Kompetisi Semakin Ketat, Mana yang Lebih Baik: “Work Smart” atau “Work Hard”?

Dunia kerja ibarat sebuah kompetisi. Tiap orang berlomba-lomba dalam memperoleh pekerjaan. Ada seleksi ketat yang harus dilalui sebelumnya, both diambil dari kompetensi dan performance terbaik oleh masing-masing kandidat. Sama halnya dalam komunitas atau organisasi, mencari anggota bukanlah perkara mudah. Pendaftar diseleksi sesuai dengan visi dan misi komunitas atau organisasi. Tidak bisa sembarangan, karena hanya member berkompeten dan berkomitmen yang bisa mengantarkan komunitas atau organisasi tersebut ke level yang lebih baik.

Lantas, jika sudah terpilih dan bergabung di tempat kerja atau komunitas yang diinginkan, apakah boleh seorang karyawan atau anggota kehilangan performa terbaiknya?

Jawabannya tidak boleh. Sesudah bekerja pun para pekerja dituntut berkinerja baik. Faktor ini pula yang melatarbelakangi dunia kerja (pemerintah atau swasta) menerapkan sistem punishment dan reward.

Untuk kasus ini, salah satu value yang bisa diterapkan dari buku Young On Top Updated: 40 Kunci Sukses di Usia Muda adalah Just Perform. Mengapa demikian?

Just perform well maksudnya adalah kamu mempunyai tugas untuk selalu memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuan kamu di setiap kesempatan. Cobalah untuk mengingat alasan mengapa dulu kamu apply disini. Tentu untuk sebuah perubahan dirimu yang lebih baik. Oleh karena itu, sebaiknya kamu berusaha untuk menunjukkan performa yang baik, misalnya dengan tidak sekedar memenuhi job desc, tapi menjadikan job desc sebagai syarat minimal.

Intinya bukan seberapa besar kontribusi kamu tetapi seberapa besar usaha untuk memberikan sesuatu yang lebih. Menurut Billy Boen, nggak cukup hanya work smart, namun juga harus diiringi dengan kerja keras. Mulai melakukan sesuatu yang baik untuk diri kamu (just perform and do the best).

Mana yang lebih baik: Work Smart atau Work Hard?

Work hard banyak dianggap sebagai kunci untuk meraih keinginan kita. Memang benar adanya karena kerja keras tidak akan mengkhianati hasil akhir. Di sisi lain, dalam pengambilan keputusan kamu sebaiknya menggunakan sistem work smart. Work smart membuat kamu bisa menyimpan energi lebih. Katakanlah kalau di YOT kota, tiap anggotanya berusaha dan bekerja keras untuk create an event yang berkualitas dan menarik animo pemuda di kota tersebut. Namun, apabila ada kendala dalam pengerjaan event, kami tidak lantas menggunakan sisi emosional dan justru berfikir dengan kepala dingin untuk mencari solusi permasalahannya.

Kerja keras bisa diartikan sebagai sebagai hal yang berpusat pada tindakan atau motivasi yang ada dalam diri seseorang. Lalu, motivasi itu berujung kepada tindakan yang dilakukan. Mudahnya, work hard itu urusan otot sedangkan work smart berpusat pada otak. Kerja keras bicara tentang ketekunan, kerja cerdas bicara tentang kreativitas. Baik itu work hard atau work smart, kembali lagi dengan seberapa besar effort yang kamu keluarkan untuk perform well dalam menjalankan kewajiban.

Kesimpulannya, nggak rugi kok buat tampil terbaik di lingkungan kerja atau komunitasmu, justru cara ini bisa kamu andalkan untuk meningkatkan kualitas dan capability kamu. Sembari belajar hal baru, kamu bersungguh-sungguh untuk memberikan performa yang baik dan nantinya reward adalah poin plus di akhir.

 

Mau mendapatkan info bermanfaat lainnya? Yuk, gabung di FB Group Young On Top sekarang juga!

Kalian juga bisa mengikuti kegiatan kami di:

Twitter: @YoungOnTop

Facebook Fan Page: Young On Top / @youngontopYOT

Facebook Group: Young On Top

Instagram: @YoungOnTop

Website: youngontop.com

Kaskus: YOTKC.Kaskus.co.id

Youtube: Young On Top TV