Membudayakan Toleransi Bersama SabangMerauke

“Ibu, awas Ibu, kerusuhan sudah dekat!”

“Hah? Siapa yang bilang?”

“Orang-orang, Bu.”

“Katanya kerusuhannya ada di mana?”

“Di Ambon, Bu.”

“Kalian tahu Ambon itu jauh sekali dari sini?”

“Kerusuhannya nanti naik pesawat, Bu.”

 

Begitulah percakapan di tahun 2010 antar seorang guru dengan muridnya, dimana saat itu para murid terpapar hoaks mengenai isu suku di Indonesia. Percakapan yang menjadi titik awal refleksi bagi Ayu Kartika Dewi sang guru yang juga merupakan salah satu Co-Founder SabangMerauke untuk menanamkan dan membudayakan toleransi di Indonesia.

Kita tau kalo akhir-akhir ini Indonesia sedang diwarnai oleh berbagai isu, seperti sosial politik dan budaya yang memicu adanya perpecahan. Nah, tau gak sih kalo sebenernya berbagai isu ini bisa memicu perpecahan karena kurangnya sikap toleransi. Karena, toleransi adalah salah satu cara agar kita bisa menghargai dan menghormati satu dengan yang lainnya. Nah, sebenarnya apakah toleransi di Indonesia itu masih ada?

Dalam menanggapi sikap toleransi ini, SabangMerauke hadir unruk menanamkan nilai-nilai toleransi, pendidikan dan keindonesiaan. Salah satunya adalah melalui program pertukaran pelajar antar daerah. Terus, apa lagi sikap toleransi yang coba ditanamkan oleh SabangMerauke dan bagaimana caranya? Yuk simak obrolan seru Young On Top bersama Reynold Hamdani, Managing Director SabangMerauke.

 

Kapan SabangMerauke dibentuk?

SabangMerauke merupakan akronim dari Seribu Anak Bangsa Merantau Untuk Kembali. SabangMerauke dibentuk 28 Oktober 2012 dan program pertama kami dimulai di tahun 2013.

Membudayakan Toleransi Bersama SabangMerauke

SabangMerauke berdiri untuk merawat toleransi.

 

Apa Latar Belakang Berdirinya SabangMerauke?

SabangMerauke berangkat dari sepenggal kisah tentang murid-muridnya yang tersulut berita hoaks tersebut menjadi sebuah titik awal refleksi bagi Ayu Kartika Dewi, salah satu Co-Founder SabangMerauke saat menjadi guru SD di Maluku Utara pada tahun 2010. Saat itu Ayu tinggal di desa yang seluruhnya dihuni oleh orang Islam. Karena anak-anak itu tidak pernah bertemu dan berinteraksi dengan orang yang bukan beragama Islam, maka mereka menjadi mudah curiga terhadap orang lain di luar lingkaran mereka. Respon anak-anak yang takut dan benci pada orang Kristen menjadi sebuah tanda warisan konflik yang sebenarnya belum sepenuhnya selesai.

 

Apa Saja Kegiatan dari SabangMerauke?

Kami memiliki berbagai program, yakni:

  • Program Pertukaran Pelajar

SabangMerauke adalah program pertukaran yang mengajak pelajar SMP dan sederajat dari berbagai penjuru daerah di Indonesia untuk tinggal bersama keluarga yang berbeda agama dan atau etnis. Program ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi. Selama tiga minggu, para peserta akan berinteraksi secara intensif dengan keluarga dan teman-teman baru dari beragam latar belakang agama dan budaya. Selain itu, peserta juga akan terlibat aktif dalam berbagai aktivitas positif, seperti berkunjung ke berbagai rumah ibadah, bermain bersama anak-anak disabilitas, berdiskusi dengan para pemimpin publik dan perusahaan dan lain-lain. Dalam momen inilah peserta akan mendapatkan pengalaman merayakan keberagaman identitas sebagai masyarakat Indonesia.

  • Temu Toleran

Forum obrolan ringan yang membahas tentang refleksi dari sebuah perayaan hari besar keagamaan dan kepercayaan di Indonesia, dengan menghadirkan narasumber dari perwakilan masyarakat lintas agama dan kepercayaan.

  • Diversity Dinner

Acara makan malam informal untuk membangun jejaring antara tokoh agama dan berbagai komunitas dengan cara mendiskusikan tema-tema toleransi dalam kehidupan masyarakat.

  • Ask Me Anything

Sebuah sesi diskusi informal dengan metode ‘world café’ yang memberi kesempatan kepada audiens untuk bertanya apa saja tentang agama yang diakui di Indonesia (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu) kepada teman-teman yang berasal dari agama-agama tersebut.

  • Buku Cerita Anak

SabangMerauke memproduksi buku cerita bergambar untuk anak dalam bentuk fabel. Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi berdasarkan pengalaman Adik, Kakak, dan Famili SabangMerauke selama program berlangsung.

Membudayakan Toleransi Bersama SabangMerauke

Salah satu cara merawat toleransi adalah dengan menghargai perbedaan

 

Kenapa Toleransi Jadi Fokus SabangMerauke, Memangnya Ada Apa dengan Fakta Toleransi di Indonesia?

The Wahid Institute menyatakan bahwa dalam empat tahun terakhir, kasus intoleransi di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun (Duhita, 2018). Setara Institute mencatat adanya 109 peristiwa terkait intoleransi yang terjadi di 23 provinsi di Indonesia selama bulan Januari sampai Juni 2018 (Naipospos, 2018). Pelaku intoleransi berasal dari berbagai kelompok masyarakat termasuk anak muda (Maarif Institute, 2018). Fakta tersebut membuktikan bahwa pemahaman masyarakat khususnya pelajar terhadap nilai-nilai toleransi, keberagaman dan perdamaian yang terkandung dalam semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika masih berada di permukaan saja

Mengapa SabangMerauke percaya dan toleransi menjadi fokus, seperti yang dijelaskan oleh Berger dalam bukunya bahwa menumbuhkan sikap toleransi dan menurunkan prasangka harus dengan membuka ruang interaksi positif antara kelompok dan individu yang berbeda. Sehingga untuk menciptakan toleransi harus diupayakan.

 

Bagaimana Menanamkan Sikap Toleransi Menurut SabangMerauke?

Diharapkan, generasi muda Indonesia tumbuh dengan mampu berpikir kritis agar dapat menerima sudut pandang yang berbeda, mampu mempromosikan toleransi dalam kegiatan ekskul, OSIS, lingkungan ibadah, media sosialnya dan lain-lain serta mampu memimpin dengan mempertimbangkan pandangan yang berbeda dalam memecahkan masalah

Membudayakan Toleransi Bersama SabangMerauke

Sikap toleransi harus diajarkan sejak dini.

 

Apa Saja Nilai-nilai Toleransi yang Perlu Kita Ketahui?

Ada lima nilai toleransi yang harus kita ketahui bersama, yakni:

  1. Menciptakan lebih banyak kebaikan dan kerukunan antarumat beragama dalam lingkungan sekitar kita supaya setiap kita bisa jadi pribadi yang tumbuh empati
  2. Mempererat hubungan antara individu atau kelompok, tidak mudah berprasangka atau menghakimi orang
  3. Meningkatkan rasa kebersamaan dan persaudaraan. Cari teman-teman yang banyak dan lebih beragam

 

Apa Makna Toleransi Menurut SabangMerauke?

Karena toleransi tidak dapat hanya diajarkan di dalam buku pelajaran PKN, tapi toleransi harus dialami dan dirasakan.

Membudayakan Toleransi Bersama SabangMerauke

Toleransi harus dialami dan dirasakan.

 

Sikap Toleransi Itu Sebenernya Bisa Dibangun Sejak Kapan?

Sejak dini. Pentingnya bagi anak untuk memiliki kegiatan lain yang mengharuskan dirinya untuk bertemu dengan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda dan hal ini yang membuat mereka tidak terombang-ambing. Lebih banyak membuat ruang interaksi positif antara kelompok dan individu yang berbeda. Karena perdamaian harus diupayakan.

 

Sikap Toleransi Sederhana yang Sering Banyak Dilupakan Orang-orang Itu Apa Aja?

Stereotyping, kita secara gak sadar suka ngomong, eh…orang Padang itu pelit ya, mirip sama orang Cina. Kalo orang Sunda mata duitan dan berbagai stereotyping lainnya.

 

Bagaimana Cara Merawat Nilai Toleransi?

Ada berbagai cara yang bisa kita lakukan untuk merawat nilai toleransi, yaitu:

  1. Kita harus punya pemahaman dan pengalaman yang positif tentang perbedaan agama, suku dan budaya, serta mampu menghargai dan toleransi melalui pendidikan karakter yang harusnya sudah ditanamkan sejak dini oleh keluarga
  2. Perlu banyak ngobrol atau punya temen sama orang yg berbeda sama kita, sehingga bisa membantu mengklarifikasi jika ada pemahaman yang keliru
  3. Diskusi tentang kejadian yang terjadi (kaitannya dengan intoleransi). Kemudian kita bisa berdiskusi dimana seharusnya kita bersikap toleran dalam kejadian atau cerita tersebut. Ajak diri kita atau lingkungan untuk momen merefleksikan diri.

Membudayakan Toleransi Bersama SabangMerauke

Membudayakan toleransi bersama SabangMerauke

 

Pesan untuk Anak Muda Mengenai Toleransi?

Mari bersama-sama kita merawat toleransi, karena perdamaian perlu diupayakan. Kita jaga Indonesia.

 

Membudayakan Toleransi Bersama SabangMerauke

Reynold Hamdani, Managing Director SabangMerauke

Nah itu dia obrolan seru Young On Top bareng Reynold Hamdani, Managing Director SabangMerauke. Poin penting yang bisa kita ambil adalah kita harus bersama-sama merawat toleransi sebagai salah satu upaya untuk menciptakan perdamaian dan hanya sikap toleransi yang bisa #MenyatukanINDONESIA. Sikap toleransi sederhana seperti apa yang menurut kamu harus dimiliki oleh kita sebagai warga Negara Indonesia untuk bisa #MenyatukanINDONESIA?