Stress itu Wajar, Tapi Juga Gak Boleh Dibiarkan. Ini Berbagai Dampaknya!

Stress itu Wajar, Tapi Juga Gak Boleh Dibiarkan. Ini Berbagai Dampaknya!

Hai YOTers, tau gak kalo hari ini, tepatnya tanggal 10 Oktober diperingati sebagai World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Pertama kalinya Hari Kesehatan Jiwa Sedunia diperingati pada tahun 1992 oleh Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (WFMH) yang bertujuan untuk mengadvokasi kesehatan jiwa dan mendidik masyarakat tentang isu-isu mengenai kesehatan jiwa. Tahun ini, Hari Kesehatan Jiwa mengangkat tema Mental Health Promotion and Suicide Prevention sebagai upaya pencegahan bunuh diri. Mengutip dari WHO, hampir 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya, yang berarti satu orang meninggal setiap 40 detik.

Penyebab bunuh diri yang paling utama di masa remaja dan dewasa adalah karena depresi. Menurut Kids and Health, depresi bisa sangat berbahaya bagi remaja yang mengalami kekerasan di rumah, di sekolah serta merasa terisolasi dari teman sebayanya. Bahkan, sekitar 75% orang yang melakukan aksi bunuh diri dikarenakan menderita depresi yang berkepanjangan. Di dunia, Indonesia berada di peringkat 159 dalam hal tingkat bunuh diri di dunia pada tahun 2016.

Depresi bisa muncul karena adanya stress yang berkelanjutan. Namun, sayangnya masih banyak orang yang sulit membedakan antara stress dan depresi. Padahal, edukasi mengenai hal ini sangatlah penting untuk diketahui. Yuk kita bahas mengenai keduanya bersama Agata Ika Paskarista, Education and Clinical Child Psychology and TopKarir Klinik Expert.

 

Apa yang membedakan stress dan depresi?

Istilah stress mengacu pada tekanan atau dorongan yang ditempatkan pada tubuh, untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri. Stressor adalah sumber stress dan coping stress adalah cara seseorang untuk menyelesaikan masalah terkait stress yang dialami.

Kalau depresi, adalah gangguan mental yang lebih serius masalahnya. Karena menetap dan tidak bisa mengobati sendiri serta membutuhkan diagnosa dan terapi ahli.

 

Apa ciri-ciri stress dan depresi?

Depresi dalam DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition) masuk ke dalam jenis gangguan mood. Ada 2 jenis gangguan depresi, yaitu gangguan depresi mayor dan gangguan depresi persisten. Ciri umum dari depresi meliputi perubahan kondisi emosional, perubahan motivasi, perubahan fungsionalitas dan perilaku motorik serta perubahan kognitif. Misal: periode terpuruk, meningkat iritabilitas, merasa tidak termotivasi, perubahan berat badan dan selera makan, sulit konsentrasi dan lain-lain.

Stress memiliki tingkat tertentu dan menyebabkan keadaan berbeda-beda pada tiap individu. Ada dua jenis gejala yang diakibatkan oleh stress, yaitu psikologis dan fisik. Gejala psikologis seperti mudah tersinggung, merasa gugup dan lain-lain sedangkan gejala fisik seperti kelelahan, sakit kepala, sakit perut, tegang otot dan lain-lain.

Salah satu jenis stress, yakni distres memiliki ciri-ciri umum yang berbeda karena ada beberapa gangguan terkait stress, misal gangguan penyesuaian (adjustment disorders), gangguan stress akut (acute stress disorder), hingga gangguan stress pasca trauma (post traumatic stress disorder).

 

Wajar gak kalo kita ngerasa stress? Adakah jangka waktu stress yang masih dalam ‘batas wajar’?

Stress adalah reaksi yang wajar ketika tubuh mendapat stressor. Istilah stress harus dibedakan dari distres, yang mengacu pada kondisi terganggu atau menderita secara fisik ataupun mental, sedikit stress mungkin menyehatkan karena stress membantu kita untuk tetap aktif dan waspada. Namun perlu diwaspadai, stress berkepanjangan atau intens bisa melemahkan kemampuan seseorang dan berujung pada distres emosional seperti kecemasan atau depresi dan gangguan pada fisik misal pusing atau kelelahan.

 

Stress yang dialami anak muda kebanyakan faktornya karena apa?

Keuangan, pekerjaan, masalah keluarga, percintaan, petemanan, kuliah (quarter life crisis).

 

Kapan kita tau limit mental kita?

Batasan seseorang pasti berbeda-beda dalam menghadapi masalah, kapan kita tau limit mental kita yaitu disaat kita merasa kalau kita sudah tidak mampu menghadapi tekanan dan beban, pekerjaan dan kegiatan sehari-hari mulai terganggu, bahkan hubungan sosial sekalipun. Reaksi stress yqng bertahan dalam jangka waktu panjang dan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari harus mendapatkan perhatian lebih.

 

Ada gak sih dampak positif dari stress?

Stress merupakan kondisi normal dimana tubuh menciptakan mekanisme untuk menjaga keseimbangan. Ada beberapa jenis stress (eustress, distress, hyperstress, hypostress). Eustress adalah stress jangka pendek yang memberi kekuatan, menantang tapi dapat dikendalikan. Saat eustress menimpa seseorang, maka yang sering terjadi adalah meningkatnya produktivitas, motivasi dan lain-lain.

 

Kalo dari segi orang luar yang melihat orang terdekat kita stress, apa yang sebaiknya harus kita lakukan?

Peka, lebih perhatian, mengajak ngobrol, intinya meningkatkan empati. Tetapi yang terpenting mendengarkan, menjadi pendengar yang baik bukan sebagai hakim dan menyalahkan dia atas keadaannya.

 

Gimana cara menanggulangi stress?

Menghibur diri dengan melakukan apa yang kita suka, cari teman untuk ngobrol, meditasi, mendengarkan lagu, berdoa, menjalankan pola hidup sehat.

 

Stress itu Wajar, Tapi Juga Gak Boleh Dibiarkan. Ini Berbagai Dampaknya!

Agata Ika Paskarista, Education and Clinical Child Psychology and TopKarir Klinik Expert

Nah itu dia penjelasan mengenai stress dan depresi dari Agata Ika Paskarista, Education and Clinical Child Psychology and TopKarir Klinik Expert. Semoga penjelasan di atas bisa memberi pemahaman kepada kita mengenai perbedaan stress dan depresi serta kita bisa tau bagaimana menanggulanginya. Semangat YOTers!

1+

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *