Tenun Tradisional Baduy Disukai Wisatawan

Tenun Tradisional Baduy Disukai Wisatawan

Kerajinan tenun tradisional produksi masyarakat komunitas adat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, diminati wisatawan.

"Kelebihan tenun Baduy itu warnanya berbeda dengan tenun lain di Tanah Air," kata Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak, Herisnen di Lebak, Selasa (27/10/2015).

Selama ini, banyak wisatawan yang berkunjung ke wisata budaya Baduy membeli kain tenun tradisional dengan jumlah banyak.

Mereka para wisatawan itu tertarik dengan tenun Baduy karena cukup unik dan berbeda dengan tenun lainnya di Tanah Air.

Sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Baduy adalah wisatawan domestik dari Jakarta, Bandung, Bogor, dan Bekasi.

Mereka membeli kain tenun Baduy untuk dijadikan kenang-kenangan dengan alasan tradisional juga memiliki nilai seni.

Sementara, benang bahan baku kain tenunan didatangkan dari Majalaya Bandung, Jawa Barat. Kerajinan kain tenunan dikerjakan kaum perempuan dengan peralatan secara manual.

Biasanya, menurut Herisnen, untuk mengerjakan kain dengan ukuran 3×2 meter persegi bisa dikerjakan selama sepekan.

Para perajin merajut kain tenun sambil duduk di balai-balai rumah yang terbuat dari dinding bambu dan atap rumbia.

"Kami terus mempromosikan tenun Baduy agar bisa mendunia sehingga bisa meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga," katanya.

Menurut Herisnen, pemerintah daerah terus melakukan pembinaan diversifikasi produk kerajinan tenun dan batik Baduy.
 

\"\"KOMPAS/RIZA FATHONI Warga suku Baduy Luar di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, menenun kain sarung.

Saat ini, tercatat 50 perajin tenun dan batik Baduy terus dikembangkan karena dapat menumbuhkan ekonomi lokal.

"Kami berharap kerajinan tenun Baduy itu dapat menyerap lapangan pekerjaan juga meningkatkan pendapatan ekonomi mereka," katanya.

Salah seorang perajin warga Baduy Luar, Jali mengaku selama ini permintaan kain dan batik Baduy meningkat sehingga wisatawan domistik dari luar daerah setiap hari datang ke perkampungan Baduy.

Ada pun harga kain tenun dan pakaian batik Baduy itu tergantung kualitas mulai Rp 70.000 sampai Rp 350.000 per busana.

"Saya kira banyak wisatawan domestik semakin mencintai produk Baduy karena memiliki keunikan itu," kata Jali.

 

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2015/10/28/071200827/Tenun.Tradisional.Baduy.Disukai.Wisatawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *