Latte Factor: Ngopi untuk Tingkatkan Produktivitas Atau Bikin Boros

YOTers familiar tidak dengan diksi latte factor? Sebenarnya istilah ini sudah terdengar sejak beberapa tahun ke belakang yang dicetuskan oleh David Bach. Ia adalah seorang motivator, publik figur, sekaligus pengusaha sukses yang menulis buku dengan judul Finish Rich.

Baginya latte factor adalah istilah yang muncul dari kebiasaan manusia dalam mengonsumsi hal-hal kecil, terutama kopi. Padahal sebenarnya latte factor bikin pengeluaran konsumtif yang sedikit demi sedikit jika diakumulasikan bisa mengganggu keuangan loh.

Survei internal yang pernah dilakukan oleh salah satu bank di Indonesia menunjukkan bahwa 9 dari 10 orang mengeluarkan lebih dari Rp900 ribu untuk latte factor setiap bulannya. Ini baru pengeluaran untuk kopi, belum perjalanan menuju kantor naik transportasi umum atau beli jajanan kecil untuk menemani kita bekerja.

Memang peran kopi sangat besar dalam dunia kerja. Positifnya akan meningkatkan daya ingat, memperbaiki mood, menjaga tingkat energi sehingga saat kita bekerja pun bisa lebih fokus dan semua task beres dengan mudah. Tapi semua itu akan kalah dengan betapa buruknya keuangan kita nanti. Dampaknya memang tidak terasa sekarang namun nanti di masa tua.

Ilustrasinya:

Satu gelas kopi sehari: 50.000

Satu bulan 1.500.000

Satu tahun 18.000.000

Dua puluh tahun 360.000.000

Harusnya dalam 20 tahun kita sudah beres cicil rumah dengan uang segitu. Harusnya kita bisa membuka bisnis dengan keuntungan dua kali lipat dengan uang segitu.

Lagi pula konsumsi kopi setiap hari juga gak bagus untuk kesehatan. Coba ganti dengan minum jus buah dan sayur. Juga akan menganggu skala prioritas kita karena kecanduan minum kopi. Selain investasi uang, kita juga investasi kesehatan untuk masa tua.

Baca artikel lain di sini:

Tonton video inspiratif di sini:

Kamu ingin dapat motivasi dan inspirasi? Yuk tonton konten tentang self-development, tips karir, dan masih banyak lagi di YouTube Young On Top atau klik video di bawah ini!