Mulut Lebih Tajam Daripada Pedang

Sesungguhnya Sang Pencipta Alam Semesta mendengar semua yang kita ucapkan bahkan sampai bisikan paling halus sekalipun yang ada dalam hati manusia. Yang perlu kita lakukan adalah menjaga setiap ucapan kita supaya niatnya benar dan bisa dipertanggungjawabkan. Lebih baik berbicara dengan kata-kata yang sederhana, daripada berbicara rumit dengan maksud ingin dikagumi oleh orang lain.

Ada satu pepatah mengatakan bahwa “mulut lebih tajam daripada pedang”. Ucapan yang baik akan menimbulkan kesan yang baik. Sebaliknya, ucapan yang buruk dapat memicu permusuhan. Semoga di antara kita tidak terjadi suatu permusuhan dalam bentuk apapun. Oleh karena itu, dalam meningkatkan kadar keimanan kita serta upaya untuk semakin memperkokoh persatuan, saya akan memberikan 3 cara menjaga lisan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Mengendalikan Lisan Melalui Hati

Sebelum mengucapkan sesuatu, hendaknya kita melihat hati ini terlebih dahulu. Imam Abu Hatim Ibnu Al-Busti pernah berkata bahwa “Lisan seseorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan berbicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam.” Beliau juga mengatakan bahwa “Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya”.

  1. Hindari Berbicara Tanpa Berpikir

Sebelum berbicara kepada seseorang, hendaknya kita berfikir terlebih dahulu. Apakah ucapan yang kita sampaikan ini baik?. Lalu, apakah lawan bicara kita dapat menerima ucapan dari kita dan tidak merasa tersinggung?. Semua orang pasti memiliki pandangan yang berbeda dalam menangkap ucapan dari lawan bicaranya. Jika kita berniat untuk bercanda, maka pastikan kalimat yang kita lontarkan itu tidak menyinggung perasaan orang lain. Memang ini terlihat sepele, tetapi besar dampak yang ditimbulkannya. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”.

  1. Jauhkan Diri dari Ghibah dan Namimah

Sebagian besar orang pasti sudah mengerti apa itu ghibah. Ghibah adalah menceritakan hal-hal tentang orang lain yang tidak kita suka. Ghibah biasa disebut dengan gosip. Sedangkan namimah adalah mengatakan suatu kebohongan dengan maksud untuk merusak hubungan di antara sesama manusia. Namimah ini biasa disebut sebagai fitnah. Ghibah dapat menimbulkan terjadinya fitnah. Apabila di antara kita melakukan hal seperti ini, maka hendaknya orang lain yang berada di sekitarnya itu mengingatkan dan menyuruh orang tersebut (dalam Islam) mengucapkan istigfar. Dengan begitu, kita semua akan terhindar dari segala macam fitnah. Pasti sebagian besar dari kita sudah pernah mendengar pepatah yang satu ini bahwa “fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”. Mengapa bisa dikatakan demikian?. Fitnah dalam syariat bermakna ujian atau musibah yang bisa merusak agama seseorang. Hal ini disebut sebagai syirik. Perbuatan syirik bisa merusak total agama seseorang sehingga dapat dikatakan bahwa fitnah memang lebih bahaya atau kejam daripada pembunuhan.

 

 

Penulis: Nira Inggrafidia Sari

Sumber foto: https://pin.it/