Asal-Usul Kerajaan Kadiri

Kerajaan Kadiri atau Kediri atau Panjalu adalah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di Kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri.

 

  1. Kehidupan Kerajaan Kadiri

Berdirinya Kerajaan Kediri tidak lepas dari sejarah Kerajaan Medang Kamulan. Sepeninggal raja Airlangga, Medang Kamulan dibagi menjadi dua yaitu Panjalu (Kediri) yang diperintah Samara Wijaya dan Jenggala yang diperintah Mapanji Garasakan. Pada tahun 1052 M terjadi perang perebutan kekuasaan di antara kedua belah pihak yang ditimbulkan karena keduanya berhak atas tahta Raja Airlangga (Kerajaan Medang Kamulan) yang meliputi seluruh Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pada tahap pertama berhasil dimenangkan oleh Mapanji Garasakan. Di Jenggala kemudian berkuasa raja-raja pengganti Mapanji Garasakan. Pertempuran terus menerus antara Jenggala dan Panjalu menyebabkan selama 60 tahun tidak ada berita yang jelas mengenai kedua kerajaan tersebut hingga munculnya nama Raja Bameswara (1116-1135 M) dari Kediri. Pada masa itu, ibu kota Panjalu telah dipindahkan dari Daha ke Kediri.

 

  1. Puncak Kejayaan Kerajaan Kadiri

Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Jayabaya. Di bawah pemerintahannya, Kediri berhasil menguasai Jenggala yang sempat memberontak kembali karena ingin memisahkan diri. Keberhasilannya ini mengingatkan pada keberhasilan Airlangga mempersatukan Medang Kamulan yang sempat tercerai berai. Itulah sebabnya Jayabaya dianggap sama dengan Airlangga yang juga dianggap sebagai penjelmaan Dewa Wisnu dan mengenakan lencana narashinga. Jayabaya dikenal sebagai raja yang besar, bijaksana dan dianggap sebagai pujangga. Karya Jayabaya yang hingga kini sangat dikenal adalah Jangka Jayabaya, yang berisi ramalan Jayabaya tentang masa depan Jawa dan datangnya Sang Ratu Adil yang akan mengantarkan rakyat Jawa pada keemasannya kembali.

 

  1. Akhir Kerajaan Kadiri

Kerajaan Kediri runtuh pada masa pemerintahan raja terakhirnya yaitu Kertajaya. Pada tahun 1222 terjadi pertempuran yang dinamakan Peristiwa Ganter yang berawal ketika Kertajaya sedang berselisih melawan kaum Brahmana yang kemudian meminta perlindungan Ken Arok akuwu Tumapel. Kebetulan, Ken arok juga bercita-cita memerdekakan Tumapel. Perang antara Kediri dan Tumapel terjadi dekat Desa Ganter. Pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya. Dengan demikian berakhirlah masa Kerajaan Kediri yang sejak saat itu sudah menjadi bawahan Tumapel atau Singashari.

 

  1. Raja-Raja yang Pernah Memerintah Kerajaan Kadiri
  • Jayawarsa/Samarawijaya (1104 M): prasasti Sirah Keting (1104 M)
  • Bameswara (1115-1130 M): prasasti di daerah Tulungagung dan Kertosono
  • Jayabaya (1135-1157 M): prasasti Hantang (1135 M)
  • Sarweswara (1159-1170 M): prasasti Padelegan II (1159 M) dan Kahyunan (1161 M)
  • Aryeswara (1171-1180 M): prasasti Angin (1171 M)
  • Sri Gandra (1181 M): prasasti Jaring (1181 M)
  • Kameswara (1182-1185 M): prasasti Ceker (1182 M)dan Kakawin Smaradhana
  • Kertajaya (1190-1222 M): prasasti kamulan (1194 M), Galunggung (1194 M), Palah (1197 M), Wates Kulon (1205 M)

 

  1. Kehidupan Ekonomi

Kerajaan Kediri menggantungkan kegiatan perekonomian pada sektor pertanian dan perdagangan. Pada sektor pertanian, Kerajaan Kediri banyak menghasilkan beras. Sektor perdagangan Kediri dikembangkan melalui jalur pelayaran sungai Brantas, barang yang diperdagangkan antara lain emas, perak, kayu cendana, rempah-rempah, dan pinang. Masyarakat Kerajaan Kediri memanfaatkan Sungai Brantas untuk mengembangkan sistem pertanian sawah dengan irigasi yang teratur. sehingga menjadikannya sebagai komoditas perdagangan utama.

 

  1. Kehidupan Agama

Masyarakat Kediri dikenal sangat religius. Mereka hidup berdasarkan ajaran agama Hindu Syiwa. Hal ini terlihat dari peninggalan arkeologi berupa arca-arca di candi Gurah dan candi Tondowongso. Para penganut agama Hindu Syiwa menyembah dewa Syiwa yang dipercaya dapat menjelma menjadi Syiwa Maha Dewa (Maheswara), Dewa Maha Guru, dan Makala. Salah satu bentuk pemujaan terhadap Dewa Syiwa yaitu dengan mengucapkan mantra yang disebut Mantra Catur Dasa Syiwa atau empat belas wujud Syiwa.

 

  1. Kehidupan Sosial dan Budaya

Masyarakat Kerajaan Kediri dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:

  • Golongan masyarakat pusat (kerajaan): kaum kerabat raja, kelompok pelayan raja, dan masyarakat dalam lingkungan raja.
  • Golongan masyarakat thani (daerah): para pejabat atau petugas pemerintahan di wilayah thani (daerah).
  • Golongan masyarakat non pemerintah: golongan yang tidak mempunyai kedudukan dan hubungan dengan pemerintah secara resmi.

Seni sastra mendapat banyak perhatian pada zaman Kerajaan Kediri, diantaranya:

  • Kitab Bharatayudha: ditulis pada zaman Jayabaya untuk memberikan gambaran terjadinya perang saudara antara Panjalu melawan Jenggala.
  • Kitab Krisnayana: ditulis oleh Mpu Triguna pada masa pemerintahan Raja Jayawarsa yang menjelaskan tentang perkawinan antara Kresna dan Dewi Rukmini.
  • Kitab Smaradahana: ditulis pada zaman Raja Kameswari oleh Mpu Darmaja yang menceritakan tentang sepasang suami istri Smara dan Rati yang menggoda Dewa Syiwa yang sedang bertapa. Smara dan Rati kena kutuk dan mati terbakar oleh api tetapi keduanya dihidupkan kembali dan menjelma sebagai Kameswara dan permaisurinya.
  • Kitab Lubdaka: ditulis oleh Mpu Tanakung pada zaman Raja Kameswara yang bercerita tentang seorang pemburu bernama Lubdaka yang mengadakan pemujaan istimewa terhadap Dewa Syiwa sehingga rohnya yang semestinya masuk neraka menjadi masuk surga.

 

 

Penulis: Nira Inggrafidia Sari