung ayam, dan minum minuman keras dan ada kaum Padri yang hidup menjalankan syariat Islam. Hingga akhirnya, ada pertentangan di antara mereka yang menimbulkan terjadinya Perang Padri.

 

 

Penulis: Nira Inggrafidia Sari