Yuk, Kenalan Sama Bayu Mahendra Saubig! Sosok Inspiratif Dibalik Inovatifnya Tumbas.in

Di era digital sekarang ini, ada beberapa manfaat yang bisa kita rasakan secara langsung. Seperti menjalankan berbagai kegiatan sehari-hari dalam berbagi bentuk menjadi sangat mudah, komunikasi bertatap muka antar belahan dunia menjadi mudah, atau bahkan mengakses berbagai pengetahuan untuk referensi pekerjaan menjadi lebih ringan. Selain keuntungan dari dunia digital yang semakin gila dan menguasai dunia, tentu saja ada kekurangan dibalik itu semua. Berbagai kekurangan itu pun merambah ke berbagai bidang, salah satunya adalah keberadaan pasar tradisional yang langka. Melihat kondisi seperti itu, Bayu Mahendra Saubig akhirnya memutuskan untuk membuat suatu karya agar keberadaan pasar tradisional bisa seimbang dengan keberadaan zaman digital yang semakin berkembang. Yuk, simak ulasan mengenai kisah Bayu dalam membangun karyanya!

Memiliki latar belakang pendidikan dibidang arsitektur tidak menutupi kemungkinan untuk mengembangkan kemampuan bisnisnya
Semasa kuliah dan setelah lulus, Bayu sudah mengenal dunia bisnis menjadi seorang freelancer arsitektur, yang kemudian menjadi kontraktor kecil-kecilan. Bayu menganggap karena bisnisnya itu memiliki impeks sosial tidak terlalu meluas, akhirnya Bayu bekerja penuh waktu di perusahaan BUMN.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Bayu meniti karier terlebih dahulu sebagai pekerja dalam bidang konstruksi
Setelah mendapatkan gelar sarjananya pada tahun 2006, Bayu memulai kariernya di bidang konstruksi selama delapan tahun dan pegawai BUMN selama empat tahun di Jakarta. Bayu memilih untuk meninggalkan karier dengan gaji yang menjajikan karena dia ingin mempunyai karya untuk membangun negara lebih baik.

Awal terbentuknya Tumbas.in ialah saat Bayu mengikuti kegiatan Gerakan Nasional Seribu Startup Digital
Gerakan Seribu Startup merupakan sebuah gerakan untuk mewujudkan potensi Indonesia menjadi The Digital Energy of Asia di tahun 2020 dengan mencetak 1000 startup yang menjadi solusi atas berbagai masalah dengan memanfaatkan teknologi digital. Dalam kegiatan tersebut Bayu mengikuti beberapa tahap kegiatan, yaitu networking. Di sana Bayu menemukan teman-teman yang memiliki satu misi dengannya. Kemudian dari situlah awal Tumbas.in terbentuk pada tahun 2016.

Konsep utama dari Tumbas.in ialah menginginkan pelanggan berbelanja di pasar tradisional dengan mudah dan nyaman
Ide awal saat menciptakan Tumbas.in ternyata sangatlah sederhana. Dikarenakan sang istri merupakan wanita pekerja yang hampir setiap hari pulang sore dan tidak bisa menyempatkan diri untuk berbelanja di pasar, yang pada akhirnya berbelanja di pasar swalayan menjadi pilihan. Padahal berbelanja di pasar tradisional memiliki beberapa keuntungan, selain harga barang yang terjangkau kita bisa berinteraksi secara langsung bersama para penjual.

Untuk saat ini Tumbas.in baru bisa diakses oleh ponsel berbasis Android
Setelah mendirikan Tumbas.in di tahun 2016, akhirnya Bayu dan rekan-rekan merilis aplikasi Tumbas.in di android pada bulan April tahun 2017. Setelah dirilisnya aplikasi Tumbas.in ini dia berharap para pelanggan bisa berbelanja di pasar tradisional dengan mudah dan nyaman. Ada dua pasar yang menjadi pilihan Tumbas.in untuk membeli produk-produk yang dibutuhkan pelanggan, yaitu pasar Karangayu dan Peterongan, Semarang. Para pelanggan pun bisa memilih sendiri kedua pasar tersebut. Bayu memilih kedua pasar tersebut dikarenakan pasar Karangayu dan Peterongan merupakan pasar yang menampung hasil panen dari Bandungan, Sumowono, dan Boyolali.

Bayu dan rekan-rekan sedang mengerjakan dua proyek baru
Di tahun 2019 ini Bayu dan rekan-rekan segera mengerjakan dua projek besar untuk Tumbas.in. Kedua proyek itu ialah aplikasi Tumbas.in akan dirilis di IOS agar para pengguna iPhone bisa mengakses aplikasi Tumbas.in. Proyek selanjutnya yaitu Tumbas.in akan membuka cabang pertamanya di Solo. Bayu berharap Tumbas.in tidak hanya berbasis lokal Semarang saja, tetapi bisa merambah ke seluruh nasional.

Dikarenakan Tumbas.in baru berusia dua tahun, Bayu sering merasa terpuruk dalam menjalankan bisnisnya
Dalam menjalankan bisnis sudah hal pasti jika perjalanannya tidak selalu mulus. Hal itu juga dirasakan Bayu dalam menjalankan Tumbas.in, salah satunya saat menggaji para karyawan. Untuk mengatasi masalah tersebut Bayu memiliki keunikan sendiri, ia lebih memilih untuk membaca buku-buku manajemen dan menghadari berbagai seminar atau workshop. Di sana Bayu bisa bertemu orang-orang yang bisa menginspirasi atau bahkan bisa berkolaborasi bersama. Bayu menganggap pengetahuan tidak hanya didapatkan dari buku, tetapi bertemu orang-orang baru yang memiliki pengalaman yang luar biasa. Nah, dari cara-cara tadi bisa ditiru oleh masyarakat Indonesia yang pada dasarnya minat dalam membaca buku masih sangat rendah.

Bayu berpesan kepada generasi milenial yang sedang menjalankan bisnis startup
Bayu menggap generasi milenial saat ini mempunyai mimpi dan cita-cita yang sangat bagus, tapi tidak seimbang dengan action. Padahal dalam mengerjakan sesuatu hal yang besar perlu usaha yang lebih keras. Selain itu, Bayu juga melihat kondisi para generasi muda yang sering melupakan attitude. Dalam menjalankan bisnis, attitude juga merupakan komponen penting dan mempengaruhi hasil bisnis.

Dari kisah Bayu dalam menjalankan bisnisnya bisa disimpulkan bahwa dalam membangun startup tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi bisa bermanfaat bagi sekitar. Semoga adanya Tumbas.in ini keberadaan pasar tradisional tidak kalah saing dengan pasar swalayan yang keberadaammya semakin terus menjamur, ya!

3+

10 thoughts on “Yuk, Kenalan Sama Bayu Mahendra Saubig! Sosok Inspiratif Dibalik Inovatifnya Tumbas.in

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *