Jangan Meragukan Mimpimu!!

Pernahkah kamu bercita-cita dan kamu tahu bahwa cita-cita itu tidak mudah diwujudkan, tapi kamu juga tahu kalau kamu bisa mencapainya? Saya pernah berada di posisimu tersebut. Salah satu cita-cita besar tersebut sudah saya capai setahun yang lalu. Sebelumya saya peringatkan, tulisan ini adalah tulisan pengalaman nyata saya, tidak ada sedikit pun saya melebih-lebih kan sesuatu yang terjadi dalam tulisan ini. Mungkin cita-cita yang saya akan ceritakan dalam tulisan ini terlalu sederhana buat kamu. Atau bahkan sangat biasa saja bagi kamu-kamu yang berada di luaran sana. Tapi kalau kamu mau mendengarkan kisah saya, lanjutkan lah membaca…

Sebentar, saya ingatkan lagi kalau tulisan ini bukan buat kamu yang tidak yakin bisa mencapai mimpimu. Tulisan ini saya dedikasikan buat mereka yang percaya jika mimpi mereka akan tercapai. Jika kamu bukan salah satu dari mereka, berhentilah membaca, jangan buang waktumu untuk tulisan ini….

Cukup, tak usah dilanjut baca. Cukup, sampai sini saja….

Hah, Apa? Kamu penasaran?  Masih mau lanjut baca?

Yakin masih mau baca?

Baiklah, kalau kamu memaksa, saya akan ceritakan kisah saya ini padamu….

Ketika saya awal-awal kuliah, saya pernah bermimpi dan bercita-cita dalam angan saya, bahwa saya ingin sekali bisa membuat kedua orang tua saya duduk di barisan bangku paling depan ketika prosesi wisuda saya nanti. Saya selalu berangan dan berimpian bisa menempatkan papah dan mamah saya di tempat prestis tersebut. Saat itu saya tidak pernah tahu bagaimana caranya dan bagaimana saya bisa mencapai itu semua.

Suatu hari ada orang yang pernah bercerita kepada saya bahwa dalam prosesi wisuda itu hanya orang-orang yang lulus dengan predikat “cum laude” saja yang bisa memberikan tempat bangku paling depan yang paling prestis tersebut. Dengan kata lain hanya mereka saja yang punya prestasi akademik dengan IPK akhir di atas 3.51 dan lulus tidak lebih dari 4 tahun, tanpa mengulang satu mata kuliah pun. (setidaknya begitulah peraturan yang berlaku di kampus tempat saya berkuliah jika ingin mendapatkan predikat ‘Cum Laude’). Menyadari hal tersebut, saya jadi berpikir bahwa jika saya ingin menempatkan kedua orang tua saya di tempat prestis tersebut, saya perlu memiliki nilai IPK yang bagus dan lulus tepat waktu! Begitulah tujuannya saya waktu itu

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Di awal tahun 2017 yang cukup kelabu itu, saya baru saja habis membaca sebuah buku kuning bergambarkan kapal kertas yang sedang mengudara, yak, buku itu adalah buku Young On Top (35 Kunci Sukses di Usia Muda). Saat itu saya sangat tertarik membaca buku tersebut, karena nilai-nilai yang ada dalam buku itu sangat aplikatif. Pada saat baca buku tersebut saya sih tidak terpikir hal yang begitu terinspirasi bagi kehidupan saya. Tapi setelah baca buku itu, ada satu nilai yang membuat saya yakin bahwa berpikir dan bermimpi besar akan membawa kita kepada hal yang besar juga. Tidak banyak nilai-nilai yang dijabarkan pada buku tersebut yang saya ingat kecuali nilai Think and Dream Big tersebut.

Hari-hari perkuliahan yang pernuh warna, cerita, luka dan cinta sudah sampai pada masa akhirnya. Saat itu saya sudah sangat punya bekal untuk bisa mewujudkan cita-cita awal kuliah saya. Alhamdulillah, saat itu saya sudah memiliki di atas nilai minimal untuk mendapatkan predikat ‘cum laude’, tanpa ada pengulangan mata kuliah, dan itu sangat memungkinkan untuk lulus tepat di waktu 4 tahun. Tapi justru di sini lah yang namanya cobaan muncul. Saat itu, bulan Februari 2017, bulan di mana saya memulai skripsi saya. Kebetulan saat itu saya mengambil judul skrpsi yang sulit dan membutuhkan pendalaman data, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk . Ketika pengajuan proposal saya dijinkan untuk melakukan sidang proposal skripsi pada bulan April 2017, tapi ternyata perjalanan skripsi tidaklah semudah yang dibayangkan kawan kawan! pastilah kamu yang mengerjakan skripsi tahu rasanya bagaimana hehehe. Ternyata pada ujian proposal ini, mau tidak mau judul saya berubah, dan itu agak sedikit merubah rencana penelitian saya.

Perubahan judul skripsi saya membuat saya harus kembali mengambil data penelitian dari awal kembali, ini membuat waktu pengerjaan saya jadi molor. Ditambah lagi skripsi saya ini adalah skripsi tentang tradisi masyarakat adat, maka tidak mudah bagi saya mendapatkan datanya. Ini membuat saya memakan waktu untuk penelitian, awalnya saya berencana sidang pada bulan Juli 2017, maka molor lah skripsi saya. Kesulitan mendapatkan data untuk skripsi ini berimbas pada semangat saya dalam mengerjakan skripsi, hari-hari saya mengerjakan skripsi saya tinggalkan. Saya mengalihkan fokus mengerjakan skripsi pada membantu kegiatan laboratorium. Seperti mengajar, membuat pelatihan, atau pun promosi universitas tempat saya kuliah.

Hari-hari di lab saya nikmati tak terasa saat itu sudah sampai pada bulan Agustus. Bulan di mana teman-teman saya yang lulus tepat waktu diwisuda. Saya jadi gundah gulana dan tapi semakin hari semakin ada yang mengganjal di pikiran saya. Hari-hari periode sidang untuk periode tahun 2017 hampir habis. Saya sudah tidak mungkin untuk mengejar skripsi saya yang tertinggal itu. Kesempatan wisuda 2017 itu sudah tidak ada. hilanglah cita-cita dan impian saya di awal kuliah tadi. Saya sudah masa bodoh dan lupa dengan inspirasi dari buku YOT itu. Saya bahkan lupa dengan cita-cita itu. Semua itu sudah saya lepaskan.

Meski begitu, keinginan saya menyelesaikan skripsi tidaklah surut. Saya saat itu hanya berpikir untuk segera menyelesaikan skripsi saya. Tujuan saya hanya bagaimana saya bisa wisuda di periode berikutnya. Saya sudah tidak peduli lagi dengan predikat cum laude yang ingin saya raih itu, karena sudah tidak mungkin mendapatkannya lagi, saya sudah pasti lulus tidak tepat waktu alias molor. Saya memulai kembali skripsi saya, setelah 3 bulan tertunda, saya mulai mencicil kembali.

Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Akhirnya pada bulan Oktober 2017 skripsi saya rampung dan saya dijinkan untuk Sidang di Bulan November, tapi karena kendala dari fakultas, maka mereka yang sidang di bulan November di pindahkan ke bulan Desember 2017. Selesailah perjuangan skripsi saya di situ.

Pada bulan Februari 2018, adalah bulan saya harus di wisuda. Hari itu saya sedang mengurus administrasi untuk wisuda ke fakultas dan kebagian administrasi universitas, seharian itu saya bolak balik antara fakultas dan universitas. Pada saat sibuk itu seorang teman memanggil saya dan berkata “Fin, katanya anu jadi lulusan terbaik maneh nya?” (katanya yang jadi lulusan terbaik itu kamu ya?). “ah teuing teu apal” (ah, ga tau tuh), jawab saya. “Cenah ceuk bagian adminstrasi fakultas, maneh nu jadi lulusan terbaik” (Katanya, kata bagian administrasi fakultas, kamu yang jadi lulusan terbaik). “Oh kitu nya?” (oh gitu ya), jawab saya masih ragu. Lalu, saya berjalan ke arah administrasi fakultas untuk mengurusi wisuda ini. Petugas administrasi fakultas tersebut lalu berkata pada saya seraya menemukan yang ia cari, “naaah ini lulusan terbaiknya, selamat yaa Alfin” sambut teteh itu. Saya yang baru saja dibingungkan dengan pernyataan teman saya tadi, kini dibingungkan lagi oleh pernyataan teteh petugas administrasi ini, saya menjawab “ah, masa sih teh? Aku ga yakin, kan masih ada yg IPKnya lebih gede dari aku”. Teteh administrasi tersebut lalu menjawab, “Nih ini daftarnya, ini nama kamu ada paling atas. Itu teh kamu lulusan terbaik. Nanti kamu dapet sertifikat sama cenderamata dari fakultas pas Yudisium, selamat ya fin”. Sontak saya saat itu tidak percaya, saya tidak pernah menyangka bisa jadi lulusan terbaik dari fakultas saya. Lepas dari ketidakpercayaan itu saya lalu menjawab dengan sedikit malu, “I..Iya teh, makasih yaa teh.” Lalu teteh itu menerima berkas untuk kepentingan saya dan saya segera berlalu dengan perasaan masih tidak percaya.

Hari Yudisium tiba, hari itu adalah beberapa hari sebelum hari wisuda diselenggarakan. Semua lulusan sarjana Komunikasi dari kampus saya berkumpul di aula, tampak wajah-wajah kami yang cerah ceria, gembira dan lega karena akhirnya tinggal sedikit lagi kami akan mendapatkan gelar sarjana di ujung nama kami kelak. Prosesi sambutan, pidato, dan pemberian gelar telah rampung dilakukan, tidak lupa pemberian anugerah lulusan terbaik pun selesai dilakukan. Saya mendapat cenderamata dan sertifikat tersebut.

Setelah beres prosesi, seperti pada kebanyakan momen kebahagiaan, kita berfoto sana dan sini. Selepas berfoto itu aku terduduk di sebuah bangku dan tiba-tiba teleponku berdering, telepon itu saya tidak tahu dari mana asalnya, tidak ada namanya di kontak saya.

“Hallo, Assalamu’alaikum, ini dengan Alfin Syah Putra ya?” kata suara dari seberang sana.

“Iya teh ini sama Alfin, kenapa ya teh?” jawab saya. “Ini dari pihak Universitas, gini Alfin, kita kan belum ada pembaca janji sarjana buat wisuda nanti, nah kita mau nawarin Alfin buat jadi pembaca janjinya, gimana?” ia menawarkan.

“Boleh aja teh saya mah, nanti pembaca janjinya berdua gitu teh?”

“Iya berdua, sepasang. Nanti pasangannya dari fakultas MIPA.”

“Oh, iya teh kalau gitu. Siap”

Sontak di situ saya sedikit berbangga hati, karena saya punya kesempatan, untuk dipanggil anamnya di pengeras suara ketika wisuda nanti. Sebab biasanya peran pembaca janji seperti itu namanya akan disebutkan oleh pembawa acara. Maka tidak saya sia-siakan kesempatan ini.

“Oh iya satu lagi Alfin.” Suara itu memecah lamunan saya.

“Iyaa gimana teh?”

“Alfin kan lulusan terbaik dari FIKOM, nah karena lulusan terbaik maka nanti Alfin dan temen-temen yang lulusan terbaik dari fakultas lain, orang tuanya duduknya ga di kursi belakang. Tapi duduk di kursi di dalem yang di paling depan.”

Bagai bintang jatuh ke pangkuan, Saya masih tidak percaya dengan perkataan teteh itu. Sepersekian detik saya kembali ke tahun-tahun awal saya kuliah, tahun dimana impian saya yang lama itu sempat terlupakan. Impian itu seakan muncul di hadapan saya begitu mengejutkan, Ia yang pernah saya lupakan kini seakan membuktikannya kepada saya. Masha Allah…Mimpi tersebut seperti berkata pada saya “Lihat lah Alfin!! Lihatlah, mimpimu kini akan segera menjadi nyata”.

Saya kembali berusaha sadar dari bayangan fashback sepersekian detik itu, saya lanjut menjawab telepon tadi “Oh iya teh? Iya, karena yang dapet kesempatan ini cuman lulusan terbaik aja. Nah, nanti Alfin akan ada prosesi khusus yang mengharuskan Alfin memberikan bunga ke kedua orang tua Alfin. Nanti Alfin juga bakal dapet undangan khusus untuk orang tuanya. Tapi simpan obrolan ini buat Alfin dan pihak universitas aja ya. Karena ini ga boleh dikasih tahu ke temen-temen kamu yang lain, dan juga ga boleh dikasih tahu ke orang tua kamu juga, ya?

Sambil menahan luapan rasa gembira yang tak terkira, saya menjawab dengan yakin “Iya teh, paham….paham”.

“Yaudah nanti besok ambil undangannya yaa di fakultas.”

“okee teh siap, besok Alfin ambil.”

“Oke kalo gitu, ditunggu yaa. Wassalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam warah matullohi wabarokatuh…”

Hari yang ditunggu-tunggu setiap mahasiswa yang berkuliah, termasuk saya, akhirnya tiba. Hari wisuda itu akhirnya tiba. Setiap orang tua mahasiswa yang kini akan mengemban gelar sarjana di namanya terlihat sibuk. Ada orang tua yang jauh-jauh dtang dari tempat asalnya, sengaja datang ke Bandung ini untuk lihat hasil perjuangan anaknya. Ada juga keluarga yang bawa hampir seluruh sanak keluarganya, tak peduli besar biaya mereka, yang penting mereka bisa lihat anak, kakak, adik, keponakan, atau cucu mereka kini punya gelar sarjana. Semua memasang muka cerah ceria dan bahagai. Senyum-senyum merekah dari muka mereka.

Prosesi wisuda di mulai secara berurutan, kesempatan saya dengan rekan saya untuk membacakan janji akhirnya tiba. Kami maju sesuai dengan hasil latihan dan gladiresik yang sudah dilakukan. Pembacaan akhirnya selesai dan kami kembali. Saya akhirnya balik kembali untuk duduk bersembunyi di tempat yang sudah disediakan, mengikuti instruksi dari protokoler yang bertugas. Saya dan teman-teman fakultas lain yang mendapat privilege ini duduk di bangku yang sengaja terpisah dari peserta wisuda yang lain. Lalu saat itu pun tiba, dari kejauhan saya sudah melihat para orang tua dari wisudawan dan wisudawati yang duduk dekat saya telah dibariskan. Saya sudah mulai melihat papah dan mamah saya yang tadi duduk di barisan depan kini mulai baris menghadap pada para peserta wisudawan dan wisudawati. Setelah dibariskan, lagu “Masa Kecilku” yang diperdengarkan oleh band Payung Teduh, dinyanyikan oleh paduan suara. Kami berjalan ke arah kedua orang tua kami masing-masing. Suasana mengharu biru. Saya lihat dihadapan saya, mamah mulai menangis meneteskan airmatanya. Papah, orang yang paling benci melihatkan air mata, kini matanya merah dan mulai tak dapat menahan. Lagu dan suasana semakin penuh haru, para wisudawati sudah mulai terdengar sengguk-senggukannya.

Setelah hanya memandang, kini kamu diperbolehkan maju untuk memberikan bunga yag telah kami pegang ke pada kedua orang tua kami. Mamah sudah penuh air matanya kini, papah juga sudah menangis kini. Aku tak kalah menangis senggukan karena terasa sekali bahwa saya telah bisa menuntaskan janji saya menjadi sarjana. Saya kembali teringat perjuangan kedua orang tua saya membesarkan dan menyekolahkan saya. Mereka berjuang membesarkan dan mendidik saya. Meski dengan nyawa taruhannya. Kami berpelukan lama sekali, saya ucapkan terima kasih untuk beliau berdua. Saya cium pipi kedua orang tua saya tercinta.

Di situlah saya percaya bahwa, pikiran dan mimpi mu akan membawa mu ke tempat di mana kamu ingin berada. Don’t stop to believe, always Think and Dream Big. And the last, but not least “See You on Top!!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *