Pemimpin: Pembunuh Karakter atau Pembangun Karakter?

Tim kamu adalah refleksi dari apa yang kamu contohkan kepada mereka. Jadi, kalau kamu mau punya tim  yang punya kinerja baik, kamu harus lebih dulu menjadi contoh bagi mereka. Bekerjalah semaksimal mungkin sehingga mereka terispirasi dari hasil kerja yang kamu lakukan. –Billy Boen

Ada sebuah kejadian yang sudah berumur kurang lebih tujuh tahun, mendatangkan trauma mendalam di dalam hidupku sampai tahun lalu. Beruntungnya aku mengenal Tuhan, kalau tidak mungkin aku sudah membalas dendamku. Tahun ini aku bersikeras untuk bangkit kembali seakan-akan kejadian tersebut  tidak pernah terjadi dalam hidupku, walaupun hal itu sulit, namun, mau bagaimanapun pilihanku hanya dua, tetap bertahan dan menyimpan dendam yang mengakibatkan aku tidak menikmati hidupku atau menganalisis permasalahan dari berbagai sisi, mencari solusinya dan belajar untuk tidak mengulanginya kembali jika aku memiliki kesalahan.

“Bu, ada Ranitidin (obat tablet untuk mengobati penyakit maag)?” Bu Linda, penjaga Apotek memberikannya, kemudian aku membayarnya dengan uang pas, lalu meninggalkan apotek tersebut menuju rumah kontrakanku.

Sesampai di rumah kontrakanku, aku langsung buru-buru menuju dapur, mengambil segelas air hangat dan meminum Ranitidin. Kemudian aku menuju kamar, meletakkan teko dan gelas yang berisi air hangat, kemudian menuju tempat tidur dan berusaha untuk tidur. Kekuatan godaan untuk menangis, kuat sekali. Ku tarik nafasku, dalam hati aku bernyanyi, tenanglah kini hatiku, Tuhan memimpin langkahku, di tiap saat dan kerja, tetap kurasa tanganNya . Lalu, ku minum secangkir air hangat, dalam hati terus aku bernyanyi sampai akhirnya aku tidur.

“Ci, bangun Ci.” Naomi, teman satu kontrakanku, sekaligus sahabatku membangunkanku. “Bagaimana tadi di komunitas?”

“Menyenangkan, Mi”. Aku tersenyum.

“Yakin? aku melihat obat Maag di atas meja makan. Kamu trauma lagi?” Kulihat wajahnya penuh kekhawatiran.

“Iya.” Aku tak mungkin bisa berbohong.

“Apa yang terjadi?” Dia memberikanku segelas air hangat yang tak hangat lagi.

“Sebenarnya, beberapa hari yang lalu, aku keluar dari komunitas, kau tahu, kan, setiap kali aku pulang dari komunitas, perutku kram, asam lambungku naik, aku tidak sanggup lagi, aku harus keluar, nyaris semua jawaban sudah ku dapatkan dari sana.” Dia mengangguk.

“Tadi, teman-teman komunitasku datang menanyakan kenapa aku tiba- tiba keluar begitu saja. Aku berbohong, aku bilang, orangtuaku tidak memberikan izin. Mereka tersenyum dan mengatakan walaupun keluar dari komunitas, jangan pernah sungkan untuk bertegur sapa, meminta bantuan, atau bertemu dengan kami semua. Kamu sudah bisa mengaitkannya dengan masa laluku, kan?” Naomi tersenyum, tiba-tiba panggilan Whatsappnya berbunyi. Dia permisi  keluar dari kamar untuk menjawab panggilan tersebut.

Aku memasuki sebuah komunitas bernama Young on Top. Awalnya hanya untuk mencari jawaban dari komunitas masa laluku yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Permasalahanku pada komunitas masa laluku adalah sakit hati akibat secara tidak langsung orangtuaku tersinggung. Sebenarnya lebih dari tersinggung, namun, aku tak menemukan kata yang lebih tepat dan lebih lembut dari kata tersinggung. Otomatis, aku sakit hati karena orangtuaku sakit hati.  Bertahun-tahun aku di dalam komunitas tersebut, dimulai dari masa kanak-kanak sampai masalah itu muncul ketika aku duduk di kelas dua belas, di situasi berbagai ujian menanti, sampai aku berjanji, jika aku tidak lulus perguruan tinggi negeri atau kedinasan, akan ada sesuatu yang mengejutkan untuk beliau, yang kupastikan karirnya, selesai! Aku punya banyak koneksi, yang bisa mematikan karirnya dan juga tulisan-tulisanku.

Mengapa aku bisa sakit hati, terlebih orangtuaku? Begini kejadian tujuh  tahun yang lalu.

“Sudahlah, kamu keluar saja dari komunitas itu. Papa dan Mama sakit hati. Dia tidak menghargai Papa dan Mama. Mau dia saja dihargai? Mentang-mentang dia lulusan luar negeri. Kalau kalimat kasarnya, dia itu kita bayar supaya kamu terdidik. Nyatanya, dia tidak menunjukkan sikap pendidik yang baik. Begitu kualitas tamatan luar negeri? Juga, tanpa kalian, memangnya komunitas itu bisa berjalan lancar?!”  pada hari itu aku masih polos. Aku menangis sepanjang hari merasa bahwa keputusan aku, mama dan papa itu salah. Aku sayang sama komunitasku. Aku sayang sama semua kenangan yang sudah kami lewati. Suka dan duka, bagaimana awal kami merintisnya. Semua itu terngiang  sepanjang sehari, dua hari, seminggu, sebulan, berbulan-bulan, sampai mengganggu aktivitasku, berusaha mati-matian aku konsentrasi di sekolahku, di tempat bimbingan belajar, sampai aku merasa itu sudah tidak benar lagi dan satu-satunya menenangkanku untuk sementara pada saat itu adalah dekat dengan Tuhan karena pada saat itu tidak ada yang mengerti apa yang kurasakan dan aku tidak bisa memaksakan orang lain untuk mengerti apa yang aku rasakan. Sejalan dengan itu semua, tidak ada sedikitpun beliau menanyakan keberadaanku secara langsung.

Mungkin, bisa jadi kamu membaca kisahku ini berpikir bahwa aku mendramatisir kejadian yang sebenarnya praktis untuk diselesaikan. Ada dua pilihan yang mungkin akan kamu tawarkan untuk menyelesaikan masalah ini, pertama lupakan saja, toh juga bukan saudara, kan? kedua tinggal berkomunikasi selesai. Jika kamu menawarkan kedua pilihan tersebut, ada dua jawaban yang akan aku katakan padamu. Jawaban untuk pilihan pertama adalah aku menganggap dia sebagai keluarga karena ucapan syukurku sama Tuhan, masa kecilku hingga remaja kuhabiskan waktuku untuk sesuatu yang positif dan aku serta kedua orangtuaku mempercayakan dia mendidikku dari kecil sampai remaja, ternyata sisi buruk dia terpampang pada saat itu, jujur saja kami patah hati. Jawaban untuk pilihan kedua, salah satu sifat buruknya adalah ketika dia menutup telinga dengan apapun yang dikatakan oleh orang yang tidak selevel dengan belia. Dalam hal ini, gelar yang di dapatkannya dari luar negeri adalah bentuk strata yang diciptakannya untuk menghirarki orang-orang yang beliau temui. Jika aku meminta maaf padanya, aku mau saja, tapi karena aku bukan tipikal pembenci pada saat emosiku sudah bisa ku atasi, yang terjadi adalah tidak ada pesan moral dari kejadian yang kami alami.

Aku percaya, konflik bukan masalah menang atau kalah tapi konflik tercipta sebagai refleksi  dan pembelajaran untuk memperbaiki kualitas masing-masing kedua belah pihak yang berkonflik. Itu mengapa, ketika beliau tersenyum padaku seakan-akan tidak ada masalah, aku sinis melihatnya. Aku berharap, beliau yang memiliki gelar dari luar negeri, mengerti bahwa yang aku butuhkan adalah berdiskusi bukan senyum basa-basi.

“Kami tidak mengharapkan kamu untuk menjadi orang kaya kedepannya. Tetapi kami mengharapkanmu apapun yang bisa kamu lakukan untuk menolong orang-orang, lakukanlah. Jangan menunggu kamu bekerja, jangan menunggu kamu kaya dulu. Doa kami untukmu dan mungkin juga doamu untukmu adalah agar kamu bisa berguna bagi Tuhan dan sesama.” pesan orangtuaku kelihatannya sederhana, tetapi dalam proses pengerjaannya tidak demikian. Jujur saja, yang selalu mempersiapkan keperluan aku di setiap kegiatan komunitas aku terdahulu adalah orangtuaku dan yang paling rajin untuk mengikuti kegiatan tersebut adalah orangtuaku, di situasi tersebut ketika aku banyak alasan untuk mengikuti komunitas tersebut, tak ada alasan untuk malas pergi ke komunitas, mama dan papa tegas dalam kedisiplinan sehingga ku sebut kedua orangtuaku yang lebih rajin dariku. Ketika mereka tersinggung, itu lebih parah dari aku yang tersinggung, dan kami melihat dan bisa membuktikan bahwa ada permainan kotor dari komunitas tersebut, jalan satu-satunya adalah keluar dengan tidak hormat.

Aku menyesal? tidak. Banyak yang aku pelajari dan menjadi refleksiku setelah kejadian tersebut berlalu dan kudoakan suatu saat beliau juga sadar dengan kejadian kami dan belajar dari setiap kesalahan agar kualitasnya meningkat.

Begitulah kejadian beberapa tahun yang lalu.

Aku kembali ke komunitas Young on Top. Aku merasa bersalah karena berbohong. Aku ceritakan apa yang kurasakan kepada teman-teman komunitasku, mereka mengerti.

Kemudian…

“Ci, Yuk ikut kompetisi menulis Young on Top, membuat tulisan dari value Young on Top, selebihnya kamu bacalah peraturannya di website Young on Top.”

Aku penasaran lalu membukanya. Kemudian, sebelum memulai menulis, aku membaca buku Young on Top Updated dan menemukan dari halaman yang memuat ‘sukses bukan urut kacang’ sampai 40 kunci sukses di usia muda adalah jawaban dari permasalahanku selama ini. Aku terharu. Isi bukunya benar-benar menyadarkanku untuk bangkit kembali dan memaafkan kejadian masa laluku.

Kubayangkan, seandainya aku memilih untuk balas dendam, usaha papa yang akan aku jalankan ke depannya akan kupimpin dengan gaya diktator, mengikuti gaya beliau yang memimpinku di komunitasku di masa lalu. Aku ingin pekerja-pekerjaku merasakan apa yang dirasakan olehku. Bersyukur, ini tidak terjadi. Kalau hal ini terjadi, selain membunuh karakter individu para pekerja, mereka bisa saja menyalurkan hal negatif juga kepada aku sebagai pemimpin, kepada perusahaan dan orang-orang sekitar bahkan bisa saja pelanggan merasakan adanya ketidaknyamanan dari usaha papa lewat pelayanan maupun produk-produk yang kami hasilkan, sehingga usaha papa tidak diberkati untuk memberkati.

Sekarang, aku mulai optimis mempersiapkan diriku untuk memimpin usaha papaku. Perusahaan adalah keluarga. Perusahaan yang sehat bukan hanya karena keuntungan melimpah ruah tapi memastikan bahwa perusahaan bisa memanusiakan-manusia adalah yang paling utama. Sehingga, tegas dan ramah atau dengan kata lain logika dan hati bermain di dalamnya untuk kebaikan bersama.

Sekarang, segala usaha yang aku lakukan adalah untuk Tuhan. Tuhan adalah motivasiku tidak lagi balas dendam, karena Dia baik. Sehingga,  sebagai ungkapan syukurku karena diberikan masalah untuk bisa aku pelajari, aku memilih untuk belajar dan membagikan apa yang aku pelajari kepada orang lain. Walaupun, proses belajar tidaklah instan, aku percaya, hasilnya adalah rancangan terindah dariNya yang tidak akan pernah mengecewakan.

Sekarang, definisi  komunitas bagiku adalah tempat untuk belajar menjadi manusia yang berguna bagi Tuhan dan sesama. Suka dan duka pasti ada di dalamnya. Harus dilewati sebagai bentuk pembelajaran. Kupercayakan komunitas Young on Top memimpin langkahku.