Menjadi Leader itu Ibarat Sebuah Seni

Hi YOTers,

Lebih dari dua minggu saya tidak membuat tulisan untuk YOTers semua, dan malam ini tepatnya hari minggu, 28 Juni 2020 pukul 20.10 saya ingin sharing mengenai pengalaman saya sebagai seorang leader di perusahaan diibaratkan seperti sebuah seni.

Jika kita mendengar kata seni, maka yang akan terpikirkan pertama kali yaitu suatu keindahan yang jika dipaparkan sedikit lebih panjang yaitu sesuatu yang dibuat oleh seniman dengan penuh rasa yang sebagian besar mewakili perasaan seniman tersebut, artinya ada sedikit bahkan banyak idealisme dari hasil karya seniman tersebut.

Begitu juga dengan menjadi seorang leader, saya meyakini bahwa menjadi seorang leader itu harus bisa melakukan dengan penuh rasa secara personal dan pastinya ada idealisme dalam mengerjakanya. Dari jaman saya dipercaya memimpin sebuah team di perusahaan pertama saya 11 tahun lalu banyak sekali pembelajaran yang saya analisa sendiri mengenai seni dalam memimpin sebuah team, terutama ketika diposisi midle management dimana kita punya team yang harus kita pimpin dan juga memiliki atasan. Disinilah seni sebagai seorang leader diperankan, kapan kita harus melakukan A, B, C dan D yang paling tepat untuk dilakukan.

Dari pembelajaran selama belasan tahun tersebut, bisa dibilang saya sangat paham apa yang tepat untuk saya lakukan meskipun mungkin tidak sesuai untuk team yang saya pimpin ataupun untuk atasan saya, tapi itulah seni, dimana yang sangat paham atas yang harus kita lakukan ya kita sendiri. Karena pada akhirnya hasil karyalah yang bisa membuktikan dari apa yang saya kerjakan. Semua seniman punya cara tersendiri dalam mebuat sebuah karya, begitu juga dengan leader, punya gaya tersendiri dalam memimpin.

Dan sampai saat ini, saya masih konsisten untuk menjaga seni saya menjadi seorang leader. Saya tipical yang akan sangat mudah menyampaikan sesuatu yang memang harus saya sampaikan baik itu ke team maupun ke atasan, saya melakukan sesuatu karena itu yang menurut saya harus dilakukan bukan karena saya disuruh untuk melakukannya. Karena tidak sedikit leader yang berperan tidak sesuai dengan konsep leader itu sendiri. Leader mampu membuat sesuatu yang keliatan sulit oleh teamnya menjadi terlihat lebih mudah, leader mampu meningkatkan standar kualitas teamnya secara terus menerus dan juga harus siap dengan koreksi jika memang ada yang harus diperbaiki dari seorang leader. Karena balik lagi jika kita menganggap sudah menjadi leader yang terbaik disitulah blindspot yang memang banyak dialami oleh leader.

So, buat YOTers yang saat ini sudah dipercaya menjadi seorang leader baik untuk team kecil ataupun besar, temukan seni dalam menjadi leader secara orisinil versi YOTers sendiri. Karena setiap gaya dari seniman/leaders belum tentu cocok untuk seniman/leader yang lain.

 

Selamat Berkarya and See You ON TOP

Riki Son

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *