Indonesia Graveyard, Belajar Sejarah dari Kuburan

Indonesia Graveyard, Belajar Sejarah dari Kuburan

Hai YOTers, darimana kamu bisa mempelajari sejarah? Buku? Google? Hmm pernah kah kamu terpikirkan untuk belajar sejarah melalui kuburan?

Indonesia Graveyard merupakan komunitas yang mengulik sejarah melalui makam. Berawal dari kesamaan minat terhadap sejarah, komunitas ini mengawali perjalanan pertama mereka dalam belajar sejarah dari makam di tahun 2017. Sejarah yang didapatkan melalui filosofi yang mereka pelajari, mulai dari arsitektur hingga tulisan yang tertera di nisan.

“Makam itu pintu untuk belajar sejarah karena belajar itu gak hanya di sekolah,” kata Ruri Hargiyono, Pendiri Indonesia Graveyard.

 

Bukan Mistis, Namun Menggali Sisi Historis

Banyak yang mengaitkan makam dengan hal-hal mistis. Begitu juga yang selama ini teman-teman dari komunitas Indonesia Graveyard dapatkan dari orang-orang di sekitar mereka. Padahal, bukan hal mistis yang seharusnya dipelajari dari makam, melainkan sisi historis yang harus dipahami.

“Banyak yang menganggap ke makam itu untuk mencari mistisnya. Mereka gak belajar seperti yang kita bicarakan. Kita belajar filosofinya dan kenapa saya suka ke makam salah satunya adalah itu rumah masa depan bagi saya, karena semua orang pasti akan mati. Sebagai pengingat saya, saya akan di situasi seperti itu,” ujar Ika, salah satu anggota komunitas Indonesia Graveyard.

makam yahudi bentuknya limas, orang yahudi bebas di Indonesia sampe tahun 55, karena bung karno menganggap bahwa mereka berjasa dalam mendukung Indonesia utk merdeka, jadi bung karno memberikan akses ke mereka utk berdagang. Makam paling terkahir dimakam di sini tahun 62, tapi Cuma ada 5 atau 6 makam di sini, tapi ya vandalisme dimana2. (di slipi petamburan)

Komunitas Indonesia Graveyard.

*foto: dokumentasi Komunitas Indonesia Graveyard

Ruri menceritakan berbagai sejarah yang terungkap melalui filosofi yang ia pelajari dari kuburan yang ia kunjungi, salah satunya adalah makam di Slipi Petamburan, dimana ada kuburan warga Negara Kroasia yang ia ketahui dari nisannya. Lalu Mausoleum yang juga berada di Slipi Petamburan yang diketahui sebagai makam megah dan satu-satunya di Jakarta yang dibangun di tahun 1920-an. Setelah dipelajari sejarahnya, ternyata marmer yang digunakan didatangkan langsung dari Italia sebagai bakti cinta sang istri terhadap mendiang suaminya.

“Banyak ilmu baru yang gak kita dapet di sekolah atau buku. Kita dapet ilmunya dengan langsung observasi ke makam itu, dari narasumber yang setiap harinya di situ, bahkan keturunannya” kata Ika.

 

Mulai dari Makam Hitler Sampai Sejarah Lain yang Bikin Pinter

Cerita lainnya datang dari Ika saat mengunjungi pemakaman di Kaki Gunung Pangrango yang letaknya tersembunyi. Setelah berhasil menemukan pemakaman tersebut, ternyata hanya ada 10 kuburan di sana, di mana 8 di antaranya memiliki nama dan 2 sisanya yang tidak memiliki nama diperkirakan salah satunya adalah makam Hitler. Tapi, belum ada data valid mengenai hal ini sehingga tidak bisa dipastikan mengenai kebenarannya.

Bagaimanapun sejarahnya, menurut Ruri dan Ika setiap makam memiliki ceritanya masing-masing yang tentunya tidak terlepas dari sejarahnya dan membuat kita sebagai warga Negara Indonesia bangga. Terlebih lagi dengan mengunjungi makam membuat mereka selalu bertambah ilmunya.

“Setiap makam punya ceritanya sendiri dan semuanya menarik. Tapi saya salut, Batavia di saat itu sudah mencapai prestasi, dimana orang Belanda saat itu memilih untuk ‘membangun’ makamnya di sini dibanding di negaranya sendiri, ditambah dengan teknologi saat itu yang bisa membawa patung kesini tanpa retak. Balik lagi, setiap makam punya ceritanya sendiri. Karena habis balik dari makam saya ngerasa tambah pinter,” ujar Ruri.

Indonesia Graveyard, Belajar Sejarah dari Kuburan

Makam Tionghoa di Tanah Cepek. Kursi dan meja digunakan untuk keluarga yang berziarah ke makam ini.

foto: dokumentasi Komunitas Indonesia Graveyard

 

Penjaga Makam yang Turun Temurun

Untuk menguatkan sejarah yang ditemukan dari makam, komunitas Indonesia Graveyard juga bertanya kepada penjaga makam. Ternyata, banyak penjaga makam di Indonesia yang turun temurun atau regenerasi.

“Jadi saat Bapaknya menjelang tua, agar informasi ini gak hilang, akhirnya dikasih ke anaknya,” kata Ika. Kita bisa temui penjaga makam yang turun temurun di Pemakaman Ereveld. Ereveld sendiri merupakan pemakaman warga Negara Belanda yang jadi korban perang Belanda melawan Jepang.

Indonesia Graveyard, Belajar Sejarah dari Kuburan

Pemakaman Ereveld.

*foto: dokumentasi Komunitas Indonesia Graveyard

Keberadaan penjaga makam turun temurun ini menjadi titik cerah bagi Komunitas Indonesia Graveyard. Karena, dari mereka lah sejarah yang sebenarnya bisa terus terjaga, “jadi versinya orang menang selalu klaim begini, padahal di satu aslinya gini, makanya kita gak compare dari satu buku atau satu narasumber, tapi ada narasumber lain,” ujar Ika.

Dari perjalanan mencari sejarah ini, ada fakta lain terungkap mengenai sejarah yang terungkap dan tersebar, “dimana-mana orang yang menceritakan sejarah adalah orang yang menang. Jadi pasti ada yang ditutup-tutupi. Sejarah adalah cerita dari yang menang,” ujar Ruri.

 

Merawat Ingatan dari Kuburan

Satu harapan dari komunitas ini melalu berbagai kegiatannya adalah semakin banyak orang menghargai sejarah, salah satunya dimulai dari peduli dengan makam para tokoh yang berjasa untuk Negara. Karena sudah seharusnya, jasa mereka dihargai bukan hanya saat mereka hidup saja, namun saat mereka sudah tiada.

“Kami mau kasih info seputar makam, ada makam orang berjasa untuk Indonesia yang tidak dipedulikan. Karena sebaiknya makam mereka diperlakukan dengan layak,” harap Ruri. Terlebih lagi saat ia melihat realita makam Souw Beng Kong, kapiten Tionghoa Batavia pertama yang tidak dirawat dengan baik. Padahal, tokoh tersebut sangat berjasa untuk Batavia.

Dari komunitas Indonesia Graveyard ini kita belajar bahwa belajar itu bisa dari mana saja dan siapa saja. Untuk menyebarkan sejarah yang telah mereka dapatkan, rencananya di tahun depan Komunitas Indonesia Graveyard akan membuat Blog dan YouTube. Harapannya tentu aja biar semakin banyak orang yang peduli dengan sejarah Negara nya sendiri. Semoga semangat belajar sejarah temen-temen komunitas Indonesia Graveyard bisa kita rasakan juga ya!

Indonesia Graveyard, Belajar Sejarah dari Kuburan

Makam Yahudi di Petamburan. Di sini terdapat 5 makam dan sayangnya terkena dampak vandalisme.

foto: dokumentasi Komunitas Indonesia Graveyard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *