Stop Bilang ‘Jangan Baperan’ Mulai dari Sekarang!

“Yailah gitu aja, jangan baperan dong!”

“Lu jadi orang baperan amat”

Pernah gak sih kamu dapet cibiran kayak gitu? Jujur sebenernya dalam hati sedih, tapi kamu gak enak juga buat nyampeinnya. Akhirnya kamu jadi memendamnya sendiri. Atau jangan-jangan kamu adalah salah satu orang yang suka ngomong kayak gitu ke temen kamu? Kamu harus stop kebiasaan bilang kayak gitu ya, karena itu bisa membawa dampak buruk ke psikologis orang yang kita bilang ‘baperan’.

Baper sendiri adalah singkatan dari bawa perasaan. Istilah ini muncul karena adanya latar belakang emosi dan sensitivitas seseorang. Nah di artikel ini kita bakalan ngobrolin tentang efek dari ucapan ‘jangan baperan’ bareng Agata Ika Paskarista, Education and Clinical Child Psychology and TopKarir Klinik Expert. Yuk kita simak!

 

Kenapa bisa muncul kata baper, sebenernya ada gak istilah untuk baper dalam psikologi?

Dalam psikologi sendiri ada sebutan Highly Sensitive Person (HSP) yang dikemukakan oleh Dr. Elaine Aron: The Highly Sensitive Person (1997) yaitu studi tentang sensory-processing sensitivity. Dalam buku tersebut HSP mendefinisikannya sebagai orang yang memiliki kesadaran terhadap hal-hal kecil di sekelilingnya dan lebih mudah merasa kewalahan ketika berada di lingkungan yang sangat menstimulasi inderanya.

 

Ketika lagi cerita sama orang terdekat kita, kita sering denger ‘baperan lo!’. Kalo pendapat Kak Atta tentang respon seperti itu gimana?

Kita harus lebih menjaga respon kita saat kita mendengarkan cerita orang lain, tingkatkan kemampuan untuk merespon daripada bereaksi. Reaksi dikendalikan oleh emosi, sedangkan respon oleh logika. Kita harus melihat kepribadiannya seperti apa, masalah apa yang ia hadapi dan budayanya dia berasal seperti apa. Sekalipun orang tersebut adalah orang terdekat kita sebaiknya kita lebih memilah lagi kata-kata yang akan kita ucapkan kepada orang tersebut. Karena setiap individu berbeda dalam menanggapi sesuatu, ada yang bisa menerima kata-kata orang lain dan ada yang tidak bisa menerima.

 

Apa dampak positif dan negatif dari ucapan tersebut dari sisi psikologi?

Saat kita mengatakan hal tersebut kepada orang yang sedang dalam kondisi tidak baik, sedang dalam masalah bisa saja kata ‘baper’ membuat seseorang semakin tertekan, membuat overthinking dan membuat perasaanya terluka.

Positifnya, individu yang dengan coping stress tertentu mungkin bisa menerima kata-kata baper ini sebagai hal untuk introspeksi lagi terhadap dirinya. Namun kita pun tidak akan sepenuhnya mengerti keadaan seseorang, jadi lebih baik kita menjadi pendengar yang baik, bisa menempatkan diri  bagaimana rasanya kita berada di situasi seperti itu dan jika memang tidak bisa memberikan solusi yang tepat, lebih baik beri saja semangat seperlunya dan tidak perlu mengkahimi. Kita harus sadar akan pentingnya menjaga perasaan orang lain.

 

Apakah yang punya sifat baperan ini hanya orang-orang yang introvert?

HSP dan introvert adalah suatu keadaan yang berbeda dan tidak semua orang yang introvert adalah HSP, begitu juga sebaliknya. Orang dengan kecenderungan extrovert juga bisa saja HSP karena sering bersosialisasi dan bertemu orang lain.

 

Apakah orang dengan sifat ini punya ciri tertentu? Bisakah sifat ini disadari oleh dirinya sendiri atau orang lain?

Mungkin ciri yang mudah terlihat adalah mudah tersinggung, mudah tersentuh akan suatu hal, lebih emosional, lebih suka sendiri namun saat bekerja dalam tim tetap bisa, sensitif dalam merasakan rasa sakit. Dalam keadaan tertentu mungkin orang HSP akan menyadari akan perilakunya dan mungkin juga orang lain dapat melihat perilaku tersebut, namun kita jangan mudah mengasumsikan. Dalam kasus tertentu mungkin dibutuhkan konsultasi dengan ahli.

 

Gimana cara menghadapi orang yang punya sifat ini?

Kita harus memilah-milah dalam berbicara, meningkatkan empati terhadap orang lain, tau batasan dalam pembicaraan yang tidak membuat orang tersinggung dan membuat suasana lebih santai.

 

Ada yang salah gak dengan sifat baper ini? Gimana caranya seseorang menghadapi sifat ini di dirinya atau bisakah sifat ini dihentikan? Bagaimana caranya?

Tidak ada yang salah dengan keadaan seseorang, namun kembali lagi jika perilaku yang muncul sudah terlalu tinggi intensitasnya dan mulai menggangu produktifitas dan hubungan dengan orang lain, perlu sekali untuk menemui ahli dan berkonsultasi agar mendapatkan penanganan yang tepat dan melalui proses tertentu.

Stop Bilang ‘Jangan Baperan’ Mulai dari Sekarang!

Agata Ika Paskarista, Education and Clinical Child Psychology and TopKarir Klinik Expert

Nah itu dia obrolan seru tentang dampak dari ucapan ‘jangan baperan’ bareng Agata Ika Paskarista, Education and Clinical Child Psychology and TopKarir Klinik Expert. Inget ya YOTers, jangan asal kasih respon ke orang lain, karena kita gak tau masalah apa yang lagi dia hadapi sampe sebegitu sensitifnya saat kita ajak ngobrol atau bercanda. Lebih baik kamu dengarkan saja, daripada salah kasih respon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *