Daffin Story

https://pin.it/1FWsTNQ

https://pin.it/5GKP32P

Namanya Daffin Khairana Putra, Daffin sapaannya. Banyak juga yang memanggil dia dengan panggilan ice boy. Sedari SMA sampai kini ia sudah menempuh semester 3 di universitas, masih ada yang memanggil Daffin dengan panggilan itu. Panggilan yang tampaknya akan melekat untuk jangka waktu yang lama. Siapapun yang pernah bertemu dengan Daffin pasti juga akan sepakat dengan sapaan ini. Ditambah karena tatapan Daffin yang cukup tajam, lirikannya yang cukup sinis, dan keiritannya dalam tersenyum.

Tidak ada yang berani mengusik Daffin selain perempuan yang bernama Dyana Rachma Putri. Sedari SMA hingga hini akhirnya Dyana bisa memasuki dunia perkuliahan, Dyana merasa tertantang dan selalu penasaran dengan semua yang berhubungan dengan Daffin. Bahkan di Universitas pun, Dyana memilih yang sama dengan Daffin. Sudah satu tahun Dyana tidak bertemu dengan Daffin dan kini saat Dyana hendak menuju auditorium kampus, ia melihat sosok yang ia rindukan.

Dari tempat yang tidak jauh dari Dyana, Daffin sedang berbincang dengan satu dosen yang bernama Prof Hasan dari jurusan Teknik Ilmu Komputer.

“Kamu harus menerima satu anggota lagi! Saya ingin kamu menerima satu mahasiswi baru yang telah saya tunjuk untuk membantu timmu,” ucap Prof Hasan.

“Maaf Prof, tapi jika satu anggota diambil dari tingkat satu yang bahkan belum tahu apapun, sepertinya nanti hanya akan menyusahkan tim,” sanggah Daffin.

“Tidak perlu dipusingkan, karena fungsi dia hanya menjadi asisten sampai hari kompetisi tiba. Mahasiswi yang saya bicarakan, cukup jenius, saya yakin dia akan bisa membantu tim kalian,” ucap Prof Hasan klalu kemudian berjalan meninggalkan Daffin.

Ditengah lamunan Daffin yang bingung memilih antara menyetujui atau menolak satu anggota yang dipilih Prof, ada satu suara yang berhasil membuyarkan lamunannya. Suara yang tidak asing dan mampu membuat Daffin menyunggingkan senyum tipisnya.

“Long time no see you, I miss you kak Daffin. Tebak, aku masuk di fakultas apa?” tanya Dyana.

“Nggak penting dan aku nggak mau tau!” Jawab Daffin singkat.

“Salah! Pentinglah, aku masuk di fakultas Teknik Komputer,” jelas Dyana sambil tersenyum.

Daffin pun tidak menanggapi ucapan Dyana dan segera berlalu meninggalkan Dyana sendiri. Tampak ada sedikit kegembiraan yang tergambar di wajah Daffin meskipun hampir tak tampak.

“Kamu harus janji, sekali lagi kita ketemu, mau nggak mau kamu nggak boleh menghindar lagi!” teriak Dyana yang hanya direspon Daffin dengan simbol oke di tanggannya.

Satu minggu setelah kegiatan ospek berakhir, tim robotik Daffin pun tengah berkumpul di laboratorium membahas finishing semua komponen pada robot Kyzoone. Prof Hasan tiba-tiba datang bersama Dyana, Daffin cukup terkejut karena ternyata mahasiswi yang dimaksud tempo hari itu ternyata Dyana, Sedangkan Dyana cukup puas melihat ekspresi yang di tampilkan wajah Daffin. Dengan adanya Dyana kini tim robotic menjadi berjumlah 5 anggota.

“Okey karena ada anggota baru, jadi sebagai ketua aku akan menjelaskan sedikit, kompetisi hanya tersisa 1 bulan dari sekarang! Saat ini semua komponen hanya perlu finishing sebelum hari H tiba, dilarang merepotkan anggota tim!” ucap Daffin, “Dia Faris, tugasnya menghandle conctroller robot. Dia Azza, tugasnya menghandle actuator robot. Dia Riza, tugasnya menghandle sensor dan baterai robot. Dan tugasku menghandle frame dan chassis robot. Kamu terserah mau memilih untuk jadi asisten siapa, kecuali asistenku!” jelas Daffin.

“Kalau binggung, pilih aja yang menurutmu menarik,” ucap Azza.

“Kayaknya cukup seru deh bisa ngehandle sensor,” jawab Dyana sambil tersenyum.

“Nggak boleh, sensor itu cukup sensitif. Nggak bisa sembarang orang!” Jawab Daffin sambil melirik ke arah Dyana.

“Jadi asisten kamu nggak boleh, jadi asisten kak Riza juga nggak boleh. Yaudah, aku pilih jadi asisten kak Azza aja!” jawab Dyana sambil berjalan ke arah Azza tak peduli Daffin setuju atau tidak.

Waktu terus berjalan, hanya tersisa 2 minggu dari waktu yang telah ditentukan. Tim Daffin sudah mulai tinggal di asrama yang disediakan panitia. Tiap tim memiliki satu ruangan lab khusus untuk melanjutkan percobaan. Siang ini semua tim tengah berada dalam lab kecuali Daffin. Daffin tengah berkumpul dengan ketua tim lain.

“Udah waktunya makan siang, keluar yuk,” ajak Faris.

“Ide bagus, aku juga laper. Lets go, Dyana udahlah. Dilanjut nanti,” ucap Azza.

“Aku belum lapar. Titip belikan apa saja. Aku disini aja sekalian jaga lab, kata kak Daffin harus ada satu orang yang jaga setiap saat.”

“Nggak usah dengerin Daffin. Yang penting pintu di kunci, amanlah,” ajak Azza memaksa dan akhirnya Dyana tidak bisa menolak ajakan Azza.

Mereka kembali setelah 20 menit berlalu dan di depan lab sudah ada Daffin menunggu mereka kembali.

“Udah kenyang semuanya? Aku bilang, entah keluar untuk makan atau kemana pun itu harus ada yang jaga lab. Satu orang aja ini nggak ada!” teriak Daffin.

“Kak Daffin marah karena nggak diajak makan kan? Tenang aja kak, aku udah pesenin satu, kita obrolin bareng ya?” bujuk Dyana dengan harapan Daffin bisa mererdakan amarahnya.

Hanya keheningan yang ada setelah Dyana mencoba membujuk Daffin, hingga akhirnya Riza angkat bicara, “Keep calm bro. Lab udah di kunci juga kan? Kunci juga ada di aku,” sambil mengangkat kunci yang di bawanya.

“Kalau dikunci, terus kenapa pintu bisa kebuka?” ucap Daffin.

Mereka berempat baru menyadari jika dari tadi mereka sudah masuk lab tanpa perlu menggunakan kunci. Mereka hanya bisa saling menatap. Ketiga sahabat karib Daffin tahu alasan kenapa Daffin cukup marah saat ini. Jika hanya kalah dalam kompetisi, mungkin tidak masalah, karena menang bukanlah tujuan satu-satunya mereka. Karena ada satu tujuan besar lain yang ingin mereka capai demi melelehkan es yang selama ini membeku dalam hati sahabat mereka. Semua tahu tujuan utama Daffin mengikuti kompetisi ini kecuali Dyana yang tidak tahu apapun. Karena situasi cukup hening, Dyana pun memberanikan diri untuk bicara,

“Maaf kak, Dyana salah. Nggak seharusnya Dyana ajak kak Faris, kak Azza, dan kak Riza untuk pergi makan sebentar,” ucap Dyana.

Tanpa menanggapi ucapan Dyana, Daffin pun langsung mendekat ke arah Riza, “Riza, coba cek Kyzoone masih aman?” perintah Daffin.

5 menit setelah itu, “Shit, sensor gerak sama actuatornya bermasalah. Beneran ada yang mau sabotase robot kita!” gerutu Riza.

“Dari awal aku udah nggak mengharapkan kehadiran kamu. Kemasi barang kamu dan keluar dari tim,” ucap Daffin.

“Eits bro tenanglah. Lagian bukan salah Dyana. Yang salah itu, …” belum sempat melanjutkan ucapannya, sudah di hentikan tatapan tajam Daffin.

“Aku nggak bisa melarikan diri. Aku janji akan cari solusi buat tim,” ucap Dyana, lalu berjalan keluar dari lab.

Sebelum Dyana keluar ia mendengar Daffin berbicara,

“Nggak perlu! Kita udah nggak ada harapan buat menang. Kamu pikir tim panitia mau kasih dana tambahan? Nggak! Lebih baik kamu nggak pernah muncul di hadapanku!”

Dyana tak menyadari jika air matanya sudah menetes. Kakinya cukup berat untuk melangkah keluar menuju pintu lab. Banyak momen yang membuat mereka akhirnya cukup dekat. Karena Dyana tak kunjung keluar lab, akhirnya Daffin yang keluar lab mencari udara segar. Lalu kemudian anggota tim lainnya memeluk Dyana, dengan harapan bisa menenangkan hati adik kecil mereka yang terluka. Sebelum Dyana melangkahkan kaki, ia pun berbicara,

“Untuk dana, kalian jangan khawatir. Aku ada tabungan yang kurasa cukup membantu kalian. Tidak ada penolakan, untuk sensor gerak aku nggak bisa bantu, tapi untuk actuator aku bisa. Aku akan pinjam lab ayahku dan setelah data siap akan segera aku kirim ke email kalian. Jangan kasih tahu kak Daffin ya kak, dia cukup marah hari ini, kalian nggak perlu mengantarku. Kalian cuman harus melakukan tugas kalian seperti biasa saja,”

“Kamu nggak perlu sampai transfer dana tambahan, kita masih bisa cari cara lain. Maaf karena aku kamu jadi dimarahi Daffin,” ucap Azza menyesal.

“Tim kalian nggak boleh terpecah-belah, karena jika hal itu terjadi akan ada seseorang yang cukup puas nantinya. Dan untuk uang, anggap aja aku berinvestasi ke kalian. Kalian cukup harus menang untuk mengganti uang itu,” ucap Dyana lalu berjalan keluar pergi.

Setelah membereskan koper, Dyana pun bergegas mentransfer dana tambahan yang di perlukan tim. Kemudian ia berjalan keluar asrama dengan raut sedih. Langkahnya kini sudah memiliki tujuan, segera pulang dan masuk lab ayahnya demi membantu tim. Dari kejauhan ada Daffin yang melihat Dyana berjalan keluar asrama.

Kedatangan Daffin di lab di sambut tatapan nanar tim. Lalu kemudian Riza memberitahu Daffin bahwa mereka mendapat penambahan dana dan bisa segera membeli beberapa komponen baru yang disabotase. Mereka bekerja dua kali lipat lebih lama dibanding sebelumnya, cukup banyak waktu yang tertinggal karena insiden. Tetapi karena tambahan dana dari Dyana dan bantuan data actuator yang dibuat Dyana dari jarak jauh, tim bisa merampungkan robot Kyzoone tepat 1 hari sebelum diujikan.

Perjuangan tim akhirnya terbanyarkan, mereka mendapatkan juara satu dan sedikit uang pembinaan. Robot mereka membuat tim juri terpukau akan kemampuannya, di tambah karena robot ini mengingatkan tim juri pada pemenang lomba robotic season pertama yang sudah tiada. Tim pun akhirnya memberitahu Daffin bahwa tambahan dana sebelumnya berasal dari Dyana dan ia juga turut membantu memulihkan data yang rusak dari jarak jauh. Daffin yang mengetahui ini pun cukup terkejut dan menyesal akan perlakuannya. Ia ingin meminta maaf pada Dyana, tetapi ia cukup malu untuk bertemu dengan Dyana. Hal pertama yang harus Daffin lakukan adalah focus ke tujuan utamanya mengikuti kompetisi ini, yaitu menemui kakaknya bersama anggota timnya. Diam-diam Faris mengundang Dyana untuk datang ke tempat kakak Dafin di rawat.

Sesampainya di Rumah Sakit Jiwa Melinda, mereka berempat menuju kamar seorang pasien yang bernama Renny Khairani Putri. Renny adalah kakak satu-satunya Daffin yang sangat Daffin sayang. Ini bukan pertama kalinya Faris, Azza dan Riza bertemu dengan kak Renny. Di 5 tahun yang lalu, sebelum bencana mengguncang mental kak Renny, mereka pernah bertemu sekali. Hanya mereka bertiga yang cukup mengenal Daffin, bahkan mereka juga tahu alasan mengapa Daffin jarang bisa tersenyum lepas.

Ketika Daffin sedang berusaha untuk mengajak ngobrol kak Renny, handphone Faris pun berdering. Segera Faris meminta izin ke yang lainnya untuk mengangkat telfon. Ternyata dering telfon itu berasal dari Dyana, Dyana sudah sampai di resepsionis rumah sakit. Faris melangkahkan kakinya menghampiri Dyana dan kemudian menunjukan jalan menuju ruangan kak Renny. Di sepanjang jalan Faris memberitahu Dyana bahwa mereka akan menemui kakak Daffin yang tengah sakit. Awal mula penyakit kakak Daffin terjadi karena di hari H pernikahannya, mobil yang dinaiki calon suaminya mengalami kecelakaan dan hal ini cukup menggundang mental kakak Daffin. Faris juga bercerita bahwa yang mengajari mereka termasuk Daffin tentang robot adalah calon suami kakak Dafin. Faris juga berkata bahwa alasan Daffin cukup sensitif tentang masalah tempo hari adalah karena Daffin ingin mencoba untuk memulihkan kembali kesehatan kakaknya, dengan membawa robot yang mirip dengan buatan calon suami kakak Daffin.

Sesampainya di depan ruangan, Dyana cukup tidak asing dengan nama pasien yang tertera di pintu. Segera Dyana membuka pintu dan memastikan pasien, benar saja, Ternyata yang sedang ada di hadapannya adalah calon kakak iparnya. Dyana cukup terkejut dengan apa yang terjadi, yang Dyana tahu kak Renny menghilang entah kemana. Harapan Dyana setelah menghilangnya kak Renny, semoga ia bisa bertemu dengan seseorang yang bisa menjaganya seperti yang dilakukan oleh almarhum kakak Dyana.

Kakinya terasa berat melangkah, tapi ia berusaha tetap kuat dan menghampiri kak Renny. Faris, Azza dan Riza cukup bingung dengan situasi yang terjadi sekarang ini, mereka hanya bisa menyaksikan kisah sedu di hadapan mereka ini. Sebelum Dyana mulai berbicara, Dyana melihat Daffin yang berusaha mengajak berbicara kak Renny. Kak Renny tak bergeming saat di ajak mengobrol Daffin, hal ini membuat Daffin semakin berusaha keras dengan tatapan sendunya yang sedang menahan tangis. Dengan apa yang Dyana lihat, metode yang dilakukan Daffin tidak cukup efektif dan tidak bisa ia lakukan juga. Lalu kemudian Dyana bersuara,

“Apa kabar kak Renny? Kak Renny masih inget Dyana? Dyana kangen sama kak Renny, boleh nggak kalau Dyana peluk kak Renny?” tanya Dyana dengan senyum yang terukir di wajahnya.

“Dyana… Boleh,” jawaban singkat yang membuat Dyana menghamburkan pelukan ke Renny, lalu kemudian 2 menit setelah itu Renny bertanya, “Kamu kesini sama kakak Kamu kan? Bagas mana? Kakak udah lama nungguin dia disini,”

Dyana melepas pelukannya, segera Dyana akan menjawab pertanyaan Renny. Tapi kemudian di hentikan Daffin, tangan Dyana di Tarik kencang untuk menjauhi Renny. Daffin pun berkata,

“Kamu tuh cuman orang baru. Nggak perlu sok tau, kamu bahkan nggak kenal kak Bagas itu siapa kan? Udah cukup! Apa yang kamu lakuin ini, cuman makin memperburuk situasi aja!” ucap Daffin tegas.

Kali ini Dyana hanya diam tak menghiraukan ucapan Daffin padanya. Tentu saja karena Dyana cukup mengenal siapa kak Renny ini. Calon kakak ipar yang sangat ia sayang. Kaki Dyana kembali mendekali Renny dan kemudian,

“Dyana nggak mau bohongi kak Renny. Kak Bagas udah tenang di alam sana kak.. Kak Renny harus ikhlas. Kalau Dyana, papa, dan mama bisa melanjutkan hidup kami, berarti kak Renny juga pasti bisa,” ucap Dyana dengan mata berkaca-kaca namun tetap memperlihatkan senyum di wajahnya.

“Nggak dek, apa yang kamu bilang itu bohong, kamu pergi. Bagas dan kakak nggak akan maafin perkataan  kamu ya!” ucap Renny marah.

“Kak Renny juga mau kamu keluar, ayo keluar sama aku,” ucap Daffin sambal menarik tangan Dyana.

Namun genggaman tangan Daffin segera di kempaskan Dyana. Dyana kembali mendekati Renny dan berbicara,

“Kak Renny kenal sama dia?” tanya Dyana dengan tangan yang menunjuk ke arah Daffin.

“Nggak, siapa dia? Kalian datang kesini untuk bohongin kakak kan?” jawab Renny.

“Dyana udah puas? Kamu buat kakakku marah? Bahkan nggak suka aku?” Teriak Daffin yang hanya di balas tatapan sendu Dyana.

“Dia adik kakak, kak Renny lupa? Dulu kakak sering cerita ke Dyana tentang dia. Hanya satu hal yang kakak belum kasih tau ke aku, kakak belum pernah memberitahukan nama dia. Orang yang aku suka itu ternyata adik calon kakak ipar aku. Dia juga pinter, sama kayak kak Bagas. Kak bagas buat robot buat kakak. Kak Renny tahu, dia juga ngelakuin hal yang sama.’ Ucap Dyana sambil menunjuk robot yang di bawa Daffin.

“Dia Daffin adik kakak. Kita nggak akan bohongi kakak, please kak. relain kakak aku dan besok kita ke makam bersama-sama. Oke?” Tanya Dyana sambal mengais terisak.

https://pin.it/3m0Zsmn

Renny pun melihat dan memegang sebuah robot yang dibawa Daffin. Bentuk robot itu sama seperti yang dibuat Bagas untuknya. Renny melihat dari atas sampai bawah Daffin, ia memang tampak mirip seperti adik kecilnya dulu. Hanya tingginya saja yang berbeda. Renny memeluk Daffin dan menangis terisak-isak. Mereka berdua menangis bersama, begitu pun 4 orang lain yang berada dalam ruang itu juga ikut menangis. Kemudian Renny berjalan ke arah Dyana dan berkata, “Dek, besok kita makam ya?” mohon Renny yang hanya dibalas anggukan kepala Dyana.

Keesokan harinya, Renny yang ditemani Daffin dan Dyana pun berkunjung ke makam Bagas. Mereka berdoa bersama lalu kemudian meninggalkan Renny mengambil ruang sendiri dan mengobrol bersama nisan di hadapannya. Kini mereka berada di parkiran makam.

“Makasih untuk semuanya, dari perlombaan, bantuan kamu, dan sekarang kakak aku,” ucap Daffin dengan menatap tanah makam di hadapannya. Kini ia tak sanggup untuk melihat mata Dyana. Dia cukup malu akan perbuatannya selama ini.

“Sama-sama kak, andai dulu kita bisa saling kenal lebih cepet. Pasti kak Renny juga akan sembuh cepat. Lihat mata aku dong kalo lagi ngobrol!” ucap Dyana.

“Dulu aku terlalu sering menghabiskan waktuku bereksperimen. Acara keluarga dan makan bersama keluarga kak Bagas juga bahkan terlewatkan, kalaupun pernikahan itu terjadi. Sekarang ini, kamu bukan jadi Dyana adik tingkatku, tapi Dyana saudara Iparku,” ucap Daffin sambil tersenyum genit..

“Aku nggak nyangka kalau hal receh kayak gini bisa buat kamu senyum kayak gitu kak,” ucap Dyana puas dengan pemandangan indah di depannya.

Lalu kemudian ia kembali berbicara, “Karena sekarang aku adalah Dyana adik tingkat kamu. Berarti aku ada kesempatan untuk jadi pacar kamu kan?” tanya Dyana menggoda Daffinhanya di balas senyuman manis dari Daffin.

https://pin.it/6jYKfEN

https://pin.it/5yJQFQ8

SELESAI

 

By : Arneta Tiana Errela

Link : amikom.ac.id