Rio Dewanto: Kreativitas Lahir dari Spirit Kolaboratif dan Kolektif

Rio Dewanto Kreativitas Lahir dari Spirit Kolaboratif dan Kolektif

 

“Kreativitas membantu kami untuk menjalankan Filosofi Kopi. Buat kami, kreativitas sangat penting dan sudah jadi core atau jantungnya Filosofi Kopi. Apalagi kalau kreativitas yang original dari kalian, itu gak ada harganya dan orang akan appreciate itu daripada nominal sebuah uang. Ada rasa bangga dan senang,” Rio Dewanto – Founder Filosofi Kopi.

Hai YOTers! Yuk simak obrolan seru bareng Rio Dewanto, Founder Filosofi Kopi yang akan bercerita tentang perjalanannya dalam membangun Filosofi Kopi dan harapannya terhadap industri kopi lokal.

 

Menelisik Filosofi dari Filosofi Kopi

Berawal dari buku yang ditulis oleh Dewi Lestari dengan judul yang sama, Filosofi Kopi, kisah ini diangkat ke dalam sebuah film oleh Angga Sasongko, Anggia Kharisma dan Chicco Jericho. Hingga kemudian, Rio Dewanto mendapatkan kesempatan untuk bisa memerankan tokoh Jody, kawan setia Ben yang diperankan oleh Chicco Jericho. Awalnya, kedai Filosofi Kopi yang berlokasi di Melawai, Jakarta Selatan merupakan bagian dari support system untuk lokasi shooting film Filosofi Kopi. Namun, ide lain muncul mengenai pengembangan Filosofi Kopi setelah shooting film selesai dijalankan.

“Selesai kita shooting di sini, keluar ide kalau lokasi shooting-nya kita sewa 3-5 tahun. Jadi, setelah dipakai untuk shooting, ya sudah kita running bisnisnya. Padahal kita semua gak ada background di FnB business. Lalu selesai shooting kita build, kita cari man power-nya, cari-cari model bisnis coffee shop seperti apa.”

Ingin memulai sesuatu yang baru, empowering petani kopi hingga seluruh stakeholder kopi juga jadi latar belakang didirikannya Filosofi Kopi. Hingga akhirnya, untuk mewujudkan ide tersebut berbagai project dilakukan dengan terjun langsung ke dunia kopi yang lebih luas lagi. Mulai dari meriset biji kopi, varietas kopi hingga kesejahteraan petani kopi.

 

FILKOP 1

foto: Instagram @filosofikopi

 

Filosofi Kopi dan Kesejahteraan Petani Kopi

Membantu kesejahteraan petani kopi merupakan salah satu visi dari Filosofi Kopi. Berangkat dari tujuan tersebut, Rio Dewanto menelusuri setiap potensi kopi lokal di Indonesia dengan bertemu para petani kopi untuk mencari tahu lebih banyak mengenai varietas kopi hingga kesejahteraan petani kopi itu sendiri. Bersama dengan Muhammad Aga (Barista), Robi ‘Navicula’ (vokalis band Navicula dan petani kopi) untuk bertemu dengan petani kopi, eksportir, barista dan semua stakeholder hingga semua orang yang terlibat dalam kopi untuk sekadar sharing dan belajar lebih jauh mengenai kopi, “jadi ada 3 cara pandang yang berbeda untuk bertemu narasumber: yang satu mikirin sisi bisnis, yang satu mikirin teknis cara ngejual di kedai kopi dan yang satu memikirkan pertaniannya.” Dari sana, Rio banyak mendapatkan pengetahuan mengenai masih banyaknya petani kopi yang ketergantungan dengan tengkulak, minimnya edukasi tentang bisnis kopi hingga produktivitas kopi.

Untuk mendukung keberadaan kopi di Indonesia, Filosofi Kopi menjual berbagai menu kopi dengan ciri khas lokal, seperti Kopi Tiwus, Lestari dan Best Perfecto. Hingga setiap bulannya ada beans of the month untuk mengangkat potensi kopi lokal dari setiap daerah di Indonesia sekaligus direct sale ke petani kopi yang memproduksi.

“Saya baru aja balik dari Gayo. Di sana, saya cari petani, perbanyak networking buat mereka siapa tahu ke depannya saya bisa langsung beli kopi dari mereka. Kemudian saya jual di sini dan nanti biasanya kita promosikan juga, nama daerahnya di mana, desa apa, kopinya apa, nama petaninya siapa dan kemudian kita buat cerita dari situ. Cerita perjalanan saya atau cerita as a Filkop, perjalanan bagaimana saya bisa menemukan petani itu.”

Bagi Rio, membuat ekosistem kopi menjadi sustainable merupakan hal penting yang harus didukung oleh setiap pihak yang terlibat. Banyak cara yang bisa dilakukan, mulai dari skala lokal hingga global yang dapat ditempuh untuk menyejahterakan dan melestarikan kopi lokal.

“Kalau jalan-jalan di Jakarta mungkin ada ribuan coffee shop dan gak sedikit dari mereka yang terjun ke petani untuk membantu mereka menjual kopi yang terbaik dengan harga yang sewajarnya. Saya berdoa spirit ini bisa terus sama-sama kita jalankan. Gak cuma Filkop saja, tapi kontribusi semua orang yang ada di industri kopi di Indonesia itu penting untuk menyelamatkan kopi-kopi di Indonesia.”

 

Bisnis yang Berangkat dari Story Telling

Satu hal yang dipahami oleh Rio Dewanto dalam merintis bisnis adalah setiap brand harus tahu brand identity mereka yang berangkat dari adanya storytelling dari produk yang ditawarkan. Termasuk juga saat membangun Filosofi Kopi yang berangkat dari buku Dewi Lestari hingga realisasi film dengan mengajak audiens untuk terlibat dengan mengadakan ‘the first user generated movieproject. Dalam project ini, audiens diajak untuk menentukan konsep dari setiap detail film, seperti interior kedai, baju yang dikenakan Ben dan Jody hingga kendaraan yang digunakan. Hingga memberi kesempatan kepada audiens untuk menulis alur cerita film Filosofi Kopi 2. Baginya, hal ini dapat membantu pembentukan storytelling Filosofi Kopi itu sendiri, karena setiap konsep yang diangkat memiliki ceritanya.

“Pada intinya yang saya alami ketika membangun sebuah bisnis adalah kita harus tahu apa yang kita jual, brand identity kita apa, trus juga kekuatan brand kita apa dan itu berangkat dari storytelling. Jadi, kalau mau membangun sebuah bisnis dari awal atau mau merealisasikannya, harus kuat dulu apa konsepnya dan storytelling-nya.”

 

FILKOP 2

foto: Instagram @filosofikopi

 

Spirit Kolaboratif dan Kolektif Menciptakan Kreativitas

Bekerja secara kolaboratif dan kolektif mampu menciptakan kreativitas yang tidak mengenal batas. Hal tersebut yang dipahami oleh Rio dalam industri kreatif maupun dalam industri bisnis. Setiap komponen di dalamnya menunjang lahirnya kreativitas melalui berbagai medium dan berbagai cara. Bekerja secara kolaboratif dan kolektif juga menciptakan adanya berbagai pandangan saat menemukan hambatan.

“Kreatif itu gak ada batasan, apapun itu. Yang saya pelajari dari akting, ketika saya menciptakan sebuah karakter, biasanya saya mencoba untuk menciptakan sejauh mungkin atau se-ekstrim mungkin yang bisa saya kasih. Buat saya penting juga bekerja kolaboratif, itu jadi salah satu cara untuk mendapat masukan dalam menciptakan sesuatu yang luar biasa. Saya senang ketika menjalankan sebuah ide kreatif tapi ada spirit kolaborasi di dalamnya,” tutupnya.

 

 

Mau mendapatkan info bermanfaat lainnya? Yuk, gabung di FB Group Young On Top sekarang juga!

Kalian juga bisa mengikuti kegiatan kami di:

Twitter: @YoungOnTop

Facebook Fan Page: Young On Top / @youngontopYOT

Facebook Group: Young On Top

Instagram: @YoungOnTop

Website: youngontop.com

Kaskus: YOTKC.Kaskus.co.id

Youtube: Young On Top TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *