YOTSolo – Mengejar Inspirasi dari Seorang Veteran

YOTSolo - Mengejar Inspirasi dari Seorang Veteran

Pengikisan jiwa nasionalisme terjadi akibat banyak faktor, mulai dari keluarga, lingkungan, media, dan bahkan pendidikan formal atau informal hanya menekankan pada aspek teori saja, sedangkan praktek dan penghayatannya masih bisa dibilang kurang. Untuk itu, Catalyst Division Young On Top Solo (YOT Solo) yang bergerak di bidang pendidikan, mengadakan kegiatan YOT Inspiration, yaitu mengejar inspirasi dari seorang veteran. Kegiatan ini bermaksud supaya veteran dapat menceritakan peristiwa yang terjadi pada masa itu kepada anak muda yang tergabung dalam komunitas YOTsupaya dapat meresapi hikmah dari perjuangan merebut kemerdekaan.

Pada hari itu, Sabtu, (8/8), kegiatan yang berlangsung di Pusat Pengambangan Bisnis (Pusbangnis) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS)yang terletak di barat perlintasan kereta api Purwosari, dibuka dengan ucapan selamat datang oleh Presiden Young On Top Solo, Shofwan Muis, yang merupakan pemimpin dari komunitas pemuda yang ingin sukses di usia muda.

Acara dilanjutkan dengan mendengarkan cerita dari Pak Djoko, seorang veteran prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut yang pada masanya pernah ikut berjuang di Laut Aru. Nama lengkap beliau adalah Letkol Laut (T/Purn)H. Achmad Djoko Rahardjo. Suami dari Umi Salamah itu mendapat tugas sebagai teknisi ahli mesin kapal Motor Torpedo Boat (MTB) saat Trikora.

Beliau menceritakan bagaimana pertempuran yang terjadi di Laut Aru, yang merupakan bagian dari operasi Trikora itu bisa terjadi. Bermula dari Belanda yang tidak mau menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia walaupun saat itu Indonesia sudah merdeka. Keadaan ini disikapi Indonesia dengan menempuh jalur damai dengan melakukan perjanjian-perjanjian, namun selalu mengalami dead lock sehingga Presiden Soekarno bertekad buat untuk memerintahkan supaya bendera Merah Putih tertancap di tanah Irian Barat pada tanggal 17 Agustus 1962. Untuk mengobarkan semangat para pejuang, Bung Karno menuturkan bahwa Indonesia cinta damai, namun lebih cinta kemerdekaan.

Berangkatlah empat kapal MTB dari Tanjung Priok Jakarta menuju Irian Barat, yaitu KRI Matjan Tutul, Kri Matjan Kumbang, KRI Harimau, dan KRI Singa. Tujuan dari diberangkatkannya kapal-kapal ini adalah untuk infiltrasi prajurit ke Irian Barat. Sayangnya kapal-kapal tersebut tidak dilengkapi dengan torpedonya karena saat itu sekutu tidak mengizinkan.Walau begitu,dengan penuh percaya diri para pahlawan ini tetap melanjutkan pelayaran, tutur Pak Djoko.

Di perjalanan, KRI Singa tidak bisa meneruskan karena kehabisan bahan bakarsehingga hanya tinggal tiga kapalyang tetap meneruskan perjalanan.Akan tetapi, ternyata seluruh akses jalur laut menuju Irian Barat saat itu sudah dikepung oleh Belanda menggunakan kapal perang dengan pralatan lengkap. Tiga Kapal Indonesia itu tertangkap oleh sinyal Belanda sehingga terjadi penyerangan di Laut Arafuru. Komodor Yos Sudarso akhirnyamemerintahkan dua kapal lainnya untuk mundur dan memilih untuk mengorbankan dirinya dan seluruh awak kapal di KRI Matjan Tutul sebagai pengalih perhatian musuh hingga akhirnya kedua kapal selamat, namun KRI Matjan Tutul tidak terselamatkan.

Setelah KRI Matjan Tutul tenggelam, beliau mendapat tugas di KRI Beruang sebagai Kepala Kamar Mesin (KMM) dan memerbaiki kapal-kapal MTB untuk serangan Trikora lanjutan.

Jales Veva Jaya Mahe, Di Laut Kita Jaya. Dengan bangganya Pak Djoko mengucapkan kalimat ini sebagai penutup diskusi yang berlangsung sekitar dua jam itu. Beliau juga menambahkan nasehat pada kita semua agar senantiasa hidup rukun dengan sesama. 

Tulis Komentarmu