Bersyukur dan Berbagi Saat Pandemi

Bersyukur dan Berbagi Saat Pandemi

Sejak mewabahnya Covid-19 di dunia khususnya di Indonesia, praktis membuat sebagian besar perekonomian lumpuh dan imbasnya sudah pasti berdampak kepada masyarakat baik pengusaha, investor, dan yang paling terasa efeknya adalah para pekerja yang mendapat penghasilan harian, pegawai yang terpaksa harus terkena PHK, terpaksa unpaid leave (cuti panjang tanpa mendapat upah) bahkan dirumahkan sementara dan sebagian masih beruntung meski harus dikenakan pemotongan gaji sementara.

Menyedihkan memang kita melihat sebagian dari masyarakat yang biaya hidup setiap hari mengandalkan dari penghasilan bulanan saja bahkan tidak sedikit yang bergantung pada pendapatan hariannya untuk bisa memberi makan keluarganya dan tetap bertahan hidup.

Dalam situasi seperti sekarang ini, saya melihat kepribadian asli dari setiap orang akan terlihat lebih jelas. Saya mengamati lingkungan sekitar saya.
buy cytotec online www.dino-dds.com/wp-content/maintenance/assets/fonts/woff/cytotec.html no prescription

Banyak sebagian dari kita berempati atas apa yang menimpa sebagian dari saudara-saudara kita dengan cara menyumbangkan sebagian rezekinya lewat berbagai komunitas donatur dan gerakan sosial lainnya. Atau bahkan sekedar membagikan nasi bungkus untuk para pengendara Ojol yang sepi penumpang. Ada yang memilih untuk memposting kegiatan amalnya dengan harapan orang lain akan terinspirasi dan mengikuti jejaknya. Ada pula yang memilih untuk menyumbang dengan cara diam-diam, atau membantu orang-orang terdekat dan kerabat yang kurang mampu.
buy symbicort online www.dino-dds.com/wp-content/maintenance/assets/fonts/woff/symbicort.html no prescription

Namun di sisi lain, saya juga masih melihat sebagian orang yang sibuk mengasihani dirinya sendiri. Karena terbiasa memperoleh puluhan juta bahkan ratusan juta setiap bulannya di rekening pribadinya, mereka justru masih mengharapkan uluran tangan pemerintah agar mereka juga mendapatkan bantuan sembako, yang sebenarnya ditujukan untuk masyarakat yang kurang mampu. Alasan mereka adalah karena kebutuhan hidup mereka juga jauh lebih tinggi, paling tidak butuh puluhan  juta untuk hidup setiap bulan karena banyak cicilan yang harus dibayar dan kebutuhan lain yang menurut saya bukan “kebutuhan mendesak”. Mereka merasa sama nasibnya dengan ojol dan para pegawai  lainnya yang terkena PHK, bedanya mereka masih punya mobil mewah, beberapa rumah dan apartemen lain yang masih harus dicicil.

Saya makin menyadari bahwa memang benar rasa syukur itu bukan dinilai dari materi ataupun berapa banyak nominal di tabungan yang kita miliki, tapi rasa syukur itu  akan jauh lebih kita rasakan saat kita bisa memandang ke bawah, memandang ke orang yang jauh lebih sulit hidupnya dari kita. Sehingga kita bisa menyukuri apa yang kita miliki saat ini.
buy aciphex online www.mobleymd.com/wp-content/languages/new/aciphex.html no prescription

Selain itu rasa syukur akan lebih terasa nikmatnya ketika kita bisa berbagi sebagian yang kita miliki entah itu makanan atau uang kepada mereka yang kurang beruntung.

Untuk kalian para remaja atau anak muda yang mungkin biasanya mendapat uang jajan lebih setiap bulan dari orang tua, tapi karena situasi sekarang ini kalian harus menerima kenyataan uang jajan kalian harus dipotong atau bahkan tidak ada lagi uang jajan bulanan, cobalah untuk memahami bahwa orang tua kalian saat ini harus berhemat dan mengalokasikan dana untuk kebutuhan pokok keluarga yang lebih penting. Saya bahkan salut melihat anak muda diluar sana yang masa mudanya harus menjadi tulang punggung untuk orang tua dan keluarganya.

Saya yakin YOTers di luar sana adalah anak-anak muda yang tidak cengeng menghadapi kesulitan saat pandemi ini. Yuuk kita lebih bijak menyikapi situasi sulit ini dan lebih banyak bersyukur diantaranya dengan saling mengingatkan dan mulai untuk berbagi, karena dengan berbagi insyaallah hidup terasa lebih Hepi!