RAMAI DIPERBICANGKAN, PRIVILEGE JALAN MENUJU KESUKSESAN?

Jagat dunia maya ramai memperbincangkan tentang privilege beberapa tahun belakangan. Sebelumnya, kita mengetahui hanya sebatas “si A orang tuanya kaya, pantas saja sepatunya ganti setiap bulan.” atau “anak B cantik, wajar karena B dan suaminya pun cantik dan tampan.”, tanpa menyadari bahwa ternyata kekayaan dan paras yang rupawan adalah sebuah privilege. Privilege adalah hak istimewa yang dimiliki seseorang untuk kehidupan sosialnya. Privilege disebut-sebut sebagai alasan utama seseorang sukses dalam hal duniawi, seperti karier, pekerjaan, hingga percintaan. Lantas, benarkah semua itu?

Privilege diindikasikan oleh banyak hal, namun banyak yang menganggap bahwa privilege hanya sebatas materi dan silsilah keluarga. Komika, artis, dan penulis, Ernest Prakasa pernah bercuit di media sosial Twitter-nya yang mengatakan “Ada banyak orang “sukses” yang berbagi “inspirasi”, tapi lupa menceritakan peranan harta dan koneksi orang tua di dalam perjalanan mereka.”. Cuitan tersebut pun disukai sebanyak 37.5rb orang dan dikomentari oleh lebih dari 600 orang. Banyak yang menceritakan tentang orang di sekitarnya yang “berhasil” berkat bantuan privilege yang dimilikinya. Tak sedikit juga yang menyayangkan bahwa orang yang tidak memiliki privilege—dalam hal ini adalah hak istimewa berupa materi dan fisik—maka harus berusaha lebih keras untuk meraih kesuksesan.

Banyak penulis, pengusaha, dan motivator yang menjual ludah dengan kalimat-kalimat inspiratif tentang kesuksesan dan usahanya. Namun, tentu saja kita tak dapat menelan kalimat tersebut mentah-mentah, karena banyak juga dari mereka yang lupa menceritakan tentang privilege yang dimilikinya. Menjadi pengusaha di usia muda, kemudian diundang dalam seminar motivasi, tentu hanya akan menceritakan bagian pahitnya saja. Tanpa kita ketahui juga sebenarnya mereka mendapatkan modal dari orang tuanya atau meminjam uang dengan jaminan harta orang tuanya. Jadi, saat “jatuh” pun mereka masih berada di atas bintang-bintang. Jika orang yang tak memiliki privilege berupa harta dan modal untuk membuka usaha, maka saat usahanya mengalami kegagalan, tentu hanya akan membuahkan lilitan utang dan juga keputusasaan.

source:  Google/Kompasiana.com

 

Belum lagi, fenomena kemiskinan struktural pun menjadi alasan bagi para warganet untuk mengeluhkan nasibnya yang tidak mudah untuk mendapatkan kesuksesan versinya. Muhadjir Effendy, Menko PMK RI pernah berkata, “Sesama keluarga miskin besanan, maka akan lahir keluarga miskin baru.” Kalimat tersebut pernah menjadi perbincangan di jagat Twitter. Perkataannya yang nyelekit dan pahit itu merupakan fakta yang benar adanya. Sebuah keluarga yang memiliki garis perekonomian menengah ke bawah tentu akan mengalami kesulitan untuk meraih kesempatan mengakses sesuatu yang dapat mengantarnya keluar dari garis kemiskinan. Setiap manusia memang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan segala hal. Akan tetapi, karena privilege yang dimiliki, garis mulai seseorang untuk mencapai sesuatu pun berbeda. Jika orang yang tak memiliki privilege memulai sesuatu dari nol per seratus, maka mereka yang memiliki privilege pun bisa memulai sesuatu dari tiga puluh per seratus. Ini merupakan perbedaan signifikan yang mendasar bagi yang memiliki privilege dan yang tidak.

Lalu, apakah privilege adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan? Maka jawabannya adalah tidak. Bentuk privilege yang tadi dibahas penulis memang privilege berupa materi atau kekayaan. Tapi perlu diingat juga bahwa bentuk privilege bukan hanya kekayaan, melainkan memiliki keluarga yang harmonis, pergaulan yang baik, hingga lahir dan hidup dengan sehat juga merupakan hak istimewa yang dimiliki oleh lebih banyak orang. Kesuksesan juga bukan hanya diraih oleh kekayaan semata, namun juga daya juang yang tinggi dari seseorang. Jika orang itu memiliki privilege kekayaan, bukan berarti ia juga akan sama suksesnya dengan orang tuanya jika ia tak memiliki daya juang yang tinggi. Kita juga harus mensyukuri apa pun nasib baik yang kita terima, sekalipun itu kesempatan untuk melihat, mendengar, berbicara, bahkan bernapas. Tak semua orang seberuntung kita untuk mendapatkan nikmat tersebut. Pada dasarnya, manusia dilahirkan pun merupakan sebuah privilege, jadi, mari kita berhenti menyalahkan keadaan, dan mulai fokus terhadap kelebihan yang kita miliki.

Penulis : Putri Setya Ningrum – Director Program YOT Depok Batch 7