Kekurangan Jurusan Psikologi yang Perlu Kamu Ketahui

Kekurangan jurusan psikologi

Lembaga pemeringkatan Webometrics telah merilis peringkat kampus terbaik di dunia. Di Indonesia sendiri terdapat 2.624 kampus yang masuk dalam peringkat Webometrics, termasuk kampus berbasis Institut Seni.
Dalam pemeringkatan ini, Webometrics melakukan penilaian berdasarkan aspek kehadiran dan visibilitas web sebagai indikator kinerja global sebuah universitas.

Indikator-indikator tersebut memperhitungkan komitmen dalam mengajar, berbagai hasil penelitian, the perceived international prestige, hubungan dengan komunitas termasuk sektor industri, dan ekonomi dari universitas.

Webometrics menerbitkan ranking web dari universitas di dunia setiap enam bulan sekali, yakni pada edisi Januari dan Juli.
Berdasarkan data yang dirilis hingga Juli 2022, berikut ini sederet Institut Seni terbaik di Indonesia yang masuk Webometrics 2022.

 

1. Jika kamu bukan people-person, psikologi mungkin bukan untukmu

Psikologi itu ilmu yang people-oriented banget. Artinya, hampir semua peluang kerja lulusan Psikologi melibatkan banyak sekali interaksi dan kolaborasi dengan orang lain. Contoh paling umum adalah profesi konselor dan psikolog. Seorang konselor atau psikolog menghabiskan sebagian besar waktu mereka dengan orang lain, baik itu menangani klien secara langsung ataupun berdiskusi dengan rekan kerja sesama terapis.

 

2. Lebih suka hal-hal praktikal? Pikir-pikir lagi sebelum masuk jurusan Psikologi 

Hampir semua yang dipelajari di S1 Psikologi itu sifatnya teoritikal. Contohnya, di S1 Psikologi kamu akan belajar tentang topik depresi, namun hal itu masih sebatas definisi, macam-macamnya, dan jenis-jenis terapinya saja. Lulus dari S1 Psikologi, kamu belum punya pengalaman menangani seseorang yang memiliki gangguan depresi, dan tentunya kamu tidak bisa langsung terjun ke dunia praktik dimana kamu bisa menangani klien secara langsung.

 

Baca Juga:

 

3. Seringkali sekolah S1 saja tidak cukup

Tentu kamu bisa mendapat pekerjaan yang layak dengan lulusan S1 Psikologi. Dengan sarjana Psikologi (S.Psi), kamu bisa bekerja di instansi yang memberikan layanan psikologis sebagai terapis, content specialist, penulis lepas, dan lainnya. Kamu juga bisa menjadi HR (Human Resources) di perusahaan-perusahaan rintisan.

Namun, jika kamu menginginkan prospek kerja yang lebih baik dan bayaran yang lebih tinggi, kamu membutuhkan S2 atau S3. Umumnya, pekerjaan seperti psikolog organisasi, psikolog sekolah dan psikolog kesehatan membutuhkan S2. Untuk menjadi psikolog klinis yang menangani orang-orang dengan gangguan mental seperti depresi, kecemasan dan lainnya, tidak hanya S2 yang kamu butuhkan namun juga masa magang yang membutuhkan waktu dua tahun.

 

4. Menjadi konselor, psikolog, dan terapis rawan burnout

Tentu saja burnout bisa dialami siapapun terlepas pekerjaan mereka. Namun sebagai seorang konselor, psikolog, atau terapis yang kesehariannya menangani permasalahan hidup orang lain, burnout jadi lebih memungkinkan. Tidak hanya beban hidup sendiri yang harus dipikul seorang psikolog, namun juga beban hidup orang lain yang ditanganinya sehari-hari. Selain itu, pekerjaan psikolog juga tidak luput dari hal-hal administratif yang harus dikerjakan sebelum tenggat waktu tertentu.

Maka dari itu, pekerjaan sebagai konselor, psikolog, maupun terapis membutuhkan keterampilan manajemen stres dan pengelolaan emosi yang baik. Meskipun ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan ini, masuk ke jurusan psikologi dan bercita-cita menjadi psikolog mungkin bukan hal yang bijak dilakukan jika kamu merasa tidak bisa mengatasi situasi-situasi yang menguras emosimu sehari-hari.

 

Baca Juga:

 

Butuh Inspirasi?

Jika kamu ingin mendapatkan informasi dan motivasi lainnya, bisa kunjungi konten tentang self development, tips karir, dan masih banyak lagi hanya di Youtube Young On Top di bawah ini.