CERITA DIBALIK OMBUS-OMBUS

ombus ombus

 

Ilustrasi foto: dapur48.blogspot.com

 

Oleh: Aulia Arifah

Asap mengepul diatas dandang Opung Doli. Makanan itu akhirnya siap juga. Dia sengaja bangun pagi-pagi demi cucu yang ia sayangi.

Di gubuk tua, sederhana ini mereka menimbah nasib. Angin dingin sudah menyelimuti tubuh kurus nan keriput. Angin itu semakin halus menyelimuti tanah Batak di pagi yang cerah ini.

“Uhuk..uhuk..uhuk sudah bangun kau nak?” Kata Opung Doli sambil menyapu asap-asap yang mengepul disekitar wajahnya. Karena keadaan ekonomi lah yang membuat Opung Doli masih menggunakan kayu bakar. Padahal dia sudah mengidap penyakit asma, tapi dia berhasil menyembunyikan semua itu dari cucunya. Dia tidak mau menambah beban hidup cucunya. Biarlah hanya dia yang menanggung semuanya.

Cucunya bernama Togar. Dia sudah bangun dari tidur nyenyak nya. Dia keluar dari bilik kamarnya yang kecil. Melangkah terhuyung-huyung diatas lantai semen yang dingin.

“Opung kapan kita bisa beli kasur yang bagus dan empuk? Remuk semua tubuh Togar jika hanya tidur berlapis papan kayu itu!” Keluh kesal Togar sambil menunjuk kearah tempat tidur ditambahpula tampang cemberutnya.

“Opung tidak punya uang nak. Penghasilan Opung sebagai kuli barang tidak cukup untuk membeli kasur. Nah, lebih baik kamu sarapan dulu. Opung buatkan ombus-ombus kesukaan kamu.” Opung Doli melangkah kearah Togar dengan sepiring ombus-ombus ditangannya. Dia melangkah pasti dengan seulas senyum tulus di wajahnya.

“Ah, tidak! Sudah bosan Togar memakan ini setiap hari!” Dia melangkah dan duduk di kursi kayu yang sudah lumayan lapuk, tapi masih bisa kokoh untuk menahan beban nya.

“Yasudah, kalau tidak ingin dimakan. Opung membuatkan kue ini, karena opung ingat sekali makanan kesukaanmu. Jika kejadian itu yang menolak kamu tidak ingin memakannya lagi, cobalah untuk mulai mencobanya secara perlahan. Tidak baik terlalu larut dalam semua itu.” Kata Opung Doli seraya memberikan nasehat kepada cucunya.

“Aku tidak mau memakannya lagi!” Bentak Togar. “Opung tahu jelas bukan?! Ketika aku memakan benda itu, rasanya semua kembali! Apa yang tidak mau kuingat semuanya berputar dikepalaku. Aku capek! Aku capek seperti ini! Ahh.” Kali ini air mata mulai berlinang satu per satu dari kedua bola matanya. Perasaannya campur aduk. Antara marah, sedih, kecewa menjadi satu.

“Opung tau jelas Togar! Opung tau tanpa perlu kau jelaskan.” Opung Doli tidak kalah bentak. Wajahnya merah padam. Rasa sesak di dada mulai terasa, tapi seperti biasa dia bisa mengatasinya.

“Setiap aku memakannya, aku selalu mengingat wajah mereka. Aku tidak kuat Pung dengan semua ini. Kenapa ini terjadi kepada kita? Kenapa Pung?!” Tangisannya semakin deras dan tidak dapat dikendalikan.

“Kita harus berserah diri kepada Tuhan! Mungkin ini sudah jalannya. Tangisanmu tidak berguna. Tidak bisa mengubah keadaan. Hanya menambah keadaan semakin runyam saja!” Kata Opung Doli geram.

Togar seperti tidak menerima apa yang dikatakan Opung Doli. Dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Opung Doli. Perasaannya semakin campur aduk, didalam benak pikirannya hanya ingin keluar dari tempat ini.

“Hei lau tuh diah (mau kemana) kau nak?”

“Mencari tempat dimana aku bisa menenangkan pikiranku! Jangan khawatir aku bisa menjaga diri.” Kata Togar sambil menghapus air matanya.

Opung Doli hanya bisa duduk terpaku memandang kepergian Togar dan menangis pelan. Sebenarnya dia paling terpukul dalam kejadian ini, hanya saja tidak pernah menampakan apa yang dia rasa dihadapan semua orang. Terutama cucunya. Dia ingin terlihat tegar dan tidak lemah.

“Ya Tuhan, kenapa kau timpahkan semua ujian ini kepada ku?! Jujur hambah lelah Tuhan. Kenapa kau rebut semua?! Kenapa dua tahun itu begitu cepat?! Sekarang Kau malah menambahkan ujian kepada cucuku. Dia begitu kecil untuk menerima semua ini! Kalau memang ini jalanMu, hambah mohon ya Tuhan berikan hikmah yang baik dan akhir yang cerah untuk semua ini. Amin.” Opung Doli berdoa ditengah tangis permohonannya.

***

Sang mega mulai terlihat dari ufuk timur. Biasa-bias cahayanya mulai menembus gumpalan awan di angkasa. Begitu terlukis elok di langit yang cerah. Angin halus nan dingin belum segan-segannya untuk tetap bertiup menyelimuti tanah Batak ini.

Semua berbanding terbalik dengan Togar. Tatapannya masih kosong. Dia hanya berjalan lurus seperti tidak tau arah. Dia tidak memperdulikan apapun di sekitarnya. Sesekal dia hanya menendang batu-batu krikil di sepanjang perjalanan. Perasaannya kacau.

Dia tetap berjalan, hingga sampai ke suatu tempat yang sering dia kunjungi untuk bermain bersama temannya.

Dia memandang danau yang tentram di atas tebing ini. Banyak yang tidak mengetahui tempat ini. Jika dilihat dengan kasat mata, tempat ini hanya menyerupai lapangan luas dan kosong. Mereka tidak tahu kalau di ujung tempat ini sudah curam, menyerupai tebing terjal yang di bawahnya sudah danau.

Togar duduk di ujung tebing itu. Menurunkan kakinya ke bawah seperti hal layaknya duduk di kursi. Dia mengayuhkan kedua kakinya dengan santai. Dia tidak takut jatuh. Togar sudah terbiasa dengan hal ini.

Matanya tertutup merasakan semilir hembusan angin yang berhembus lembut. Mendengarkan gemerisik ombak kecil yang menghantam dinding tebing. Hal itu membuat nya tenang. Tetapi fase-fase kejadian kelam itu mampir lagi di pikirannya. Togar sangat benci hal itu. Tapi ada hal lain yang ia rasakan. Dia mendengar langkah kaki.

“HEI!!! Melamun saja! Ngapain disini sendirian?” Kata Ucok temannya mengagetkan. Hampir saja Togar reflek ingin terjatuh.

“Oalah Rupanya kau Ucok. Ah kau ini buat aku kaget saja. Hampir saja aku jatuh karena ulahmu.”

“Hahaha iyaiya maafkan aku. Kau ngapain disini sendiri? Oh ya, aku bawa bola ini, main yuk?” Kata Ucok sambil gembira menunjukan bola yang dia bawa.

“Ah malas.” Kata Togar acuh tak acuh.

“Ah aku tau, kau sedang bertengkar dengan opungmu bukan?” Togar diam saja, seolah tidak mendengar apa pun. “Aku tau jelas Togar, apa yang kau rasakan di dua tahun yang lalu. Biarlah masa lalu yang kelam itu menjadi hikmah tersendiri. Semua sudah diatur oleh Tuhan. Kita sebagai umatNya hanya bisa berserah diri dan menjalankan apa yang Dia perintahkan. Intinya sekarang kita harus bisa menerimah dengan lapang dada. Dan satu lagi, kau jangan merajuk tidak jelas kepada Opungmu. Kasihan dia, kalau kau punya hati yang tulus dan pikiran yang jernih, kau pasti paham apa yang aku katakan saat ini.”

Kali ini Ucok berkata dengan bijak. Kata-kata Ucok sangat menyentuh hati Togar. Apa yang telah dikatannya membuat Togar sadar, bahwa selama ini dia lah yang salah. Dengan tidak berpikir panjang dia memeluk teman nya itu sambil mengucapkan rasa terimah kasih sebesar-besarnya

“Makasih Ucok kau telah buatku sadar, selama ini aku yang salah tidak bisa nerima kenyataan. Aku juga telah jahat kepada opungku.” Togar menangis dalam pelukannya.

“Menangislah bila membuatmu lega dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.” Kata Ucok menepuk bahunya dengan pelan.

“Ya aku janji! Aku mau pulang dulu ya aku takut Opung mencari ku. Sampai jumpa!” Kata Togar melepas pelukannya dan berlari pulang.

“Sama-sama, salam untuk Opungmu!” kata ucok setengah berteriak.

***
Dua tahun yang lalu.

Pagi itu sangat cerah. Kegiatan di hari minggu seperti biasa di kediaman Mandor Boondan. Togar tengah asik menonton acara kartun di televisi. Ayahnya,Mandor Bondan sedang membaca Koran sambil sesekali menyeruput kopi hitamnya. Ibunya membantu Opung Mariana memasak di dapur.

Mereka adalah orang terpandang dan terkaya saat itu. Mandor Bondan adalah orang yang memiliki banyak asset di tanah batak. Mulai dari pertanian,pertambangan, buruh dan lain sebagainya. Tapi sifat nya yang sangat dermawan dan serderhana membuat dia disegani banyak orang.

“Hmm.. aromanya lezat sekali. Pasti makanan nya sudah siap!” Togar berlari kearah dapur dan menjumpai kedua wanita itu.

Di dapur Togar melihat mereka sedang berbincang ria. Entah apa yang sedang mereka katakan saat itu. Dia tidak terlalu menyimaknya. Dia hanya terfokus untuk mencari sumber dari aroma tersebut.

“Wah, makanan ini enak sekali kelihatannya.”

“Haha, masakan mamakmu dengan opungmu ini memang tidak ada duanya. Sudah pasti nikmat nya bukan main.” Kata Opung Mariana tertawa kecil.

“Betul sekali! Togar saja sudah tergoda untuk memakan nya sekarang!” Katanya sangat bersemangat.

“Eh, Togar jangan. Masakannya belum matang. Sabar sedikit nak. Kalau sudah matang nanti mamak siapkan di meja makan.” Kata Nyonya Bondan lembut.

“Iya Mak iya, Togar minta maaf. Ngomong-ngomong masak apa hari ini Pung?” Tatapan Togar langsung berpaling dari Ibu nya ke Opungnya.

“Seperti biasa. Kami buatkan masakan kesukaanmu. Arsik ikan mas dan sedandang ombus-ombus.” Kata Opung Mariana sambil mengelus kepala Togar dengan sayang. “Oh, ya Togar.  Tolong jemput Opung Doli dari sungai sana. Kerjanya memancing saja. Ntah dapat hasil pun atau tidak.” Opung Mariana sudah geleng kepala melihat kerjaan suami nya. Sedengkan Togar hanya tertawa geli melihat kelakuan Opungnya tersebut.

“Hahaha, oke bos. Togar pergi dulu ya.” Togar langsung pamit dan menyalami tangan mereka.

“Togar, hati-hati dijalan ya!” Kata Mandor Bondan mengingatkan. Dia setengah berteriak karena Togar sudah berlari keluar dari pekarangan rumah.

“Baik yah!” Kata Togar samar-samar dari kejauhan. Dia tetap bisa mendengar suara Ayahnya yang tegas itu.

Togar berlari kecil menuju sungai tempat Opungnya memancing. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, tapi medan yang dilewati sangat menantang. Penuh dengan bebatuan. Dia terus berlari dengan hati-hati seperti nasehat ayahnya.

Sosok Opung Doli mulai terlihat dari kejauhan. Dia masih duduk menunggu umpannya dimakan. Tapi kali ini hasil nya nihil.

“Opung pulang yuk! Opung Mariana dan Mamak telah menyiapkan makan siang!” Katanya setengah berteriak. Dari teriakan nya terdengar jelas suara napas yang tersengal karena terlalu lelah berlari.

“Bentar, Opung bereskan peralatannya sejenak.” Ia membereskan semua yang berhubungan dengan peralatan pancingnya. Kali ini tidak dapat ikan yang ia dapatkan. Hanya lelah dan peluh.

“Sepertinya ada yang sia-sia nih.” Kata Togar tertawa geli.

“Ah, kau Togar. Lihat saja besok Opung dapat banyak.”  Mereka tertawa bersama dan menuju jalan pulang.

***
Hal yang tidak diinginkan terjadi di kediaman Mandor Bondan. Ntah hal apa yang dirasakan Opung Mariana dan Nyonya Bondan saat itu. Mereka tengah asik berbicara resep makanan yang telah mereka rancang, dan sesekali Opung Mariana menceritakan lelucon yang membuat Nyonya Bondan tertawa terbahak-bahak. Samar-samar terdengar suara dari tabung gas. Tetapi mereka menghiraukannya dan tetap bergurau.

5 menit berlalu, tetap tidak terjadi apa-apa.

Tiba-tiba, DARRR!!!

Tabung gas nya meledak dengan sendirinya! Itu ledakan yang sangat dahsyat sampai menghanguskan rumah megah tersebut. Mereka tidak mengetahui hal ini. Canda gurau di pagi yang cerah menjadi kelam. Keadaan yang baik-baik saja telah hangus. Tidak ada yang tersisa. Tidak ada! Hanya sebuah kenangan. Ya, sebuah kenangan yang manis yang akan lamban laun menjadi pahit dengan sendirinya.

***
Opung Doli dan Togar telah sampai dirumah mereka tercinta. Mereka tidak percaya apa yang mereka lihat. Rumah yang megah gini menjadi puing-puing. Tidak ada yang tersisa. Orang yang mereka cintai telah pergi untuk selamanya. Jasadnya masih tertimpa puing-puing reruntuhan. Semuanya hangus dilalap si jago merah.

Tetangga disekitar mereka tengah sibuk mengambil air agar si jago merah mulai mereda. Usaha mereka sangat keras. Dan ada pula yang menceritakan kejadian sebenarnya kepada mereka berdua. Mereka sangat terpukul seperti tidak dapat menerima kejadian itu.

“Pung! Ini gak mungkin kan terjadi! Ini mimpikan! Itu bukan rumah kita kan! Pung jawab pun jawab jangan diam saja! Pung! Ahhhhh.” Togar menangis dan berteriak histeris melihat apa yang terjadi di depannya. Dia terjatuh lemas. Sesekali dia ingin merangkak ke rumahnya. Tapi dilarang keras oleh para warga yang tengah sibuk memadamkan api.

Opung Doli hanya terbungkam melihat semua ini. Dia tidak mempercayainya, kedua kakinya lemas. Semua alat pancing nya terjatuh satu per satu dari genggamannya. Kakinya gemetaran sehingga membuatnya jatuh dengan posisi kedua lutut menopangnya. Air matanya mengalir tidak terkontrol. Ingin rasanya ia berteriak sekuat-kuatnya saat ini.

“Yaa Tuhan! Apa salah kami!! Kenapa Kau limpahkan semua ini kepada ku! Apa Kau tidak kasihan melihat kami ya Tuhan!! Ahh!!!” Opung Doli berteriak histeris dan berjalan pelan ke harta benda satu-satunya yang ia miliki saat ini dan memeluknya. Itu adalah cucunya, Togar.

***
Togar terus berlari menuju rumah. Matanya panas menahan air mata bersalah.

Dari kejauhan sudah terlihat Opung Doli sedang duduk termenung di depan gubuk.

“Opung maafin sifat Togar selama ini. Togar ngaku salah. Opung sudah mencoba segala hal terbaik untuk Togar, tetapi Togar hiraukan. Maafin Togar Opung.” Togar langsung berlutut ampun dengan Opungnya. Air mata penyesalannya mengalir dengan deras.

“Tidak apa-apa Togar. Sebelum Kau minta maaf, Opung sudah memaafkannya. Jangan bernangis dan bersedih lagi. Nah, lebih baik kita sarapan dulu.” Sambil memegang bahu Togar dengan lembut dan mengangkatnya berdiri.

“Opung, bolehkah Togar memakan ombus-ombus itu lagi?” kata Togar tersenyum tulus.
“Boleh Togar. Boleh sekali. Ayo kita masuk dan sarapan bersama.” Opung doli merangkul cucunya dengan penuh sayang.

Doa Opung Doli terkabul. Dia mendapatkan hikmah dari semua ini. Dan berakhir dengan baik. Sekarang, ombus-ombus menjadi makna tersendiri bagi mereka. Karena, disetiap gigitannya telah menghasilkan berbagai kesan dan kebahagian.

Tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan. Semuanya memiliki hikmah tersendiri. Percayalah bahwa jalan Tuhan selalu ada untuk umatNya yang terus berdoa ,dan selalu berusaha mengubah keadaan menjadi lebih baik.

 

by Aulia Arifah – Secretary YOT Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *