ARU & PERI BIRU

 

Ilustrasi

 

*Oleh: Azani Pevi Putri

Harusnya Aru tak berada di tempat asing yang dingin dan beku ini. Dunia yang tak pernah benar-benar ia kenali. Di satu sisi benar-benar menjaga alamnya, namun disisi lain teknologi menguasainya seperti akar, tak tampak namun berpengaruh besar. Ia tak tahu harus berjalan kemana, yang ia tahu ia harus bersembunyi.

Namun, sebelum ia berada disini. Seseorang pria tua yang hampir mati pernah berkata pada Aru, bahwa nanti akan ada saatnya kehancuran hadir atas nama ketidak sengajaan. Saat itu, langkah kakimu sendiri yang akan membawamu ke sebuah rumah yang sangat senyap dan tenang. Sekalipun dunia luar hancur berkeping-keping, namun percayalah! Sedikitpun tubuhmu tak akan tergores di dalam sana.

“Hahh… Hahhh…” Aru berlari menaiki tanjakan. Namun langkahnya terasa amat sangat lambat, ia terengah-engah dan sangat berkeringat. Belum selesai lelahnya barang sejenak, di depan matanya ia melihat seorang dari suku seberang dengan tato khas hitam putih seperti catur serta pakaian dengan corak yang sama tengah menunjuk-nunjuknya dengan kilatan pedangnya. Wajahnya tampak menyeringai dengan ekspresi penuh dendam. Aru benar-benar tidak mengerti pada apa yang terjadi dengan dirinya, bahwa ia harus menghadapi begitu banyak kebencian di sini. Apa yang tengah dilakukan kedua orang tuanya? Apa yang tengah terjadi di masa lalu? Sedikitpun Aru tak memahami hal itu.

Aru berbalik arah dan segera berlari ketika ia menyadari bahwa pria itu tak hanya seorang diri. Namun juga membawa pasukan yang berjumlah puluhan.

“Benar-benar pria agresif yang tak tahu malu. Ia membawa puluhan pasukan hanya untuk melawan satu perempuan. Dia psikopat gila!” Aru menggerutu.

Sibuk menatap kanan kiri, mencari ide atau sesuatu agar ia bisa menghindar atau segera bersembunyi. Tepat ketika ia menoleh ke kanan, ada sebuah batu cukup besar disana. Tepat di belakang batu itu ada sebuah pohon kayu besar yang cukup tinggi dan sudah sangat tua. Aru tahu, jika di balik pohon itu ada sebuah jurang yang dalam. Konon katanya disana ada sebuah tempat indah nan damai. Dengan jutaan peri-peri hutan yang berterbangan dan rumah-rumah mungil yang menjadi tempat tinggal mereka. Mereka menyebutnya sebagai Peri Biru, warna biru yang melambangkan keseimbangan. Warna biru dipilih karena terlalu rendahnya tempat mereka tinggal, sampai-sampai mereka tak bisa terbang hingga ke langit agar bisa menyentuhnya. Itulah mengapa mereka membuat semacam ramuan, agar mereka menjadi biru permanen. Hal ini didasari rasa ingin tahu mereka akan dunia langit.

Aru tak percaya legenda semacam itu, ia yakin itu hanya mitos yang dibuat agar manusia tak merusak alam. Mitos menghargai makhluk lain yang tak bisa dibuktikan kebenarannya adalah alasan klise agar mereka tak mengganggu alam secara sepihak.

Aru hanya mengira jika bukan air yang menjadi ujung jurang itu, maka yang menjadi ujung jurangnya adalah kematian. Sebab ia yakin, ketika seorang sudah mati maka hanya hal indahlah yang ia rasakan setelahnya. Maka peri itulah yang disebut keindahan.

“HEEIII!!!” teriak Aru pada sekumpulan suku Hipth -suku yang sejak tadi mengejarnya-

Seorang pemimpin menatap mata Aru dengan penuh amarah. Wajahnya yang menjijikan itu benar-benar membuat Aru ingin menendangnya. Benar-benar memuakkan!

“Apa yang kau inginkan dariku!?” tanya Aru sedikit berteriak. Ia berdiri di atas cabang pohon tua tersebut.

Sejujurnya Aru sedikit gemetar dan takut, jika saja ia benar-benar mati kali ini. Maka ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan kota ini. Kota yang benar-benar menyedihkan.

“Aku menginginkan sesuatu yang kau miliki!” serunya sambil mendengus-dengus seperti hewan. Sangat menjijikan!

“Baiklah.” Ucapnya dengan sedikit jeda. “Apa kau percaya dengan mitos peri biru?” tanya Aru lagi.

“Aku tidak peduli! Dan aku tak mau tahu!!” serunya lagi.

“Baiklah kalau begitu.” Aru memejamkan matanya. Lalu sedetik kemudian, ia menjatuhkan tubuhnya kebelakang sambil berharap bahwa ia tak akan mati sia-sia. Meskipun Aru takut, namun entah pikiran apa yang tengah merasukinya. Ia hanya yakin saja bahwa semua akan baik-baik saja.

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia jatuh dari ketinggian yang tidak bisa di ukur seberapa jauhnya. Namun tubuhnya seperti tak merasakan benturan apapun bahkan sedetik setelah ia terjatuh.

Saat Aru membuka matanya untuk memastikan ke anehan ini, betapa terkejutnya ia. Ranting pohon itu hidup seolah memberikan tampungan empuk untuk dirinya agar tak jatuh dan terluka. Pohon-pohon hijau itu saling menyatukan batang dan ranting membentuk semacam perosotan, mereka saling melilitkan ranting satu dengan yang lainnya. Ketika ia telah melewati ranting tersebut, maka ranting itu akan meluruh dengan sendirinya. Dan ketika ia belum melewati ranting itu, maka ranting itu akan saling mengaitkan satu sama lainnya. Aru benar-benar takjub karenanya, matanya berkaca-kaca. Ia pikir ia tengah berada di surga, namun ia mencoba mencari kenyatannya. Bahwa ia masih hidup!

Rambutnya masih berwarna hitam. Bukan berubah menjadi abu-abu seperti wanita surga, ataupun jingga seperti penghuni neraka. Kini Aru percaya, bahwa di bawah sana benar-benar ada kehidupan yang nyata. Belum sempat ia berhenti takjub terhadap hal yang ia saksikan, tiba-tiba manusia raksasa yang biasa mereka sebut dengan Ghore melompat dengan ambisi membunuh ke arah Aru. Wajah dan tubuhnya yang hampir seluruhnya berwarna hijau dengan ciri khas pakaian daun sulur yang melilit serta sebuah jam tangan elektronik yang melekat di lengan kirinya, membuat ia terkesan seperti penjahat kelas atas dari percampuran dua abad.

Mata Aru berhasil membulat, dengan tergesa-gesa ia membalikan tubuhnya berharap ia bisa melompat pada apa saja.

“Jika saja ada seekor kuda di hadapanku! Maka aku akan lompat padanya.” Aru menggerutu kesal pada hidup yang sedang dihadapinya.

“Aaarghhh!” Aru berteriak ketika ranting pohon itu berhenti menyatukan batang-batangnya. Dari kejauhan ia bisa menebak jika ia akan jatuh terguling-guling menuju tanah yang landai dan penuh semak belukar.

“Ini lebih baik daripada harus tewas ditangan Ghore!” teguhnya.

Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan bersiap dengan posisi kuda-kuda seorang peselancar. Beberapa meter lagi dan…

“Hyaaa!” ia melompat meraih batang pohon yang tumbuh horizontal tepat di hadapannya. Dan benar-benar sebuah keajaiban, ketika sebuah kuda terparkir tepat di bawah batang pohon itu. Dengan sigap Aru melompat dan duduk di atas kuda tersebut. Kuda berwarna putih keabuan yang cantik dan gagah tersebut berlari kencang di jalanan hutan yang sangat curam. Aru bahkan sedikit takut jika harus menatap ke depan, namun kuda ini sanggup menjaga keseimbangan.

“Benar-benar sebuah keajaiban!” Katanya penuh rasa kekaguman.

Lalu seketika kuda itu membawa ia menembus batas sebuah semak belukar yang menutup sangat tinggi dan panjang. Aru sampai harus memejamkan matanya seolah hal itu seperti akan melindungi dirinya dari seluruh goresan dari ranting semak yang tajam.

Kuda itu mengikik dan melompat dengan sangat tinggi. Aru segera membuka mata dan mendapati dirinya di dalam sebuah desa yang sangat asri hijau dan indah. Bunga bermekaran dan kupu-kupu terbang melayang. Namun hatinya sedikit gelisah sebab ia tak melihat sedikipun makhluk biru itu berjalan di hadapannya ataupun beraktivitas seperti yang sering di ceritakan dalam legenda.

-BRAAAKKKK-

Ghore itu melompat dan merusak pagar pembatas dengan ganas. Wajah yang pada mulanya sangat kejam dengan aura ingin membunuh berubah menjadi sedikit takjub sekaligus bingung ketika melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Tiba-tiba saja Aru merasa bahwa besar tubuhnya tak lebih besar dari mata kaki Ghore raksasa. Aru menciut!

Dan ketika melihat Ghore tak kunjung menciut saat berada di sini. Aru pun bertanya-tanya, “Mengapa tubuhnya tak ikut menciut seperti aku? Bukankah katanya semua orang yang masuk akan abadi berada disini dan berubah menjadi seperti peri. Apa karena ia berada pada sisi gelap?” pikir Aru menerka-nerka.

“Kau membawaku pada rumah Peri Biru. Mereka adalah penyeimbang alam dan aku tak ingin merusaknya. Kita bisa mati perlahan!” ia berbicara pada seorang di sebarang jam tangan elektroniknya. Dan Aru yakin bahwa itu adalah si pemimpin suku Hipth, manusia psikopat gila yang putus asa.

Aru turun dari kudanya, lalu menatap ke lingkungan sekitar yang asing baginya. Legenda yang nyata itu kini di hadapannya, Peri Biru nyata dan ia ada. Lalu dari kejauhan terlihat seorang yang penuh dengan wibawa dan aura yang terpancar darinya menghampiri Aru dengan sedikit tergesa-gesa.

“Nonaaa…” katanya dengan suara khas seraknya dikarenakan umurnya yang sudah tak lagi muda.

“Ada apa, Tuan?” Aru bertanya dengan sopan.

“Aku mohon dengan segala hormat.” Ucapannya terpotong ketika ia harus mengatur ritme nafasnya, “Aku mohon masuklah ke dalam Istana.” Ucapnya sambil menyatukan kedua telapak tanganya.

“Anda siapa, Tuan?”

“Dia seorang Raja.” Jawab seorang lelaki paruh baya yang menyusulnya dengan langkah tergesa-gesa juga.

Merasa ada yang tak beres, Aru sadar jika ia harus bergerak cepat. Ia menaiki kudanya, dan mengajak sang Raja beserta pengawalnya untuk ikut naik bersamanya juga.

“Biar aku saja. Tidak apa!” tutur Aru ketika ia sadar bahwa sang pengawal hendak mengambil alih tugas sebagai joki kuda. Pengawal itu menunduk dan menyetujui permintaan Aru.

Sedetik ketika kuda itu berlari kencang menuju Istana di ujung jalan, Ghore yang menggila karena hasutan ketua suku Hipth mulai menghancurkan beberapa rumah dengan satu telapak kakinya. Benar-benar menyedihkan!

“Hyaaaa!” Aru menyemangati kuda ini dengan suara yang lantang.

“Tepat di ujung sana, di balik akar pohon raksasa itu. Beloklah sedikit kekanan.” Jelas sang pengawal menunjuk arah.

Aru mengangguk dan mempercepat laju kudanya. Dengan keahlian yang ia dapat entah dari mana, Aru mampu melakukan semua hal dengan sangat mudah seolah ia telah terbiasa.

“Itu sebuah jurang. Apa kau yakin?” tanya Aru yang mulai ragu.

“Tentu!” ia meyakinkan.

“Baiklah!” lalu Aru mempercepat lari kudanya. “Bersiap!”

“Aaaaaaahhhhh…….” suara teriakan ketiganya serentak membuat gema seluruh isi jurang bak sumur bulat yang hendak menelan mereka.

“Uhhhh!” Aru mencoba mengatur nafas ketika kuda itu menginjakkan kakinya di tanah dan berlari beberapa meter untuk mengatur pendaratannya.

“Woooh… Itu luar biasa!” ucap Aru tepat saat kuda itu berhenti di depan sebuah bangunan aneh.

“Yahh… Benar-benar luar biasa. Untung saja aku sudah latihan untuk menghadapi kondisi ini.” tutur sang Raja sambil memegang punggungnya yang terasa sedikit terkilir.

“Latihan? Apa maksudmu?” tanya Aru penasaran.

“Kami sudah memprediksi kedatanganmu dan hari ini.” katanya yang semakin membuat Aru kacau, “Aku mengungsikan penduduk Peri Biru karena ramalan tak mungkin berubah jika Amasia yang memprediksinya.” Tambahnya.

“Amasia?” Aru menggelengkan kepala tak paham.

“Dia adalah uskup sebelah Timur dunia bawah. Ia uskup wanita pertama yang lihai dalam meramal dan menghitung prediksi secara tepat. Namun, setelah ia membawa sepasang kekasih asing untuk tinggal disini, masyarakat menuduhnya penghianat. Sebab seorang uskup tak boleh pergi kemanapun dan tak boleh memihak siapapun.”

Aru mendengar dengan seksama penjelasan Raja tua dengan janggut putih panjang yang jatuh hampir serendah dadanya. Janggut itu bergerak naik turun seiring dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.

“Masyarakat salah paham mengenai sepasang kekasih yang dibawa olehnya. Lalu Amasia menemuiku sebagai pilihan terakhir untuk mengatakan yang sebenarnya.”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia berkata, ‘wanita itu tengah mengandung seorang bayi perempuan. Beri ia makan buah beri biru setiap menjelang petang, hal itu akan membuatnya tumbuh menjadi wanita tangguh. Setelah bayi itu lahir, bawa bayi itu pergi sejauh mungkin hingga ia tak mengenali dunia bawah. Berikan seseorang yang mau mengasuhnya dengan penuh cinta. Karena akan sangat menyakitkan bila ia harus tumbuh tanpa orang tua. Suatu saat bayi itu akan kembali untuk menyelamatkan kita. Benar-benar menyelamatkan kita!’ Dia berkata dengan tegas, namun aku mengetahui bahwa ada ketakutan dalam dirinya. Di sisi lain matanya memperlihatkan sebuah rasa lega yang luar biasa.” Manik mata Raja sedikit berkilat sedih.

“…dan bayi itu adalah aku, Tuan?” terka Aru.

“Ya. Kau benar.” Ia menyilangkan tangannya ke belakang dan berbalik menatap bangunan aneh di hadapan mereka.

“Seluruh masyarakat dunia bawah ada di dalam sana.” Jelasnya. “Masuklah terlebih dahulu.” Ia mengayunkan tangannya menuju pintu.

“Terima Kasih.”

Dengan perasaan yang gugup dan aneh ia membuka pintu tersebut sambil menelan salivanya. Aru kini termangu dengan betapa lebar dan luasnya bangunan ini, sehingga tampak seperti sebuah kota di dalam gedung. Ia seolah berdiri di atas sebuah balkon raksasa, di bawah sana terdapat banyak anak tangga dan podium serta banyak ruangan yang seolah memang dirancang untuk keadaan darurat. Tidak ada ruang pribadi atau kamar khusus. Mereka tidur, makan, dan beraktivitas hal lainnya di satu tempat.

Ketika seluruh tatapan masyarakat dunia bawah mengarah padanya, kaki Aru sedikit berat untuk melangkah. Ia sangat gugup sehingga harus berulang kali menarik nafasnya. Ia melirik Raja Admens yang sibuk menatap keseluruhan tempat ini.

“Emmm… Tuan.” Aru memulai percakapan. Raja Admens menatap ke arah Aru, “Kenapa harus aku? Mmm… Maksudku bahkan awalnya aku tidak percaya dengan kalian. Aku bisa saja berkhianat dan menghancurkan kalian, dan-”

“Ayah!” ucapan Aru terpotong ketika mendengar suara berat khas lelaki yang datang dari belakangnya. Aru menoleh ke sumber suara, betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang pria dengan rambut sebahu yang lurus jatuh kebawah. Warna kulit pucatnya menampakan garis belah tengah rambutnya dengan begitu jelas. Rahang itu tampak lebih tegas dari pria yang biasa ia temui di dunia tengah, tak ada penutup di dadanya yang tegap kecuali sebuah tali sebesar ukuran jari kelingking yang melingkar diantara pinggang dan bahunya sebagai pengikat antara dirinya dan tas busur panah yang ia bawa. Celana yang ia kenakan tampak agak aneh bagi Aru, tidak ketat namun tidak kendur. Berwarna hitam dengan dengan hiasan bulu merak di pinggangnya. Punggungnya penuh dengan tato tubuh manusia bersayap elang. Benar-benar penuh seni!

Ia menghamburkan pelukan pada Raja Admens -ayahnya, tepatnya-. Ada sebuah mahkota yang tampak terbuat dari ranting yang melingkar dari kening hingga bagian kepala belakangnya, bagi Aru itu lebih tampak seperti mainan anak kecil.

“Ahh…” suara tarikan nafas itu menghamburkan lamunan Aru yang sedikit terpana karenanya.

“Aru… Kau tidak perlu tahu alasan berada disini melalui kami. Karena kami tidak mempunyai hak untuk itu. Mari ikut aku, silahkan!” Ia berjalan melewati Aru dengan segala pesonanya. Tanpa basa basi, Aru mengikutinya segera agar semua cepat berakhir.

“Jadi, apa Ghore itu tidak mengejar kalian lagi?” tanyanya memulai percakapan.

“Emm… Tidak. Maksudku- Ya… Kurasa ia mengejar kami namun ia tak menemukan kami, mungkin karena kami terlalu.. emm.. kecil. Sehingga- Tapi, mengapa Ghore itu tidak bisa menemukan tempat ini?” ucapan Aru benar-benar tak jelas.

“Apa kau gugup?” pertanyaan itu berhasil membuat Aru tersentak.

“Tidak… Emm.. Maksudku tidak juga. Tapi, yaa.. Sejujurnya. Aku sangat gugup.” Aru pasrah.

“Sudah kuduga!” tebaknya sambil tersenyum penuh kemenangan. “Kau akan bertemu kedua orang tuamu, itulah sebabnya kau gugup. Dan itu sangat wajar. Tapi, bukankah mereka sudah tiada? Kau hanya perlu menemui mereka yang sudah menjadi mumi untuk mengetahui semacam rahasia besar yang bahkan kami juga tak tahu apa yang akan terjadi denganmu nanti jika kau masuk ke dalam-” ucapan pangeran yang belum diketahui namanya oleh Aru itu terhenti seiring dengan langkahnya yang terhenti juga, “ruangan ini! Silahkan!” pangeran itu membukakan pintu tersebut.

Aru yang benar-benar merasa takut hanya menatap ke dalam ruangan gelap di hadapannya. Ia ketakukan sampai-samapai harus beberapa kali menarik nafas dalam-dalam tanpa melangkah sedikitpun.

“Emm… Huhhhh.” Aru mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Sejujurnya aku tidak mengerti dengan semua ini. Namun anehnya aku tidak ingin banyak bertanya masalah ini pada Raja ataupun padamu.. emm..”

“Jousa. Namaku Jousa Therea.”

“Emm. Yah, Pangeran Jousa.”

“Tidak. Jousa saja!”

“Baiklah Jousa. Apa kau yakin ini aman?” tanyanya dengan telapak tangan menyatu yang terus di gosoknya. Jousa mengangguk yakin. “Maafkan jika aku sedikit merepotkan. Aku hanya merasa seperti bayi polos dan telanjang lalu lahir ke dunia ini kemudian dicekoki dengan berbagai hal yang mungkin sulit aku pahami. Namun karena aku seorang bayi, maka aku merasa hanya perlu mengikuti. Bukankah begitu, Jousa?” Aru menatap Jousa seolah membutuhkan kepastian dan dorongan kekuatan darinya.

Jousa hanya menggendikan bahunya lalu melangkah tapat di hadapan Aru yang malah membuatnya semakin gugup.

“Dengar!” mulai Jousa. “Yang kau katakan adalah benar. Mungkin kau merasa takut dan bingung, seolah semua terjadi sangat cepat dan tak terduga. Namun yang harus kau tahu adalah bahwa hatimu harus tetap yakin dengan hal ini. Jangan takut! Percayalah semua akan baik-baik saja. Karena ini bukan hanya demi keberlangsungan dunia bawah, tapi juga dunia tengah dan dunia atas. Ayoo!” Jousa membujuk Aru dengan sangat bijak.

Hingga saat itu juga ia mampu melangkahkan kakinya menuju pintu yang sudah terbuka tersebut, “Dengar. Di dalam sana ada sebuah pintu lagi. Dan disitulah semuanya dimulai.” Tambah Jousa.

Aru mengangguk mengerti sambil terus menerus menarik nafas dalam-dalam. Semua rasa takut harus di lawan ketika ia sudah memasuki ruangan itu, ia membuat penerangan lewat telapak tangan yang secara tiba-tiba menghasilkan api obor.

Ini sangat membantunya dalam keadaan takut dan gelap. Aru berjalan lurus sekitar beberapa meter, semakin dekat dan dekat. Dengan cahaya temaram ia mampu melihat samar-samar sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu mengkilap. Seolah pintu itu dibuat di masa depan karena terdapat sebilah cermin di depan yang tingginya tepat sejajar dengan kepala Aru. Melihat hal tersebut, ia pun mendekatinya dan menatap cermin itu dengan seksama. Berharap ada petunjuk disana, namun ia tak menemukan apa-apa.

-CTAAK-

Aru sedikit terkejut dengan suara semacam pembuka kunci yang cukup keras untuk ruangan yang sangat sepi.

Lalu tiba-tiba pintu itu terbuka perlahan. Pintu bergeser dari kiri ke kanan dengan perlahan, seolah ia ingin membuat suasana semakin mencekam dari biasanya. Aru tak sabar hendak melangkah ke dalam sana, namun jika saja pintu itu membuka lebih cepat ia sudah bisa mendapat petunjuk walaupun kecil.

“Baiklah! Ini dia.”

Langkah kaki Aru maju tepat melewati garis pintu geser tersebut. Kakinya yang telanjang dapat merasakan betapa lembabnya lantai di ruangan tersebut. Seketika ia belum bisa melihat apapun di dalam sana, ia menggeser pintu masuk yang berada tepat di belakangnya agar menutup. Kemudian ia mencoba meraba sesuatu di antara dinding dinding basah tersebut, dinding itu tampak sangat halus hampir terasa tanpa goresan. Seperti amat sangat benar-benar di persiapkan dengan baik untuk menyambut kematian ini.

-CTAKK-

Aru terkejut dengan bunyi suara seperti… SAKLAR!? -Benar saja! Tiba-tiba ruangan itu menjadi terang benderang dengan banyak cahaya lampu di atasnya.

“Aku tidak percaya ini..” gumam Aru sambil memandangi langit-langit ruangan itu.

Aru benar-benar merasa di tempat asing. Tempat seperti dunia tengah, hanya saja ini jauh lebih modern. Namun baginya ini tak seperti ke-modern-nan dunia atas yang katanya begitu ajaib dan luar biasa.

Ia tak percaya dengan dinding putih bersih nan halus yang ada di samping kanan dan kirinya. Semuanya bersih tanpa goresan ataupun bekas lembabnya air yang menetes atau mengalir lewat sela-sela penyatu antar langit-langit dan dindingnya. Tempat ini seperti di rawat dengan baik, padahal Aru tahu bahwa tempat itu tak pernah di masuki oleh siapapun. Hanya saja lantai marmer putih mengkilap ini sedikit terasa lembab di kaki Aru. Ruangan itu kosong, semuanya kosong hingga ia menemukan sebuah pintu coklat besar dengan daun pintu bulat berwarna emas yang mengkilap.

Aru meraih daun pintu itu dengan perlahan dan bergerak memutar pegangannya. Ia mengintip sedikit ke dalam ruangan yang akan ia masuki kali ini. Jantungnya semakin berdegup kencang saat ia berfikir akankah orang tuanya ada di dalam?

-CTAKK-

Ia tak percaya jika ia mendengar suara saklar lagi. Lalu seperti sebelumnya, lampu kembali menyala dengan terangnya. Namun masih nihil, ruangan ini masih kosong. Ia masih meraba dinding yang bersih dan menginjak lantai yang lembab. Hanya saja, kali ini ia menemukan sesuatu yang tampak seperti jendela di hadapannya. Ada sebuah vitrase yang sangat panjang hingga bagian bawahnya berserakan menyentuh lantai yang lembab. Vitrase itu berwarna putih dengan corak bunga dan daun besar berwarna lembut nan memukau.

Aru melangkah kesana. Ia meraih vitrase yang lembut itu, tangannya sangat gemetar. Ia tak sanggup jika harus menghadapi sesuatu yang ada di dalamnya. Sehingga ia berpikir, tak adakah hal lain selain vitrase di ruangan ini?

Lalu dengan gerakan frustasi Aru memutar-mutar tubuhnya perlahan sambil memandangi seluruh ruangan itu dengan seksama. Seolah tak menemukan apapun selain dinding polos, lantai lembab, dan saklar penyala yang entah dimana serta lampu di langit langit yang tampak sangat terang hingga ia tak bisa melihat apakah itu memang benar-benar lampu atau hanya sesuatu ajaib yang dapat bersinar. Riona meraba seluruh dinding dan lantai disana, inci per inci ia mengetuk, mendorong, mendobrak, mendengar lewat telinganya dan bergerak kesana kemari seperti orang bodoh padahal ia tahu bahwa itu tak mungkin berhasil. Riona menangis di tengah-tengah ruangan itu, ia menutup matanya dan menekuk lututnya di lantai. Ia menundukkan kepala sehingga rambut panjangnya menutupi seluruh bagian wajahnya.

“Siap aku? Kenapa aku berada disini? Tempat apa ini?” gumam Aru dengan banyak pertanyaan yang terbenam di kepalanya.

-SRAKK-

Aru yang terkejut dengan suara yang muncul tersebut lantas membuka matanya. Dan di hadapannya ia mendapati sebuah kertas berwarna coklat dengan banyak bagian yang robek di setiap tepinya. Ia menjadi semakin bingung dengan apa yang terjadi dengannya.

Lalu ia menatap ke langit-langit ruangan itu, lagi-lagi lampu tersebut terlalu terang menembus matanya. Hingga ia tak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di baliknya, padahal tinggi langit-langit itu hanya sekitar dua meter. Jika ia mengulurkan tangan sambil berdiri di atas bangku pendek sambil berjinjit sedikit saja, maka mungkin ia dapat meraih langit-langit itu. Namun nyatanya ia tak bisa melakukan apapun!

“Itulah mengapa kami membuat ruangan ini untukmu, Nak. Karena kau akan merasa aman disini. Bahkan ketika keadaan diluar sudah hancur berkeping-keping.”

Dengan perkataan “Nak” disana saja, sudah bisa disimpulkan bahwa kemungkinan besar yang menulis tulisan tersebut adalah kedua orang tuanya. Dan juga, kertas sebagai media penulisan sangat tepat jika dikaitkan sekitar 17 tahun lalu dimana dunia Atas masih belum di bangun dan bukan menjadi pengatur dunia seperti sekarang ini. Dahulu peran dunia Bawah sangat besar dalam kemajuan dunia Tengah, namun beberapa orang yang menginginkan dunia yang lebih kuat naik ke atas dan membangun dunia Atas dengan kecerdasan dan kemampuan mereka baik dari segi finansial dan otak yang luar biasa. Sehingga, orang-orang yang tidak mampu dari segi keduanya hanya tinggal di negeri tengah. Itulah mengapa negeri tengah memiliki radius kehidupan yang cenderung horizontal, karena mereka amat sangat kebingungan harus kemana. Sedangkan di sisi lain, sangat di sayangkan bahwa mereka tak mempercayai dunia Bawah yang dianggap sudah musnah dan hanya tinggal mitos dan legenda biasa. Hal ini juga membuat negeri Tengah memiliki tingkat kriminalitas dan rasa curiga yang berlebih baik pada dunia Bawah ataupun pada dunia Atas.

Sejenak Aru bangun dari lamunannya, lalu ia berdiri dan berbalik dengan cepat sekaligus berjalan mendekati vitrase itu.

-SSRRAAAKK-

Bunyi suara vitrase ketika Aru membukanya mampu membangkitkan rasa percaya diri yang amat sangat tinggi. Ia membuka vitrase seolah ia membuka kain jendela di pagi hari agar matahari dan udara pagi dapat masuk dengan bebasnya.

“Apa ini?” Aru mengerutkan alisnya pertanda bahwa ia sangat putus asa dan.. sedikit kecewa sepertinya.

Ia tak percaya dengan pemandangan yang ia lihat. Bukan mayat kedua orang tuanya, atau apapun itu yang berkaitan dengan jasad. Melainkan sebuah pemandangan dunia yang tampak sibuk namun terlihat sangat damai dan indah.

Kaca itu seperti layar raksasa, hanya saja ketika ia menyentuhnya seolah jari-jari itu tak membenarkan apa yang ia lakukan. Namun, pemandangan itu tampak amat sangat nyata dan realistis. Ia bisa merasakan kejujuran dan cinta di dalamnya. Keindahan dari wujud manusia yang sesungguhnya dan keharmonisan untuk saling menjaga dan mencintai satu sama lain.

Gambaran itu lalu menjadi buram hampir di seluruh bagian kecuali sepasang laki-laki dan perempuan yang duduk di atas sebuah kayu besar dengan wajah sedih dan ketakutan. Wanita itu perutnya membesar, dan laki-laki di sampingnya terus menggenggam tangan wanita itu dengan sangat erat dan penuh perlindungan. Lalu laki-laki itu memeluk wanita di sampingnya erat seolah ia tak ingin kehilangan. Kemudian tiba-tiba munculah seorang wanita paruh baya dengan pakaian abu-abu dan riasan wajah yang sangat cantik. Entah apa yang dibicarakan saat itu, namun sepertinya ia mengajak sepasang kekasih itu untuk segera pergi.

Lalu semuanya menjadi buram dan amat sangat buram hingga ia melihat kedua pasang kekasih itu duduk dengan cantik. Di hadapannya ada sebuah meja coklat yang bersih dan mengkilap, di bawahnya ada sebuah karpet berwarna merah gelap. Pakaian mereka di ganti oleh jubah putih bersih yang mengkilap seolah kain itu sangat mahal karena terbuat dari sutra. Keduanya duduk bersila sambil menatap secangkir minuman di depannya, tatapan itu tampak kosong, mata mereka berbinar seakan jiwa mereka sudah melayang.

Lalu kedua orang itu meminum setiap cangkir minuman berwarna pekat yang ada di hadapan mereka ke dalam mulutnya. Kedua orang itu menyipitkan matanya karena rasa pahit yang menggigit lidah mereka, beberapa detik kemudian kedua orang itu membulatkan mata mereka. Mereka terbatuk dan darah keluar dari mulut mereka, lalu tak butuh waktu lama tubuh mereka terjatuh kebelakang dan.. mati.

Layar itu kembali buram, Aru sedikit terkejut dengan perubahanya karena terlalu asik dengan cerita yang menegangkan. Gambar berubah menjadi adegan lain, dimana seorang wanita yang tertidur dengan posisi telentang dan seluruh tangan dan kakinya masing masing tiap bagian diikat dengan sebuah tali tambang yang besar dan panjang. Di ujung tali itu terdapat seekor kuda yang tersambung dengan tali yang mengikat wanita berambut panjang nan hitam itu.

Adegan berubah mengerikan sekaligus menjijikan ketika kuda-kuda tersebut dicambuk bokongnya agar mereka mau berlari. Dengan gerakan serentak, keempat kuda yang di cambuk itu menggerakkan kakinya dengan cepat. Hal ini mengakibatkan tubuh sang wanita terbelah menjadi empat bagian secara perlahan setiap kuda tersebut menambah kecepatan mereka. Benar-benar mengerikan!

Aru menutup mulutnya, matanya membulat tak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya. Tubuhnya menjadi dingin dan menggigil. Ketika berusaha menurunkan demam terkejutnya dengan menarik nafas dalam-dalam, layar itupun mati. Lalu berganti dengan kaca bening yang mengkilap. Memperlihatkan sepasang tubuh yang tergeletak di atas meja panjang berukiran rumit di tiap sisinya. Aru menyentuh kaca itu, meraba seluruh bagian mencari jika ada sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membuka kaca ini.

“Dapat!” cukup bersemangat ketika ia menemukan sebuah lubang di tepi sebelah kiri kaca tersebut. Aru mencoba segala cara, mulai dari memasukkan tangannya agar ia bisa menggeser kaca tersebut, atau menariknya. Terkadang ia malah memukul kaca tersebut dengan tangannya, atau yang lebih parahnya di mengetuk-ngetuk kaca tersebut.

Karena ia putus asa sebab sudah mencoba segala cara, Aru menempelkan ibu jarinya di lubang tersebut. Lubang yang tak lebih besar dari lingkaran jari tengah itu melebar, ia meleleh seperti air yang mengalir dari atas ke bawah dengan lembutnya. Aru memundurkan kakinya beberapa langkah, ia tidak menyangka jika hanya dengan menempelkan ibu jarinya mampu melelehkan kaca tersebut seperti air yang mengalir.

Lelehan kaca tersebut masuk ke dalam ruangan berisi dua orang mayat yang tergeletak di atas meja panjang. Lalu seolah meja tersebut memiliki magnet, setiap kaki meja yang ada disana meresap lelehan air tersebut dengan cepat. Membuat ukiran-ukiran rumit yang ada disana bercahaya dan mengkilap, membentuk semacam pola yang saling berkaitan antara meja satu dengan meja lainnya.Garis garis rumit itu menjadi semakin jelas ketika Aru memandanginya dengan seksama, ia tahu bahwa pola itu pasti memiliki makna tertentu. Dan ketika seluruh lelehan bening itu merata berada tepat di lekukan ukiran, sedetik kemudian meja itu bercahaya amat sangat terang membuat Aru memejamkan matanya. Kemudian seperti tadi, cahaya itu hilang begitupun lelehan yang berada di dalam lekuk-lekuk detail ukiran tersebut.

Aru melangkah perlahan mendekati dua mayat di hadapannya -yang menurut kertas misterius itu- mereka adalah kedua orang tuanya. Kakinya gemetar, pundakanya yang telanjang memperlihatkan dengan jelas bahwa nafasnya tengah sulit di atur.

Pada saat yang bersamaan ketika Aru berhasil melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut, suara tarikan nafas yang amat sangat kuat mendominasi telinganya. Lalu suara buangan nafas juga mendominasi telinganya kembali. Dengan cepat ia menatap kepada dua mayat di depannya, kulit pucat itu berubah warna sedikit kemerahan, rambutnya yang tampak kering dan kusam menjadi sedikit mengkilap. Riona belum menatap wajah mereka, karena posisi mayat itu berlawanan dengan posisinya. Kakinya ada di ujung sana, sedangkan kepalanya dekat dengan tubuh Aru.

Aru berdiri mematung tanpa suara ketika kedua mayat di depannya bangun dan duduk saling menatap satu sama lain. Mereka memperhatikan tubuh dan kulit mereka yang berubah, mereka meraba-raba kepala bahkan ujung kaki mereka.

“Apakah dia telah datang, sayang?” tanya sang wanita dengan suara berat penuh wibawa yang tak melepaskan kesan anggunnya.

“Aku rasa begitu.” Jawab laki-laki di sampingnya.

Lalu mereka berdua membalikkan tubuhnya dan menatap dengan tatapan penuh senyum yang sulit diartikan oleh Aru. Aru diam mematung tak bergeming, susah payah ia menelan salivanya. Mulutnya sedikit terbuka ketika detik itu juga harus menghadapi mayat hidup yang tersenyum ke arahnya.

Aru memperhatikan wanita berambut hitam legam tersebut. Wajahnya yang tirus, dengan hidung kecil, serta mata coklat gelap, dan kulit putih sedikit kekuningan. Lalu tatapannya menuju laki-laki di sebelahnya, dengan tubuh ramping yang hampir dikatakan kurus, rambut sedikit gondrong dengan hidung mancung dan alis tebal serta rahang keras yang hampir rapuh karena usia. Mereka berdua persis seperti…

“Kaliankah orang yang muncul di layar tadi!?” dengan tubuh gemetar ia berani bertanya pada mereka.

“Ya. Benar, Nak.” Jawab laki-laki itu.

Aru membulatkan matanya ketika laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan “Nak”.

“Apakah kalian juga yang menulis surat misterius tadi!?” Aru perlahan memundurkan langkah kakinya.

“Iya. Nak.” Kali ini giliran wanitanya.

“Siapa kalian? Kenapa kalian memanggilku seperti itu? Apakah kalian benar-benar orang tuaku?” Aru mulai merasa khawatir.

Dua orang itu hanya tersenyum sambil menatap satu sama lain dengan isyarat yang tak dipahami oleh Aru.

“Dunia itu luas dan tak seluruhnya kita mampu memahami kenapa dan bagaimana. Tapi, kami menciptakan ruangan ini untukmu.” Laki-laki itu turun dari tempatnya dan menyentuh dinding polos di hadapannya. Ia menyentuh dengan satu sentikan jari lalu munculah semacam gambaran cerita seperti yang ia lihat di layar kaca tadi.

“Lihat!” katanya sambil menatap Aru. “Apa kau tinggal di sana, Nak?” tanyanya.

“Ya. Aku tumbuh dan besar disana.” Aru mulai berani melangkah sedikit demi sedikit.

“Jika begitu. Kita harus keluar sekarang.” Lanjutnya.

Kemudian dengan gerakan cepat, wanita yang sedari tadi duduk di atas tempatnya turun dan melangkah mendatangi Aru. Ia menatap Aru penuh kasih dan membelai rambut milik Aru, awalnya Aru sedikit mengelak. Namun ketika wanita ini menyentuh puncak kepala Aru dan menatap Aru dengan haru, sedikit saja Aru mulai merasa nyaman dan tenang.

“Kau tidak perlu takut. Sebab Raja akan menjelaskan kepada kita, dan memberitahu semuanya.” Tuturnya dengan amat sangat lembut.

“Semuanya?” tanya Aru meyakinkan.

“Semuanya!” jawab wanita itu yakin.

 

 

*by Azani Pevi Putri – Anggota YOT Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *