Bahaya Pay Later: Beli Sekarang, Bingung Nanti

Bahaya Pay Later: Beli Sekarang, Bingung Nanti

Metode pembayaran saat ini semakin beragam dan menyimpan bahaya. Salah satunya adalah Pay Later yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan digital. Dengan konsep ‘beli sekarang dan bayar nanti’, gak heran kalo Pay Later jadi metode pembayaran yang diminati sama millennials.

Dilansir dari koinworks, cara membayarnya sama seperti kartu kredit. Di mana platform penyedia Pay Later tersebut menalangi dulu pembayaran kamu di awal saat membeli suatu produk atau menggunakan jasa, baru setelahnya kamu membayar tagihannya dengan jatuh tempo di bulan berikutnya. Nah, beda dengan pinjaman dari aplikasi Fintech P2P Lending yang menyediakan pinjaman dalam bentuk uang tunai, Pay Later hanya menyediakan pinjaman untuk pembayaran uang atau jasa alias pinjamannya gak bisa diuangkan atau gesek tunai.

Fitur ini juga udah tersedia di berbagai platform, mulai dari transportasi online, pemesanan makanan online, pemesanan tiket akomodasi online hingga produk e-wallet, seperti Go-Jek, OVO dan Traveloka. Ada juga e-commerce yang menyediakan fitur ini, yaitu Tokopedia dan Shopee.

Tapi, dibalik kemudahan ini, ada bahaya yang harus kamu perhatikan nih YOTers. Ini dia bahaya dari Pay Later:

Bahaya Pay Later: Beli Sekarang, Bingung Nanti

  1. Jadi Konsumtif

Kemudahan untuk bertransaksi dengan Pay Later ini tanpa disadari juga bisa membuat kita impulsif dan kita cenderung akan membeli barang yang gak diperlukan. Inget, pelaku usaha juga punya strategi untuk menghabiskan produk atau jasa yang gak laku dengan cara melakukan promosi besar-besaran.
buy flagyl online healthdirectionsinc.com/Information/Articles/post/flagyl.html no prescription

 Dampaknya ya tentunya kita bakalan jadi boros pengen beli.

  1. Adanya Biaya Tambahan yang Tidak Disadari

Tanpa kita sadari bahwa Pay Later ini juga ada biaya tambahannya, seperti biaya subscription, biaya cicilan dan biaya lainnya yang bisa berbeda jumlahnya di tiap aplikasi. Biaya ini berbeda dari tiap platform yang menyediakan fitur Pay Later ini. Oh iya, belum lagi denda yang dibebankan jika kamu telat membayar tagihan.

  1. Pengaturan Keuangan Jadi Berantakan

Dengan adanya Pay Later juga membuka kemungkinan pengaturan keuangan menjadi berantakan karena harus membayar tagihan. Bisa jadi uang yang kamu sisihkan untuk menabung malah akhirnya terpakai untuk membayar tagihan Pay Later. Atau malah dana darurat kamu terpakai untuk membayar tagihan.
buy cymbalta online healthdirectionsinc.com/Information/Articles/post/cymbalta.html no prescription

buy vardenafil generic https://rxbuywithoutprescriptiononline.com over the counter

Waduh…

  1. Bisa Merusak Credit Scoring-mu

Harus kamu tau kalo kamu gak bayar tagihan Pay Later sesuai dengan waktu yang ditentukan, penyedia layanan bisa menempuh jalur hukum yang tentunya bisa berpengaruh terhadap credit scoring-mu. Karena, penyedia layanan ini adalah lembaya yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memiliki credit scoring debitur lembaga perbankan dan pembiayaan yang ada di Indonesia. Jadi, kalo kamu gak bayar tagihannya, maka credit scoring kamu akan terekam di OJK.

Credit scoring ini jadi tolak ukur perbankan atau lembaga pembiayaan dalam menyalurkan kredit ke calon nasabah. Kalo credit scoring-mu buruk, maka kamu akan sulit memperoleh kredit seperti kredit pemilikan rumah (KPR) atau kredit kendaraan bermotor (KKB).

  1. Kemungkinan Resiko Peretasan Data

Bertransaksi via digital juga bisa membuka peluang bahaya peretasan. Meskipun tiap aplikasi sudah menyiapkan keamanan tingkat tinggi, risiko cyber crime bisa menemukan cara meretas database di akun kamu dan menggunakannya untuk hal-hal yang tidak kita inginkan.

Sebenernya semua kembali lagi ke diri kita, seberapa bijak kita menggunakan fitur ini dan apa pilihan kita untuk menggunakannya: untuk memudahkan hidup kita atau menyulitkan hidup kita? Cermat jika memang mau menggunakan Pay Later, apakah kita benar-benar membutuhkannya, apakah kamu bisa membayar tagihannya dan apakah kamu berani menerima konsekuensinya.