Anak Muda Jepang Belajar Toleransi dari Lomba Agustusan di Indonesia

Anak Muda Jepang Belajar Toleransi dari Lomba Agustusan di Indonesia
Jakarta – Betapa kagetnya empat mahasiswa asal Jepang ini. Niat hati hanya melihat, namun mereka ternyata diajak dan diterima ikut berlomba 17 Agustusan oleh warga Kalibata, Jakarta Selatan. Sesuatu yang jarang dilakukan oleh mereka terhadap warga asing di negara asalnya.
 
Keempat mahasiswa tersebut adalah Daisuke Musashi (21), Takamitsu Suzuki (19), Yuko Eguachi (20) dan Harue Suzuki (20). Mereka adalah para mahasiswa dari Chuo University yang datang ke Indonesia khusus untuk mempelajari kehidupan masyarakat Indonesia dan kondisi sosiologisnya. Ada sebagian yang bisa berbahasa Indonesia, sebagian lagi diwawancarai dalam bahasa Inggris dan Jepang.
 
Didampingi dosen yang sudah lama mengenal Indonesia, Hisanori Kato, keempatnya mendatangi sebuah permukiman di kawasan Kalibata, Senin (17/8) kemarin. Mereka awalnya hanya ingin melihat, namun ternyata para warga di sana mengizinkan keempatnya untuk ikut lomba.
 
"Mereka terkesan karena ternyata warga di sana menerima orang asing begitu baiknya. Bahkan boleh diajak ikut lomba. Kalau di Jepang ini sangat susah, mereka tidak begitu saja menerima orang asing," cerita Kato dalam bahasa Indonesia saat berbincang dengan detikcom di kampus Universitas Nasional, Jl Salihara, Pasar Minggu, Jaksel, Selasa (18/8/2015).
 
Musashi mengatakan, ini adalah kunjungan pertamanya ke Indonesia. Dia senang ketika bisa diterima dan diizinkan ikut berlomba. Bersama rekan-rekannya, dia sempat ikut perlombaan membawa tampah dengan kepala. Lalu, dia juga sempat menyanyi lagu Indonesia Pusaka, yang kemudian diikuti oleh para warga.
 
"Ini sangat kontras dengan di Jepang. Di sana, mereka sangat sulit menerima orang asing, keras kepala. Tapi kesan pertama saya di sini, toleransinya cukup tinggi," terangnya.
 
Musashi mengaku sangat iri dengan kebersamaan yang terlihat di Indonesia. Di negara asalnya, komunikasi antar masyarakat sudah sangat sulit, apalagi dengan orang asing. Bahkan jarak antara anak muda dan orang tua sangat tinggi.
 
"Kalau di sini, tidak ada jarak antara anak-anak dan orang tua. Mereka ikut bermain bersama. Saya pikir ini menarik, semakin banyak orang bergabung maka semakin ramai dan menyenangkan," ceritanya lagi.
 
Dia sangat bersemangat untuk mempelajari lebih banyak soal Indonesia. Rencananya, dia akan ke Makassar untuk mempelajari lagi kondisi sosial di sana. Semua hal ini, sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupannya nanti di Jepang.
dok. Hisanori Kato
 
"Saya juga tertarik untuk melihat kehidupan beragamanya di sini. Kalau untuk menerapkannya di Jepang pasti sulit, tapi saya tertarik untuk mencoba," imbuhnya.
 
Mahasiswa lainnya, Takamitsu Suzuki, sudah lama tertarik dengan Indonesia. Sebelumnya, pada bulan Maret 2015 lalu, dia sempat mendatangi Jakarta dan Yogyakarta. Dia sangat terkesan sekali dengan Yogyakarta, mulai dari arsitektur kotanya sampai kehidupan masyarakat.
 
"Kalau di Jakarta seperti Tokyo, tapi kalau di Yogya model kota tua, sangat menarik," cerita Takamishu.
 
Saat lomba, Takamitsu juga melihat bagaimana kedekatan antara anak-anak dan para orang tua. Mereka sama-sama ikut lomba dan menikmatinya. Bagi Takamishu, hal ini sebuah hal yang sangat jarang ditemui di daerah asalnya.
 
"Mungkin banyak yang berpikir orang Jepang maju dan bahagia. Tapi kalau saya sekarang melihat masyarakat 
Indonesia lebih bahagia," ungkapnya.
 
Takamitsu penasaran juga dengan Islam di Indonesia. Dia ingin mempelajari lebih jauh bagaimana kehidupan umat muslim di Jawa dan Makassar. Apakah ada perbedaan atau sama saja. "Saya ingin mempelajari semuanya," imbuhnya.
 
Yuko punya cerita berbeda. Dia mengaku sempat kaget dengan suasana keakraban di Indonesia. Tapi momen yang paling berkesan adalah ketika menyanyikan lagu Indonesia Pusaka bersama masyarakat.
Hisanori Kato (dok. pribadi)
 
"Saya sangat merasa bahagia menyanyi bersama mereka," ceritanya.
 
Saking kagumnya, dia berniat untuk menerapkan cara orang Indonesia berkomunikasi dan memperlakukan orang asing di Jepang. Dia akan bersikap seperti orang Indonesia. 
 
"Ada perbedaan cara berkomunikasi di Jepang dengan di sini. Saya ingin bersikap seperti di sini," ungkapnya.
 
Harue, gadis asal Jepang ini punya misi tertentu ke Indonesia. Dia ingin melihat bagaimana interaksi manusia dengan hewan di Indonesia. Sebagai pecinta binatang, dia ingin mengetahui seperti apa hewan diperlakukan, sampai cara pelestariannya.
 
"Saya ingin pengetahuan saya soal Indonesia menambah kejepangan saya. Saya tumbuh dan besar sebagai orang Jepang, saya akan tetap bersikap sebagai orang Jepang," ucapnya.
 
Namun cerita menarik disampaikan Harue. Sebelum berangkat ke Indonesia, dia sempat diwanti-wanti oleh temannya tentang betapa mengerikannya Indonesia. Namun peringatan itu sirna dengan sendirinya setelah tiba di tujuan.
 
"Kemarin kita bertemu dengan salah satu ustaz. Kami sangat terkesan, terutama pesannya soal: jika kita baik kepada orang lain, maka orang lain akan baik kepadamu," demikian ceritanya soal Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *