Mitos Produktivitas

Halo YOTers! Kalian pasti udah gak asing lagi dengan hal-hal terkait produktivitas? Mulai dari tips dan trik produktif, dopamine detox, hingga hiatus sosial media sudah banyak sekali pembahasannya. Hampir semua linimasa media sosial dalam bentuk artikel hingga video juga banyak menampilkan fakta-fakta terkait produktivitas. Nah, sekarang waktunya kita bahas mitos produktivitas, sisi lain dari produktivitas yang lebih jarang dibahas. Langsung simak mitos-mitos berikut ini, ya! 

 

  1. Fokus untuk menjadi terus produktif itu baik

Hal ini mitos karena fokus untuk menjadi produktif itu justru akan membuat kegiatan kita kurang produktif, YOTers. Hal ini disebabkan karena justru kita akan fokus terhadap tekanan “harus produktif” dibandingkan dengan tugas yang kita lakukan. Kita juga akan terus berfokus kepada target dibandingkan dengan proses yang dilalui. Saat rehat sejenak, kita merasa apa yang dilakukan kurang produktif. Waktu rehat pun jadi diselingi dengan aktivitas yang “lebih produktif”. Alih-alih makan siang saja, orang-orang dengan kebiasaan ini justru memilih makan siang sambil mendengarkan podcast atau audiobook misalnya. Padahal, tekanan untuk selalu produktif semacam ini memperbesar peluang terjadinya burn-out dan demotivasi, loh YOTers!

 

  1. Selfcare atau healing selalu diperlukan

“Bukannya healing itu memang perlu, ya?” Mari kita coba untuk cari tahu. 

Memang benar, healing dan self care itu diperlukan. Akan tetapi, tidak selalu dan perlu diseimbangkan kebutuhan pribadi masing-masing. Sebenarnya tidak ada patokan khusus untuk seseorang harus melakukan self care dan healing, karena tingkat ketahanan seseorang terhadap stress setiap orang akan berbeda-beda. Namun, yang perlu diingat adalah ada garis tipis antara menyerah dengan tujuan, moody, dengan self care. Jadi, pastikan bahwa healing-mu benar-benar dilakukan setelah kamu meraih tujuanmu ya, YOTers!

 

  1. Selalu berorientasi terhadap masa depan

Fokus terhadap suatu pencapaian untuk diraih di masa depan memang baik, YOTers. Akan tetapi, jika orientasi tersebut berlebihan justru akan menjadi masalah besar bagi kehidupan kita. Hal itu dapat menyebabkan kita kehilangan pengalaman hidup yang sebenarnya. Kita begitu terjebak dalam produktivitas untuk menuju langkah hidup kita berikutnya sehingga kita gagal mengalami apa yang kita alami saat ini. 

Oleh karena itu, sebaiknya dibanding untuk fokus menjadi produktif, coba kita fokuskan terhadap hasil yang terbaik. Self care dan healing memang perlu, tetapi bisa disesuaikan dengan kebutuhan pribadi. Jangan lupa juga untuk sejenak menjadi penonton yang menikmati pertunjukan daripada menjadi pelakon. 

Gimana YOTers, pembahasannya? Jika kalian masih melakukan mitos-mitos di atas, semoga artikel ini bisa menjadi bagian refleksi diri juga. Yuk YOTers, mulai hindari mitos-mitos produktivitas tersebut!

 

Sumber : https://www.bcheights.com/2021/11/14/the-myth-of-productivity/

Ditulis oleh : Dina Ulya Hamida

Editor : Putri Asmaridhona