Lebam Berkisah

“Aku menyukai labirin, begitu juga kegelapan tapi aku butuh cahaya”. -Arasya Berliana.

….

Ceklek-

Daun pintu terbuka lebar. Arasya tak lekas masuk, ia berdiri diambang pintu sembari memperhatikan keadaan kamarnya sembari menghela nafas panjang. Arasya Berliana seorang gadis berparas cantik dan memiliki senyum yang manis, dibalik senyumannya ada kisah terpendam dimana ia mengalami trauma yang sangat mendalam dan ditambah seorang pria yang ingin melamarnya menghilang entah kemana.

Ia mulai melangkahkan kakinya memasuki kamar dan sekelebat teringat kebersamaannya dengan Akmal Hasan.  Akmal Hasan yang sering ia panggil Mas Akmal adalah seorang pria yang dulu pernah menjadi tempat ia bersandar sementara waktu.

Seusai masuk kedalam kamar ia menutup pintu lalu menguncinya, Arsya menyeret langkahnya untuk masuk dan duduk ditepi ranjang. Sorot matanya mengarah pada sebuah pigura berukuran sedang terpajang di dinding kamarnya. Disana dirinya tengah tersenyum lebar menatap pada Akmal yang menghadap ke arahnya di tepi pantai, Kenangan yang sangat indah batinnya.

“kapan aku bisa merasakan moment-moment seperti itu lagi?”

Arasya tersenyum getir saat kenyataan menamparnya jika ia tak akan pernah bisa merasakan moment indah seperti itu bersama Akmal yang sangat ia tunggu-tunggu. Bersamaan dengan itu buliran air mata mengalir perlahan. Sungguh Arasya sangat merindukan Akmal yang tidak ada kabar sejak ia mengalami trauma itu, dan sisi lainya masih tidak terima dengan kenyataan bahwa kedua orang tuanya pun ikut meninggalkannya untuk selama nya.

“Mas, kapan pulang? Aku tau bahwa Arasyamu ini tidak sesempurna seperti wanita diluar sana, tetapi aku merindukanmu mas”.  Lirihnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari senyum Akmal yang ada di foto. Ia hanya bisa berusaha menepati janji untuk menjaga cintanya walau ada rasa dimana ia tidak bisa menerima semua perasaan semua orang atau mati rasa yang mendalam setelah Akmal mengajak berkenalan, tetapi yang bisa dirasakan adalah rasa rindu hingga saat ini. Rindu ingin mengulang waktu bahwa ia sudah mencintainya bukan belajar untuk mencintainya.

Arasya bertahan dengan kekalutan hatinya hingga berani menolak berbagi lamaran dari pria lain. Ia pun tersadar lalu menyeka air matanya yang sudah membasahi pipi dan menyudahi rasa sedihnya dengan melihat berbagai tumpukan kertas berisi nilai dari anak didiknya yang harus dimasukkan pada raport. Ia juga seorang mahasiswi universitas Islam Negeri Cerdas program studi Ekonomi syariah pada semester 4 akhir. Memang sulit  tetapi harus ikhlas karena peran  yang digeluti sudah berjalan 3 tahun terakhir ini.

Makin penasaran? Yuks ikuti cerita bersambung ‘Lebam Berkisah‘. Monggo spill alur ceritanya di kolom komentar ya rek, matursuwun.

 

Salam YOTers,

By: Aisya Dyva Rahmanita