Asal-Usul Fauna Di Dunia

Persebaran fauna di dunia terbagi menjadi 6 wilayah, yaitu paleartik, neartik, etiopian, oriental, australis, dan neotropik. Wilayah persebaran fauna ini ditemukan pertama kali oleh Sclater dan kemudian dikembangkan oleh Huxley dan Alfred Russel Wallace.

Gambar: Alfred Russel Wallace

 

Tempat yang berbeda dihuni jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang berbeda-beda pula. Hal ini nampak jelas/nyata ketika dunia dijelajahi. Pada tahun 1628, dalam karyanya yang berjudul The Anatomy of Melancholy, Robert Burton menulis:

“Mengapa Afrika terdapat banyak binatang buas beracun, sedangkan Irlandia tidak? Atena terdapat burung hantu, Kreta tidak? Mengapa Daulis dan Thebes tidak terdapat burung layang-layang (seperti yang dikatakan Pausanias kepada kita) seperti yang terdapat di Yunani, Ithaca [tidak terdapat] terwelu, Pontus [tidak terdapat] keledai, Scythia [tidak terdapat] anggur? Darimana datangnya berbagai kompleksitas, warna, tanaman, burung, binatang buas, logam, yang khas pada hampir tiap-tiap tempat?” (Burton 1896 edn: Vol. II, 50-1)

Gambar: Robert Burton

 

Hingga abad ke-19, telah mulai secara nyata disadari bahwa permukaan bumi dapat dibagi ke dalam zona-zona geografi hewan tumbuhan, tiap zona memiliki sekelompok binatang yang berbeda dan sekelompok tumbuhan yang berbeda. Augustin Pyramus de Candolle menghitung tanaman-tanaman dan memperkenalkan wilayah endemik (areas of endemism), yaitu zona-zona botani, yang memiliki jumlah tanaman tertentu khas pada daerah tersebut. Dia mendaftar 20 zona botani atau wilayah endemik pada tahun 1820, dan hingga tahun 1838 telah menambahkan angka lain, hingga menghasilkan jumlah 40. Pada tahun 1826, James Cowles Prichard, seorang ahli hewan, membedakan tujuh zona binatang: zona artik, zona iklim sedang, zona equator, Pulau India, Zona Papua, Zona Australia, dan wilayah paling jauh Amerika dan Afrika. William Swainson memodifikasi skema tersebut pada tahun 1835, dengan mengambil pertimbangan pada ‘lima keanekaragaman manusia yang telah dikenal’, untuk menyajikan lima zona: Zona Eropa (Kaukasian), Zona Asiatik (atau Mongolian), Zona Amerika, Zona Etiopian (atau Afrika), dan Zona Australian (atau Melayu).

Karya berpengaruh dari seorang ahli burung (Ornitologi), Philip Lutley Sclater, dan ahli geografi hewan tumbuhan dan peneliti alam terkenal dari Inggris, Alfred Russel Wallace, melampui gagasan Prichard dan Swainson pada persebaran-persebaran binatang. [dengan] menggunakan persebaran binatang, Sclater (1858) memperkenalkan dua pembagian dasar (atau “ciptaan”, seperti istilah yang dipakainya)—Dunia Lama (Creatio Paleogeana) dan Dunia Baru (Creatio Neogeana)—serta enam zona. Dunia Lama dia bagi ke dalam Eropa dan Asia sebelah utara, Afrika sebelah selatan Gurun Sahara, India dan Asia Tenggara, serta Australia dan Papua Newginie.

Dunia baru dia bagi ke dalam Amerika Utara dan Amerika selatan. Skema Sclater mendorong kehebohan publikasi oleh ahli hewan berbahasa Inggris, termasuk Thomas Henry Huxley dan Joel Asaph Allen, yang masing-masing dari mereka mengungkapkan klasifikasi geografis menurut apa yang mendukung [skema mereka].

Gambar: Philip Lutley Sclater

 

Dalam karyanya, The Geographical Distribution of Animals (1876), Alfred Russel Wallace  mengulas sistem yang sedang bersaing, [kemudian] berpendapat secara meyakinkan dukungannya pada enam zona yang diadopsi Sclater, atau kerajaan seperti yang dijulukan Wallace kepadanya. Sistem Sclater dan amandemen tambahan dari Wallace padanya memberikan sebuah istilah yang masih bertahan hingga sekarang ini. Gagasan lanjutan ialah variasi tambahan pada tema Sclater-Wallace. Sclater dan Wallace mengidentifikasi enam zona—Neartik, Neotropik, Palaeartik, Ethopian, Oriental, dan Australian. Secara bersama-sama, Zona Neartik dan Palaeartik membentuk Neogaea (Dunia Baru), sementara zona lainnya membentuk Palaeogaea (Dunia Lama). Sumbangan Wallacae ialah mengidentifikasi sub-zona, terdiri dari empat sub per zona, yang sebagian besar berkaitan dengan zona botani dari de Candolle.

 

 

Penulis: Nira Inggrafidia Sari