POLA HIDUP BERSIH: Duta Sanitasi Bangkitkan Kepedulian Generasi Muda

POLA HIDUP BERSIH: Duta Sanitasi Bangkitkan Kepedulian Generasi Muda

Reixter Kadja, seorang pelajar SMK Negeri2 Kupang gelisah. Bagaimana tidak, lingkungan sekitarnya yang terletak di dekat Pantai Oeba, belum memiliki perilaku hidup bersih dan sehat.

Buruknya drainase, kebiasaan membuang sampah sembarangan, membuat bibir pantai sekaligus Pasar Oeba kehilangan pesonanya.

 Remaja berusia 17 tahun itu pun tergerak untuk melakukan perubahan. Tak tanggung-tanggung, dia pun mengikuti Jambore Sanitasi pada 2008 dan terpilih sebagai Duta Sanitasi mewakili provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dengan predikatnya itu, Reixter senantiasa aktif melakukan kampanye pola hidup bersih dan pentingnya sanitasi bagi kesehatan.

“Di sana masyarakat tidak sadar, terutama yang tinggal di kawasan kumuh. Toiletnya kurang, tempat sampah tidak ada. Menjadi duta lingkungan adalah keinginan saya sendiri karena melihat lingkungan yang seperti itu,” ujarnya, Kamis (29/10/2015)

 Senada dengan Reixter, siswi SMA Global Islamic Boarding School Kalimantan Selatan bernama Dinda Divamba Yoel  juga memiliki kepedulian yang sama. Hanya saja, fokus utamanya adalah kurangnya kesadaran masyarakat yang tinggal di bantaran kali dalam menjaga kebersihan air sungai.

 “Saya ingin mengubah kebiasaan itu, membuang sampah sembarangan ke sungai, padahal airnya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

 Karena itu, remaja yang akrab disapa Dinda ini juga mendaftarkan dirinya sebagai Duta Sanitasi. Dia aktif melakukan sosialisasi ke sekolah, dan bergabung dengan kegiatan kelompok  ibu-ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

 Sejauh ini, kampanye yang dia lakukan menuai respons positif. Meskipun belum bisa mengubah total perilaku buruk masyarakat terkait sanitasi, tetapi siswa yang duduk di kelas XII ini mengklaim telah melihat peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup bersih dan sehat.

 “Nanti saya ingin masuk ke desa yang masih kumuh di Kabupaten Tapin, dan melakukan survey rutin sebulan sekali tentang standar sanitasi di desa itu,” ujarnya bersemangat.

 Kedua remaja itu hanya dua dari 165  duta sanitasi yang tersebar di 33 provinsi yang ada di nusantara. Setiap provinsi memiliki lima orang perwakilan generasi muda yang terpilih menjadi duta sanitasi, dan bertugas melakukan kampanye Gerakan Menuju 100% Akses Sanitasi, yang menjadi bagian dari program kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

 Para duta sanitasi tersebut kini tengah berkumpul dalam acara bertajuk Penyegaran Duta Sanitasi, yang diselenggarakan pada 28 Oktober hingga 2 November di Bogor, Jawa Barat. Penyelenggaraan acara yang bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda ini seakan menyiratkan kekuatan generasi muda dalam membawa perubahan yang lebih baik di tengah masyarakat.

 Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR Taufik Widjojono yang turut hadir dalam acara tersebut menjelaskan hingga kini masih ada 39% penduduk Indonesia yang belum memiliki akses sanitasi yang layak. Jumlah tersebut umumnya berada di kawasan kumuh di perkotaan, seperti di bantaran sungai dan gang-gang kecil di mana penyediaan sanitasi harus dilakukan dengan sistem komunal dalam lahan yang terbatas, sementara sisanya di luar Pulau Jawa.

 Seperti diketahui, pemerintah memiliki target yang dikenal dengan “100-0-100”, yang berarti100% akses  layanan air minum, 0% kawasan kumuh dan 100% akses sanitasi pada 2019. Pada tahun pertama pelaksanaannya, pemerintah mengklaim baru berhasil meningkatkan persentase tersebut sebanyak 2% untuk masing-masing sektor.

“Tugas duta sanitasi  memberikan kampanye untuk lingkungan kecilnya, keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat. Saya kira anak-anak ini akan menjadi laskar sanitasi dan dapat menjadi bagian penting dalam mewujudkan akses 100% sanitasi,” ujarnya.

 

Sumber : http://lifestyle.bisnis.com/read/20151030/220/487231/pola-hidup-bersih-duta-sanitasi-bangkitkan-kepedulian-generasi-muda-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *