Dark Places: Mencari Uang dari Kisah Pahit di Masa Kecil

Dark Places: Mencari Uang dari Kisah Pahit di Masa Kecil

Kemunculan pertama kali nama penulis Gillian Flynn pada daftar penulis novel bertema misteri yang saya ketahui adalah sejak terbitnya buku berjudul ‘Gone Girl,’ pada tahun 2014 dan sukses diangkat ke layar lebar pada tahun yang sama. Buku karyanya itu berhasil dinilai sebanyak 4.1 dari 5 pada laman goodreads.com, sebuah situs jejaring sosial para pembaca dan penggemar buku. Filmnya yang dibintangi Ben Affleck, aktor pemeran utama Batman pada film sekuelnya; Batman Vs. Superman: Dawn of Justice, Suicide Squad, dan Justice League ini pun dinilai 87% dari 100% di situs rottentomatoes.com, sebuah situs asal Amerika Serikat berisikan kumpulan ulasan film dan serial televisi. Kesuksesan buku dan film-nya secara bersamaan tersebut mengantarkan ketertarikan saya untuk menikmati karyanya yang lain. Melalui novel berjudul ‘Dark Places’ (terjemahan: Tempat Gelap), Saya menemukan keseruan yang sama mengikuti setiap cerita dalam buku ini sampai akhir.

Novel sebanyak 349 halaman ini nyatanya muncul lebih dulu pada tahun 2009, sebelum novel ‘Gone Girl.’ Penulis masih menyuguhkan cerita dengan genre: mystery, thriller, dan crime. Ceritanya pun pernah diangkat ke layar lebar pada tahun 2015, setelah kemunculan film ‘Gone Girl’, namun tidak mendapatkan penilaian yang memuaskan dari para kritikus film maupun situs ulasan film. Nilai yang dikutip pada situs rottentomatoes.com, hanya 24%.

Cerita bermula dari seorang wanita muda bernama Libby Day, usia 23 tahun, berhasil bertahan hidup akibat belas kasihan masyarakat terhadap masa kecilnya yang tragis di Kinnakee, Kansas. Libby Day muda pada usia 8 tahun merupakan saksi pembantaian atas 3 anggota keluarganya: Ibu dan kedua kakak perempuannya, yang dibunuh oleh kakak lelakinya, Ben Day. Libby Day lah saksi yang mengakibatkan penahanan kakak lelakinya atas pembunuhan keluarganya. Dia membiayai hidupnya dari tabungan hasil pengumpulan tunjangan hak cipta atas buku yang mengisahkan pembunuhan dalam keluarganya. Karena tabungannya menipis, Libby Day mencari cara untuk mendapatkan uang. Kamu jangan menebaknya dengan mencari kerja, karena pada novel ini Libby Day dikisahkan tidak pernah berusaha untuk mencari kerja. Caranya mencari uang adalah dengan memanfaatkan kisah tragis masa kecilnya itu.

Dark Places: Mencari Uang dari Kisah Pahit di Masa Kecil

Buku Dark Places karya Gillian Flynn. *sumber foto: pinterest

Suatu hari, Libby Day bertemu dengan pria dari sebuah komunitas rahasia ‘Klub Pembunuhan,’ yang membahas secara mendalam kasus-kasus pembunuhan terkenal dari beragam tahun dan tempat, bernama Lyle Wirth. Lyle dan klubnya menduga Ben Day tidak bersalah karena banyak kejanggalan dalam pembunuhan yang disebut ritual penyembahan setan. Pada tahun 1985, tahun dimana tragedi tersebut terjadi memang dikisahkan sedang populernya aliran para penyembah setan. Singkat cerita, Libby Day bersedia menguak kembali kisah tragis masa kecilnya itu demi menyelamatkan hidupnya di masa kini.

Dalam perjalanan masa lalunya itu, Ia menemukan banyak hal yang Ia tidak ketahui ketika bersaksi untuk menjebloskan Ben ke penjara. Bermula dari pertemuannya dengan Krissi Cates, seorang wanita yang 5 tahun lebih tua darinya, dilanjutkan pertemuan pertama kalinya setelah 15 tahun dengan Ben Day. Berkas-berkas mengenai pembunuhan keluarganya akan lenyap dalam waktu 3 minggu ke depan, sehingga Libby berpacu dengan waktu menggali masa lalu dan mulai merasa keraguan atas kesaksiannya di masa lalu. Pertemuannya dengan anggota keluarga lainnya seperti ayahnya, Ronald (Runner) Day yang ternyata memiliki sejumlah hutang dengan teman Ben, Trey Teepano, dan fakta mengejutkan lainnya hadir seiring cerita dalam novel berjalan.

Aku tidak akan mengantarkan sejumlah kisah lainnya ke kamu, karena mengetahui akhir cerita dari sebuah novel akan sangat mengganggu. Di akhir cerita, aku jamin kamu yang membacanya akan cukup terkaget dengan kebenarannya. Aku pribadi berpendapat akhir kisah tersebut cukup, tapi tidak se-surprised akhir dari kisah pada novel ‘Gone Girl.’

Bagi kamu yang ingin membaca novel ini, kamu harus sabar dan giat membacanya (karena cukup tebal juga). Alur cerita dibuat maju-mundur, sehingga kamu yang tidak terbiasa (begitupun dengan aku), akan merasakan kejemuan ketika membacanya. Akibat alur yang dibuat maju-mundur, sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang campuran antara sudut pandang orang pertama pelaku utama dan sudut pandang orang pertama pelaku sampingan. Untuk mendapatkan puncak kepuasan dari membaca novel misteri, yaitu saat kebenaran yang terkuak dan penjelasan menyeluruh, aku harus menghabiskan sekitar dua minggu untuk membacanya.

Film ‘Dark Places’ tidak bisa membawa perasaan yang aku rasakan ketika membaca bukunya. Meskipun penuturan penulis di dalam novelnya begitu detail, namun ketika ceritanya diangkat ke layar lebar memang akan menjadi singkat. Film yang berdurasi 114 menit ini nampak banyak menghilangkan detail pada novel, sehingga tidak menghadirkan rasa yang cukup. Selain itu, pemilihan aktor dan aktris terasa kurang, pemilihan latar tempat juga terasa kurang dan sinematografi yang dirasa belum pas. Tidak salahnya kamu mencoba membaca novelnya terlebih dahulu untuk memahami apa yang aku maksud pada filmnya.

Dark Places: Mencari Uang dari Kisah Pahit di Masa Kecil

Poster film Dark Places. *sumber foto: MRQE

 

*diulas oleh Aliva Rachma, Anggota YOT Bandung batch 5