Kisah Perjuangan Rizal Mewujudkan Mimpi Bagi Orang Sakit

Kisah Perjuangan Rizal Mewujudkan Mimpi Bagi Orang Sakit

Kerasnya perjuangan hidup mengiringi cerita keberhasilan seorang dokter sekaligus pendiri Bundamedik Healthcare System (1970), Rizal Sini. Pada masa RS Bundamedik berdiri, layanan kesehatan dan bisnis dianggap berbeda. Bahkan, dokter yang berbisnis dianggap melakukan hal tidak etis.

Bukan Rizal Sini namanya, jika tak berani menghadapi tantangan dan cibiran yang datang. Pria berdarah Minang ini mampu membuktikan, meskipun berbisnis dengan mendirikan rumah sakit, dokter tetap dapat bekerja sesuai etika.

Di balik bangunan RS di daerah Cikini, Jakarta, itu tersimpan mimpi sang pendiri untuk memberikan fasilitas kesehatan terbaik bagi masyarakat negeri ini. Jiwa kemanusiaan dan usahanya bergejolak.Rizal yang terbiasa dengan kehidupan keras sejak kecil berani mengambil langkah untuk melakukan hal berguna bagi orang lain. Diapun rela menanggalkan status sebagai pegawai negeri sipil saat memulai usahanya itu.

Perjuangan Rizal tersebut dikisahkan kembali oleh penulis biografi Alberthiene Endah dalam buku terbarunya, Love & Devotion. Tak hanya mengisahkan perjuangan seorang dokter dalam membangun mimpinya, buku ini juga berhasil mengulik latar belakang dan perjalanan hidup Rizal sejak dilahirkan.

Alberthiene sempat menyampaikan kekaguman akan ingatan tajam sang dokter. Meskipun dapat dibilang telah berusia sepuh, Rizal masih mampu menceritakan kisah hidupnya secara terperinci. Alhasil, lahirlah sebuah buku biografi yang detail dengan runtutan cerita menarik yang dapat menggugah dan menginspirasi pembaca.

Alkisah, Rizal kecil hidup di tanah Minang yang jauh dari keriuhan Metropolitan. Sejak kecil orang tua Rizal mendidiknya dengan disiplin dan sederhana. Sebagai anak seorang kepala kantor pos (pada masa kolonial Belanda), Rizal beruntung dapat bersekolah, sebuah kenikmatan pendidikan yang tidak dapat dirasakan kebanyakan penduduk pribumi.

Hanya saja, kenikmatan itu hanya berlangsung sesaat. Ketika kekuasaan beralih dari Belanda ke Jepang, Rizal kecil harus melakukan tugas-tugas sekolah tambahan yang tidak wajar. Misalnya membantu penduduk membuat benteng untuk Jepang. Rizal yang ketika itu belum sepenuhnya memahami arti penjajahan, hanya menjalani segala tugas sekolah yang menurutnya wajib dikerjakan dengan suka cita.

Penderitaan masa kecilnya terus berlanjut bahkan hingga dia mendengar kata ‘merdeka’ digaungkan di Indonesia. Kata yang luar biasa itu ternyata tak juga mampu membawa perubahan yang lebih baik. Jepang masih kerap datang ke kampung halaman dan melakukan tindakan kejam.

Rizal beserta keluarga harus mengungsi jauh ke hutan yang dalam dan penuh binatang buas demi menyelamatkan diri dari penjajah. Cerita kehidupan Rizal di hutan belantara dan berbagai kisah tragis lainnya tergambar apik dalam buku setebal 445 halaman.

Perkenalan dengan Jakarta mulai mengubah hidup anak bungsu dari empat bersaudara ini. Tepat setelah lulus SMA, Rizal berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Rizalpun memulai kehidupan baru, bertemu orangorang baru, pengalaman baru dan tempat baru.

Alberthiene berhasil menuturkan kisah hidup Rizal secara memikat, tetapi tak melupakan ajaran-ajaran dalam kehidupan sang tokoh seperti perjuangan, prinsip hidup, itikad baik dan komitmen. Itulah nilai-nilai yang diyakini Rizal sebagai penjaga kehidupan yang mampu mengantarnya sampai hari ini. Sampai RS Bunda dikenal sebagai salah satu rumah sakit terbaik di Jakarta.

 

Sumber : http://kabar24.bisnis.com/read/20151024/79/485548/kisah-perjuangan-rizal-mewujudkan-mimpi-bagi-orang-sakit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *