Ku Pacu Empatiku untuk Masyarakatku

 

Ku Pacu Empatiku untuk Masyarakatku

 

Sabtu, 28 Juli 2018 adalah hari yang menggemparkan rakyat Indonesia serta meluluhlantakkan fisik dan psikis ribuan warga Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Hari itu sebagai hari pertama Lombok diporak-porandakan oleh gempa. Tanah seribu masjid itu menjadi sorotan pemberitaan berkat datangnya gempa 6,8 SR (tribunnews.com). Masih belum hilang dari trauma gempa itu, warga Lombok Timur harus menerima kenyataan pahit bahwa gempa 7,0 SR kembali mengguncang tanah mereka pada 5 Agustus 2018. BBC.com meliput, terdapat total 101 gempa susulan yang tak henti-hentinya menghampiri pulau Lombok. Gempa yang datang pun tak mengenal waktu. Ketika mata para warga hendak terlelap, gempa itu terus, terus, dan terus menerus datang. Gelisah benak serta batin yang diselimuti rasa sedih mendalam melihat 436 jenazah yang jatuh akibat guncangan gempa utama dan susulan itu. Belum lagi darah dari luka yang belum kering di tubuh 1.033 jiwa.  Hari demi hari, 400 ribu jiwa pengungsi lewati hari dengan rasa takut, khawatir, dan duka yang merasuk dalam dada.

Namun, siapa sangka bahwa masyarakat hari ini yang seringkali kita pikir antipati dan individualis, menopang bahu dan mengulurkan tangan kepada warga Lombok Timur yang sedang butuh pengasah asa yang sedang tumpul. Ya, dari berbagai penjuru masyarakat Indonesia, baik dari organisasi maupun beragam kalangan di luar sana, berlomba-lomba untuk peduli terhadap saudara setanah air. Berbagai kampanye dan ajakan-ajakan masif demi bantuan Lombok dari segala kalangan, siapapun dan apapun identitas agama, suku, bahkan ras terus bertebaran di dunia nyata maupun maya. Bantuan yang diberikan pun tidak sedikit dan tidak tanggung-talnggung.  Penulis mengamati di media sosial Instagram, terdapat salah satu influencer yang membuat ajakan untuk memberi sumbangsih kepada saudara Lombok. Ternyata hasilnya sangat luar biasa, influencer ini berhasil mendapatkan dana hampir 40 juta dari target 50 juta hanya pada 1 jam pertama. Bahkan berkat respon masyarakat yang luar biasa, target sumbangan dinaikkan dan memperoleh dana 200 juta. Tak mau kalah, terpotret ada salah satu bocah bangku SD yang ikut memberikan sumbangan lewat ajakan bantuan kepada Lombok yang di-upload oleh salah satu pemimpin daerah di Indonesia. Bocah ini meminta maaf karena hanya bisa memberikan uang Rp10.000 untuk diberikan kepada Lombok. Bukan soal besaran dana, namun kepedulian yang tumbuh dari anak seusianya patut kita apresiasi. Tak hanya itu, masih banyak sekali persuasi masif untuk berempati kepada korban gempa Lombok ini. Bangga? Tentu layak kita tancapkan dalam dada. Ternyata, persatuan hati rakyat Indonesia masih ada. Kejadian ini menepis banyaknya masyarakat antipati di Indonesia, sekaligus memberi harapan bahwa jiwa-jiwa empati itu masih terbibit dan tumbuh di negeri kita tercinta ini.  

Tindakan saling peduli terhadap sesama manusia akan terwujud jika ada empati dalam diri kita. Hal ini dikarenakan empati akan mendorong seseorang untuk bertindak membantu orang lain. Penelitian Robert dan Strayer mengungkapkan bahwa empati berhubungan dengan perilaku prososial. Perilaku prososial ini diantaranya termasuk menolong, bertindak jujur, kerjasama, serta berbagi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa empati akan membentuk pribadi seseorang yang lebih peduli terhadap orang disekitarnya. Hal ini dikarenakan empati adalah sebuah kemampuan seseorang dalam memahami kondisi orang lain. Seperti yang dituliskan dalam jurnal penelitian yang disusun oleh Gusti, Empati adalah sebuah kemampuan yang dimiliki individu untuk mengerti dan menghargai perasaan orang lain dengan cara memahami perasaan dan emosi orang lain serta memandang situasi dari sudut pandang orang lain. Penelitian itu disusun dengan merujuk pada penelitian empati menurut Leiden, Baron, dan Byrne yang juga menyatakan hal serupa bahwa empati adalah sebuah kemampuan. Lantas, jika empati adalah sebuah kemampuan, tentu setiap diri manusia dapat menumbuhkan empati. Ternyata empati tidak kita tumbuhkan dari nol. Menurut Hurlock, kemampuan empati sudah bisa kita miliki sejak kita menduduki bangku Sekolah Dasar atau pada usia 6 tahun. Maka, setiap insan tentu memiliki dasar untuk dapat berempati. Akan tetapi ada orang yang lebih mendalami kemampuan itu ada juga yang tidak. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis akan menyampaikan beberapa hal yang mungkin dapat membantu diri kita untuk menjadi jiwa-jiwa empatif.

Menumbuhkan Kemampuan Empati

  1. Objektif dalam memandang masalah orang lain.

Mungkin banyak dari kita yang berpikir bahwa empati hanya berbicara soal rasa. Padahal untuk dapat merasakan perasaan masyarakat yang terkena musibah kita harus mampu berpikir secara objektif terhadap masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Tantangan terberat dari seseorang sulit untuk berempati adalah karena kita senantiasa menggunakan sudut pandang pribadi dalam memandang masalah masyarakat. Ketika dinamika serta dampak yang dihasilkan dari masalah tersebut dipandang secara menyeluruh. Maka kita dapat mengetahui bahwa ternyata masalah yang mereka miliki akan menimbulkan bencana yang jauh lebih kompleks dan signifikan. Seperti halnya ketika kita melihat fenomena kerusakan remaja saat ini yang begitu merajalela di Indonesia. Masalah yang dihadapi oleh anak muda yang seharusnya menjadi pelajar, namun harus menimang anak. Mereka seharusnya membaca buku, bukan menghisap obat terlarang. Kita lihat lagi dan lagi dampak yang akan dihasilkan secara masif. Pemuda adalah harapan bangsa, lantas bagaimana nasib bangsa jika muda-mudi terjerat arus kerusakan? Apa jadinya Indonesia?

Dengan memandang masalah secara keseluruhan dan melihat dampak dari masalah itu secara luas, maka kita dapat mengerti secara objektif masalah yang sedang dialami oleh masyarakat. Oleh karena itu, menumbuhkan kemampuan empati harus diiringi dengan kemampuan berpikir yang objektif dan rasional untuk melihat permasalahan yang dialami masyarakat serta solusinya. Dengan demikian, kita dapat menghayati bahwa sesungguhnya masyarakat butuh uluran tangan kita untuk segera bertindak. Mereka butuh untuk dibawa pada liang kemaslahatan sebelum masuk ke liang lahat. Mari berpikir, pikir, dan pikirkanlah masalah masyarakat serta solusi bagi mereka.

  1. Menumbuhkan rasa atas masalah mereka.

Ketika kita telah mengetahui kompleksitas masalah masyarakat, tak lantas kita akan langsung bergerak untuk membantu. Hal ini dikarenakan kita belum merasakan masalah yang mereka alami. Kemampuan empati membutuhkan rasa kita untuk memahami rasa orang lain. Maka posisikanlah diri kita jika berada di tempat mereka. coba rasakan apa yang mereka rasakan. Ketika kita menghayati nasib masyarakat Lombok, bagaimana rasanya menjadi seorang pengungsi yang tak tentu nasib bahkan harus berhadapan dengan maut. Setiap detik, menit, jam, kita harus dihadapkan pada kondisi gempa bertubi-tubi yang mengancam nyawa. Tak siap, tentu tak siap, siapa yang akan siap? Tak ada. Dengan merasakan masalah mereka lewat memposisikan diri di tempat mereka, maka kita akan mulai bergerak untuk meringankan beban mereka. Rasa, rasa, rasakanlah masalah masyarakat dan mulailah bergerak untuk memecahkannya.

  1. Sadar posisi sebagai agen pembangun masyarakat.

Pikiran dan perasaan yang sinkron untuk menghayati masalah di masyarakat, akan mendorong seseorang untuk membantu sesama. Namun, tindakan itu pun perlu dimaknai agar kita terus melakukannya. Pemaknaanya adalah dengan mengingat posisi diri kita, siapa diri kita, serta demi apa kita hidup. Hal ini adalah bentuk penyadaran diri tentang identitas kita. Ingat, bahwa kita manusia hidup bermasyarakat, saling menopang satu sama lain, tidak saling meruntuhkan. Akan sangat luar biasa jika setiap pemuda Indonesia mengenalkan identitasnya sebagai agen perubahan. Yaitu, agen yang senantiasa bergerak untuk memberikan kontribusi terbaik demi kemajuan umat manusia. agen yang senantiasa membangun dan mengokohkan, bukan meruntuhkan.

Sadari diri kita sebagai agen perubahan demi kebaikan, untuk mengajak mereka yang sedang nestapa dalam keimanan, kemiskinan, dan kesusahan. Jika kita menghayati diri sebagai agen pembangunan masyarakat maka empati kita untuk masyarakat akan tumbuh secara niscaya. Sadar, sadar, sadarkanlah dirimu adalah agen perubahan untuk masyarakat.

2+

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *