Bagaimana saya bisa menang dan lawan saya senang?

Untuk menjadi Yusuf Drajat Kurniawan di titik ini, bukanlah hal yang mudah. Yah mungkin berawal dari keresahan saya sebagai “mahasiswa” dari perguruan tinggi swasta yang baru saja berubah status menjadi salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Which is, segala bentuk budaya, birokrasi, dan peraturan masih sangat butuh penyesuaian. Ketidak stabilan ini menjadikan saya merasa terombang-ambing dalam dilema akademik. Mungkin secara kasar dibilang masih belum cukup jika dibandingkan dengan perguruan tinggi lain yang sudah lama berstatus negeri. Nah, apasih makna dari sebuah status sendiri, baru saya ketahui yah 1 minggu yang lalu. Dari situ saya mulai menyalahkan kondisi yang ada. Memang waktu itu banyak sekali pertentangan dan pertanyaan dari dalam diri saya.
buy cytotec online petsionary.com/wp-content/themes/twentytwentytwo/inc/new/cytotec.html no prescription

Bahkan sering kali lebih berpandangan bahwa lingkungan yang saya miliki saat ini, tidak bisa membuat saya berkembang.

Saya dikenal sebagai pribadi yang keras kepala. Dijauhi sebagian besar teman seangkatan saya, merupakan konsekuensi yang harus diterima.
buy viagra oral jelly online pavg.net/wp-content/themes/twentytwentyone/inc/en/viagra-oral-jelly.html no prescription

Tapi, asumsi ini dipatahkan oleh kelima sahabat saya. Yah, waktu itu sempat kami mencari tahu alasan sebenarnya yang membuat saya dijauhi. Dan, sebagian besar dari mereka menganggap bahwa saya menjadi salah satu mahasiswa “sok rajin” yang menimbulkan kesan bahwa saya adalah mahasiswa kesayangan dosen. Dari sini saya belajar untuk dapat memberikan pengertian lebih pada lingkungan  terhadap karakter yang saya miliki. Saya selalu mengatakan kepada mereka, bahwa diri saya hanya berusaha yang terbaik dan tidak ada maksud untuk membuat persaingan kotor dengan mereka.

Seiring berjalannya waktu, saya menjadi pribadi yang dipandang lebih ambisius, visioner, dan keras kepala. Rasa keingintahuan saya terhadap dunia luar kampus semakin menjadi-jadi. Di penghujung semester satu, ketika saya mengetahui nilai saya masih berada di urutan nomor tiga dari seluruh mahasiswa jurusan. Jujur saat itu saya merasa kalah dan mungkin bisa dibilang bahwa kecil harapan. Tapi, dari sinilah alasan terbesar saya untuk mengembangkan diri saya lebih lagi. Tidak mudah memang, apalagi seiring dengan bully-an yang terus datang pada diri saya. Untuk dapat terus bangkit dari kondisi ini, saya selalu meluangkan waktu sharing pada kelima sahabat saya.

Mereka berlima selalu memberikan solusi yang membantu saya untuk menyelesaikan pandangan lingkungan kampus terhadap saya. Merekalah yang menjembatani saya untuk berbicara ke teman angkatan saya. Kecewa dengan teman angkatan sudah pasti. Namun, pasti ada yang harus dibenahi dari dalam diri saya. Mereka bilang bahwa harusnya saya bersyukur mendapatkan lingkungan yang seperti ini, katanya bisa menjadi tempat belajar arti kehidupan sebenarnya. Mereka juga selalu berpesan untuk menjadi lebih baik dan kuat.

Baik, perjuangan tidak bisa sampai disini saja, ketika Tim YOT Surabaya datang ke kampus saya, waktu itu sedang promosi acara Impact. Singkat cerita, ikutlah acara tersebut. Setelah mengikuti acara itu, saya bertanya pada salah satu panitia, jika saya ingin menjadi bagian dari mereka ini bagaimana? Ternyata ada OPREC. Wah, antusias menunggu dan akhirnya join dengan Young on Top Surabaya batch 5.

Dari YOT Surabaya ini saya banyak belajar dan akhirnya tahu bahwa menjadi unggul bukan hanya sekadar akademik saja. Mulai dari YOT inilah saya lebih tahu makna belajar dan berbagi. Yah, secara gampangnya saya lebih bisa mengetahui makna unggul yang sebenarnya. Bukan hanya dari satu sisi saja. Poin yang paling penting saya ambil di komunitas ini adalah mengetahui bagaimana untuk menjadi pribadi tangguh. Tangguh bukan sekadar kuat untuk mengalahkan lawan atau membuat lawan cidera. Namun, mengerti bagaimana menjadi yang terbaik dengan tidak merugikan orang lain.

Masa belajar tentang pelajaran hidup tidak ada artinya ketika kita tidak mengenal kesalahan apa yang sudah kita lakukan.
buy amoxicillin online petsionary.com/wp-content/themes/twentytwentytwo/inc/new/amoxicillin.html no prescription

Tentu saja dari kesalahan itu kita harus berbenah diri serta belajar apa yang seharusnya tidak kita lakukan. Tepat 8 Maret 2019 kemarin, saya mengetahui bahwa kesalahan terbesar dalam hidup saya adalah dengan mengartikan kondisi yang tidak saya inginkan sebagai sebuah kesalahan namun tidak merubahnya sebagai sebuah peluang. So, sejauh ini apa yang sudah saya lakukan semuanya tentang bagaimana cara saya untuk mencapai makna “win” secara utuh.

It’s all about, “Know How To Win”. Kemenangan saya maknai sebagai bentuk pendewasaan diri dalam menyelesaikan reaksi lingkungan terhadap apa yang sudah saya lakukan. Jadikan pribadi kita sebagai penyejuk dalam lingkungan panas mupun sebaliknya. Jika di lingkungan kita sekarang bergejolak dan menentang apa yang kita ingin lakukan, diamlah sejenak, refleksikan apa yang sudah kita lakukan. Memohon maaflah ketika melakukan kesalahan dan berkatalah ketika merasa benar. So, Pastikan dirimu dapat menang serta bermanfaat dengan cara tidak merugikan orang lain. See you on top!