Masih Bisakah Kita Berkolaborasi di Era Teknologi?

Masih Bisakah Kita Berkolaborasi di Era Perkembangan Teknologi?

Festival Relawan, sebuah acara dengan spirit kebersamaan dalam bentuk kolaborasi kembali sukses diselenggarakan pada Sabtu (14/12) lalu di Balai Kartini, Jakarta. Tema yang diangkat pada penyelenggaraannya di tahun ini adalah ‘Bergerak Bersama, Berdampak Besar’ yang juga mencerminkan nilai bersatu-padu menggabungkan kekuatan dengan semangat kolaborasi menciptakan perubahan baik untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Masih Bisakah Kita Berkolaborasi di Era Perkembangan Teknologi?

Semangat dibalik terselenggaranya acara ini ditambah dengan laporan dari The Legatum Prosperity Index 2019 yang mengatakan bahwa Indonesia jadi salah satu negara dengan tingkat relawan tertinggi. Maka dari itu, Festival Relawan diharapkan bisa wadah untuk memulai langkah positif melalui booth komunitas yang ada dan juga melalui panel bersama para narasumber yang dihadirkan.

“Festival Relawan sudah menginjak tahun ke-4 dan kami selalu melihat antusiasme yang tinggi terhadap isu kerelawanan dari masyarakat khususnya anak muda. Tahun ini, kami ingin mengajak lebih banyak orang berinteraksi dan saling mengenal, memahami permasalahan sosial yang ada dan bergerak bersama memberikan solusinya dengan #JadiRelawan, tidak sendiri, tapi bersama-sama”, kata Marsya Nurmaranti, Executive Director Indorelawan.

Di tahun ini, Festival Relawan 2019 hadir dengan rangkaian kegiatan yang mengedepankan semangat kolaborasi seperti kelas-kelas bulan relawan nasional yang berlangsung selama 1 bulan dan puncak Festival Relawan yang terdiri dari berbagai kegiatan, yakni 8 panel diskusi, 24 booth komunitas, 6 dropbox donasi dan Pasar Toleransi untuk mendorong semangat merawat toleransi di Indonesia.

Masih Bisakah Kita Berkolaborasi di Era Perkembangan Teknologi?

Delapan panel diskusi sendiri terdiri dari beberapa topik utama, seperti lingkungan, kesehatan, mitigasi bencana, pendidikan, disabilitas, kesetaraan gender, toleransi dan perdamaian, serta sains dan teknologi. Panel-panel ini juga dihadiri oleh beberapa pembicara ternama, seperti Morgan Oey, Maria Harfanti, Angkie Yudistia, Billy Mambrasar, Cania Citta Irlanie dan lainnya. Tidak ketinggalan juga, acara puncak ini dilengkapi dengan sejumlah pertunjukan seni oleh komunitas.

Salah satu panel dengan topik toleransi ‘Humanity is Our Identity, Menjadi Toleran Ala Ilmuwan’ membedah tentang anggapan ‘sains’ adalah milik ilmuwan saja. Padahal, sains milik semua orang, karena sains juga merupakan paradigma atau cara berpikir yang bisa dipakai semua orang. Panel ini diisi oleh Cania Citta Irlanie (Head of Content GEOLIVE), Ayu Kartika Dewi (Staf Khusus Presiden), dan Gerald Sebastian (Co – Founder Kok Bisa) yang berasal dari background yang berbeda.

Masih Bisakah Kita Berkolaborasi di Era Perkembangan Teknologi?

“Penerapan cara berpikir saintifik dapat menumbuhkan toleransi dalam diri. Toleransi juga bisa ditumbuhkan dengan healthy skepticism curiga dengan dasar, atau mengecek kebenaran suatu info. Intoleransi datang dari wacana-wacana yang kita dengar dan kita anggap salah atau insting kita anggap salah. Oleh karena itu untuk menghindari intoleransi kita harus terlebih dahulu mencari tahu kebenarannya sebelum menyimpulkan,” ujar Cania.

Ayu Kartika Dewi juga menambahkan bahwa kita semua harus punya mindset sebagai seorang ilmuwan, yang berarti jangan berhenti bertanya dan jangan takut untuk berpendapat, “perbedaan pendapat seringkali kita temukan, namun perbedaan pendapat melengkapi dan menyempurnakan sebuah konsep. Oleh karena itu, terimalah perbedaan untuk sebuah keutuhan,” kata Ayu.

Panel menarik lainnya adalah panel yang membahas mengenai teknologi ‘Kolaborasi 4.0 Ketika Teknologi Hadir’ yang menghadirkan Armyn Gita (Go-Pay Public Affairs Manager), Jenne Sanjaya (Change.org Campaigner), Ari Awan (Co-Founder Indorelawan). Kedua pembicara menyampaikan bahwa di era perkembangan teknologi saat ini, bentuk kolaborasi menjadi mudah untuk dilakukan. Contohnya Go-Pay yang meluncurkan fitur baru untuk berdonasi. Lalu ada Change.org, sebuah wadah untuk mengumpulkan suara masyarakat dalam bentuk petisi.

Masih Bisakah Kita Berkolaborasi di Era Perkembangan Teknologi?

Saat ini, petisi bisa menjadi jalan keluar untuk mengkampanyekan isu selain melalu jalur resmi. Banyak orang-orang yang ingin melakukan perubahan tapi bingung memulainya gimana atau bagaimana caranya. Perubahan tersebut dapat dimulai dari Change.org. Program She Creates Change adalah program beyond petition milik Change.org untuk perempuan yang mempunyai kampanye tentang lingkungan yang nantinya akan diberikan pelatihan untuk melanjutkan kampanyenya.

Begitu juga dengan Indorelawan sebagai marketplace untuk relawan yang merupakan tempat dimana organisasi sosial dan relawan dipertemukan. Indorelawan berawal dari kampanye di Facebook sampai membuat website. Saat ini kerelawanan menjadi kebutuhan di Indonesia. Indorelawan mempunyai misi untuk menjadikan gotong royong sebagai gaya hidup orang Indonesia. Indorelawan juga bertujuan menghidupkan semangatnya ada 131.000 relawan ada 2.300 organisasi 4.300 aktivitas kerelawanan di Indonesia.

Semoga dengan adanya acara ini, juga semakin menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya kolaborasi. Karena dengan bergerak bersama, akan menghasilkan dampak yang besar!

Masih Bisakah Kita Berkolaborasi di Era Perkembangan Teknologi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *