Mengenal Smiling Depression, Depresi yang Disembunyikan di balik Senyuman

Mengenal Smiling Depression, Depresi yang Disembunyikan di balik Senyuman young on top

Seseorang yang sering tersenyum belum tentu bahagia. Bisa jadi, ia mengalami smiling depression atau senyum untuk menyembunyikan depresi. Terlihat bahagia di luar, tapi banyak sekali kesedihan dan beban yang dirasakan di dalam.

Untuk membahas lebih jauh mengenai smiling depression, yuk kita simak obrolan bareng Agata Ika Paskarista, Education and Clinical Child Psychology and TopKarir Klinik Expert.

 

Apa itu smiling depression dalam psikologi?
Smiling depression sendiri sebenarnya belum masuk sebagai kategori gangguan mental tapi lebih ke istilah populer. Namun, smiling depression juga dikaitkan dengan depresi mayor dengan fitur atipikal. Smiling depression digunakan ketika menggambarkan keadaan seseorang yang tetap tersenyum dan terlihat bahagia tapi di lain sisi dia sedang mengalami depresi atau false smile.

 

Apa gejalanya? Adakah gejala dari sisi psikologis nya?
Karena smiling depression belum tergolong sebagai diagnosa gangguan mental, maka kita kenali dulu gejala depresi secara umum:

  1. Perasaan tertekan
  2. Kehilangan ketertarikan atau kesenangan pada sejumlah besar aktivitas
  3. Penurunan/peningkatan berat badan atau perubahan selera makan yang signifikan ketika tidak melakukan diet.
  4. Insomnia atau hypersomnia hampir setiap hari.
  5. Kelelahan atau kehilangan tenaga hampir setiap hari
  6. Merasa tidak berharga atau memiliki rasa bersalah yang berlebihan
  7. Penurunan kemampuan berpikir atau berkonsentrasi, sulit menentukan
    pilihan
  8. Pikiran tentang kematian yang berulang, pikiran tentang bunuh diri yang
    berulang.

Setiap orang bisa saja memiliki tingkat depresi yang berbeda-beda.

 

Apakah ini berbahaya?
Seseorang yang mengalami depresi berat jika tidak segera mendapatkan penanganan pasti berbahaya karena seseorang yang mengalami depresi sering berpikiran untuk menyudahi hidupnya. Menutupi keadaannya dengan senyum dan terlihat bahagia merupakah langkah denial (penolakan) dan merasa bahwa tidak ada apa-apa dengan dirinya.

 

Apa pemicunya? Adakah pemicu dari sisi psikologis nya?
Seseorang bisa saja sudah merasa ada gejala-gejala depresi ataupun sudah didiagnosa oleh psikolog/psikiater sebelumnya. Salah satu gejala orang depresi adalah merasa hidupnya adalah kesalahan dan merasa tidak berguna. Nah, karena dia tidak ingin membebani orang lain, dia menutupinya dengan tersenyum, untuk mengurangi beban orang di sekitarnya. Selain itu karena stigma dan masyarakat belum aware tentang gangguan mental bisa membuat seseorang yang mengalami depresi ini malu, sehingga menutupinya dengan tersenyum.

 

Apakah smiling depression ini bisa kita sadari kalo kita sedang mengalaminya? Apa ciri-ciri orang yang sedang mengalami ini?
Smiling depression bisa saja terjadi pada diri kita yang tidak berusaha jujur kepada diri sendiri, secara sadar menutupi depresi kita dengan senyuman. Namun bisa juga terjadi secara tidak sadar.

Jika kita melihat perspektif lain dalam smiling depression, kadang menolak bahwa kita sedang mengalami depresi karena ego kita sendiri ataupun orang sekitar kita yang tidak/belum bisa menerima.

Ketidakjujuran ini bisa jadi dikarenakan tuntutan ego dari dirinya sendiri ataupun penghakiman dari orang-orang di sekitarnya. Smiling depression bagi sebagian orang mungkin saja menjadi tameng untuk menghadapi kehidupan yang keras, berusaha tetap tegar dari luar.

Pengidap smiling depression terlihat sangat normal jika di depan umum. Kalau kita lihat sosok Joker, begitulah penggambarannya, bahkan cenderung aktif, ceria, optimis dan memiliki kehidupan sosial sama seperti orang yang normal.

 

Apa dampak buruk dari smiling depression ini bagi pengidapnya?
Dampak buruknya jika seseorang dengan smiling depression nampak begitu aktif dan berenergi padahal depresinya berat akan dikhawatirkan energinya dapat digunakan untuk menindaklanjuti pikiran bunuh diri yang sering dia pikirkan.

Stop Bilang ‘Jangan Baperan’ Mulai dari Sekarang!

Nah itu dia obrolan tentang smiling depression bareng Agata Ika Paskarista, Education and Clinical Child Psychology and TopKarir Klinik Expert. Kalau kamu sedang mengalami masalah, ada baiknya untuk cerita kepada orang lain untuk bisa meringankan bebanmu. Hindari juga asumsi kalau kita gak berguna dan gak dibutuhkan di dunia ini ya. Daripada energi kamu terkuras untuk memikirkan hal-hal tersebut, ada baiknya energinya digunakan untuk melakukan hal-hal yang kita suka. Semangat!

[wp_ulike]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *