Minimalist Adalah Koentji! Belajar minimalisme dari Fumio Sasaki.

 

Pernah gak sih kalian iri sama hidup orang lain? Membandingkan diri kalian sendiri dengan hidup orang lain? Kok dia lebih kaya ya? Kok dia lebih popular ya? Ehem, kayanya semua anak muda, apalagi di umur 20an pasti pernah ya?

Hai! Balik lagi bersama gue Fariz, Creative designer dari Young On Top. Gue baru aja baca buku ‘Goodbye, Things’ yang ditulis oleh Fumio Sasaki, pelaku minimalisme asal jepang. Di awal buku ini, Sasaki menceritakan tentang betapa hancur hidupnya, kerjaan berantakan, rumah kaya kapal pecah, kisah cintanya? Jangan ditanya, kandas ditengah jalan! Gak jarang Sasaki juga membandingkan kehidupan dirinya dengan temen-temen kuliahnya dulu, ada yang udah tajir melintir, punya istri cantik, mobil mewah dan sebagainya.

 

Dia selalu berfikiran bahwa dengan dia lebih kaya, dia akan menjadi manusia yang lebih baik, dari situ mungkin dia ga perlu untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Hm, mungkin itu juga ya yang kita fikirkan saat ini? Eits, tapi ternyata jawabannya bukan itu loh, YOTers!

 

Singkat cerita, Sasaki menemukan gaya hidup sederhana: Minimalisme. Perlahan, ia buang semua barang yang ada di apartementnya, perlahan ya YOTers, gak langsung semua dibuang haha.

 

Pelan-pelan dia merelakan koleksi-koleksi buku, kamera, serta alat pengeras suaranya. Dari situ ia menemukan satu hal: dengan sedikitnya barang, dia bisa fokus ke satu hal: dirinya sendiri.

 

Hal yang menarik dari buku ini adalah, minimalisme bukan hanya gaya hidup, bukan hanya soal membuang barang, bukan hanya mempunyai kamar yang hitam putih. Ini tentang bagaimana kita memaknai hidup bukan hanya dari barang, bahwasanya nilai kita, manusia, tidak ditentukan oleh suatu barang apapun. Kita hanyalah manusia yang singgah di bumi ini. Kita lahir ke dunia tanpa membawa barang apapun, dan meninggalkan dunia ini juga, tanpa membawa barang apapun.

 

So, YOTers, beberapa dari kita masih sering banget untuk ngebandingin hidup kita dengan hidup orang lain, alih-alih, menambah motivasi, kita malah merendahkan diri kita dan lupa untuk mengapresiasi hal-hal besar yang sudah kita lakukan.

 

Yuk! Kita belajar pelan-pelan dari Fumio Sasaki tentang minimalisme!

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *