Ada Mahasiswa Indonesia dibalik Penemuan Tikus Hidung Babi

Ada Mahasiswa Indonesia dibalik Penemuan Tikus Hidung Babi

eru Handika, mahasiswa asal Indonesia yang sedang melanjutkan pendidikan S2 di Australia merupakan salah satu peneliti yang tergabung dalam tim internasional yang menemukan tikus hidung babi di Sulawesi. Tikus itu ternyata sekarang dikukuhkan sebagai genus baru, bukan sekadar spesies baru.

Heru merupakan mahasiswa Indonesia yang menyelesaikan pendidikan S1 di jurusan Biologi di Fakultas MIPA di Universitas Andalas, Padang, dan kemudian mendapatkan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk kuliah Master of Science (Zoology) di University of Melbourne, Australia.

Heru Handika (kaos hitam) bersama Kevin Rowe (kaca mata sebelah Heru), Jake Esselstyn (bajur biru) (Foto: L. Sastra Wijaya / ABC)

Kisah penemuan Tikus Hidung Babi tersebut bermula dari upaya Heru untuk mencari peneliti-peneliti yang tertarik dengan tikus. Meski di kampus almamaternya (Universitas Andalas) tidak terdapat dosen yang meneliti tentang tikus, Heru tidak kehabisan akal, dirinya melakukan korespondensi melalui email ke banyak peneliti tikus di dunia. “Sebagian besar e-mail tersebut tidak dibalas,” ujar Heru.

Namun diantara yang membalas dan yang paling banyak menanggapi adalah Dr. Jacob Esseltyn. Herus terus menerus berkomunikasi dengan peneliti dari Amerika tersebut selama dua tahun melalui e-mail, hingga akhirnya Heru diajak untuk ikut penelitian bersama ke Sulawesi.

Penelitian pertama tersebut terdiri dari empat tim utama yaitu Dr Jacob Esselstyn (Lousiana State University, AS), Dr. Kevin Rowe (Museum Victoria), Heru Handika (University of Melbourne, Australia), dan Anang S Achmadi (LIPI Indonesia). Mereka melakukan penelitian ke Gunung Gandang Dewata, Sulawesi Barat. Pada saat penelitian inilah Heru bertemu untuk pertama kalinya dengan Dr Kevin, yang kemudian menjadi pembimbing masternya.

“Mungkin karena Jake (Dr. Jacob Esselstyn) senang dengan saya, dia mengajak saya untuk ikut kembali,” kata Heru.

Heru yang sejak kuliah S1 memang sering terlibat dengan aktifitas penelitian, mengatakan bahwa tim Jake awalnya hanya tiga orang tanpa dirinya. Namun kemudian dirinya diajak dan menjadi anggota penelitian termuda di tim tersebut.

Mereka bersama-sama berusaha mengkaji evolusi dan distribusi tikus di Indonesia. Kajian ini dianggap penting untuk memahami sejarah kepulauan di Indonesia dan juga dalam mengkonservasi keanekaragaman Indonesia secara umum karena keberadaan tikus bisa menentukan keunikan suatu tempat.

Pada saat menemukan tikus hidung babi tersebut Heru bersama tim mengaku harus menghadapi medan alam yang tidak ringan. Selain warga lokal yang mengatakan lokasi penelitian mereka memang tidak terdapat sumber air, tikus yang mereka cari memang tidak mudah ditemukan.

\"Tikus

Tikus hidung Babi, Hyorhinomys stuempkei (Foto: BBC.com)

Heru kemudian menjelaskan bahwa penemuan spesies yang sekaligus genus baru berarti spesies tersebut berbeda sangat jauh dari spesies-spesies yang sudah ditemukan sebelumnya. Peneliti tidak hanya mendeskripsikan spesiesnya tetapi juga genusnya. Pemberian nama diberikan untuk kedua kata pada nama spesies tersebut. Sedangkan penemuan spesies saja, peneliti yang menemukan hanya memberikan nama pada kata kedua saja, kata pertama mengacu pada kelompok genus mirip dengannya, dan sudah ditemukan sebelumnya.

Penemuan genus baru tersebut menambah bukti bahwa Sulawesi merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati di dunia. Hingga saat ini tercatat 48 jenis tikus di Sulawesi, dan semua jenis tersebut endemik. Bandingkan dengan Sumatera 21 jenis, Jawa sekitar 12 jenis atau Kalimantan 19 jenis, hanya sebagian kecilnya yang endemik. Anehnya menurut data Kemenhut, taman nasional terbanyak justru di Jawa (12 Taman Nasional) sedangkan di Sulawesi hanya 8 Taman Nasional.

Tentang persoalan mengapa lebih banyak penemu spesies baru di Indonesia adalah peneliti asing, Heru mengaku dirinya setuju-setuju saja asalkan dilakukan dengan cara yang benar. Salah satunya adalah dengan menggandeng peneliti lokal yang dalam hal ini adalah LIPI. Menurut Heru penelitian yang melibatkan pengoleksian spesimen memang sering dilakukan dengan LIPI, karena posisi LIPI sebagai otoritas sains, dan memiliki fasilitas menyimpan spesimen yang lengkap di Indonesia.

“Sampai saat ini setahu saya LIPI yang paling bagus fasilitas penyimpanannya, terutama untuk penyimpanan hewan,” pungkas Heru.

 

Sumber : http://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/10/26/ada-mahasiswa-indonesia-dibalik-penemuan-tikus-hidung-babi/

Tulis Komentarmu