Berbicara Tentang Kesalahan

Bentar dulu, sebelum tulisan ini berurai menjadi panjang lebar. Buat yang mau menikmati versi monolognya, sila mampir ke podcast YOT Banyuwangi https://open.spotify.com/episode/0eIPmiLQ3O9gT4r6uyrvMV?si=Wr_nOUWERrW3SOf_W6JVg

Buat yang lebih suka menikmati versi tulisan, selamat membaca. Semoga bisa menjadi bahan kontemplasi diri ❤

 

Ngomongin tentang sebuah kesalahan. Entah salah dalam mengambil keputusan, salah dalam memperlakukan, salah dalam berbicara, atau pun salah dalam bertindak. Intinya bermula dari sebuah kesalahan yang lantas kemudian bersifat merugikan. Entah merugikan orang lain yang tidak kita kenal, merugikan orang yang kita sayang (sahabat, saudara, pasangan atau orang tua), atau bahkan merugikan diri sendiri. Bentuk merugikannya pun bermacam-macam, bisa mengecewakan, menyakiti, menumbuhkan benci juga bisa jadi. Bentuk lainnya bisa kehilangan kesempatan, kehilangan kepercayaan, kehilangan sosok, atau bahkan kehilangan sesuatu yang disebut bahagia.

Pernah ngga sih, merasa bersalah lalu merasakan penyesalan yang berulang? Setiap inget rasa bersalahnya, selalu berujung pada mengutuk diri atau mengutuk orang lain. Biasanya berakhir pada “coba aja waktu itu aku nggak gini, atau coba aja kemarin itu dia ngga gitu, atau coba aja waktu itu merekaa blablabla“. Rasanya masih banyak kalimat-kalimat kutukan lain yang seringkali keluar, terus nangis, marah sama diri sendiri, marah sama orang lain, atau kadang sampe marah sama Tuhan? “kenapa Tuhan bikin jalan hidupku kaya gini?!!” Nggak jarang kemudian tumbuh yang namanya benci.

Sebenernya banyak kok jalan yang bisa dipilih untuk menghentikan sebuah rasa penyesalan. Entah dengan menerima dan mengakui kesalahannya, atau bahkan memilih untuk melempar kesalahan hanya untuk diri merasa tenang.

Karakter manusia bermacam-macam. Ada tipe orang yang dia tau kalo dia salah, tapi jalan yang dipilih adalah mendenial diri, terlalu gengsi untuk mengakui, mencari kambing hitam untuk disalahkan agar tidak berujung merundung diri. Tapi kesalahan tetaplah kesalahan. Tak jarang kemudian malu dan memilih pergi. Ada juga tipe orang menyalahkan dirinya sendiri lalu dengan besar hati mau mengakui karena memang dia yang bersalah, dia yang harus menanggung kesalahannya. Memilih dengan gagahnya meminta maaf dan berdamai dengan rasa bersalahnya.

Perihal menyikapi kesalahan orang lain. Ada yang memilih menanam dendam, dan tidak menolerir kesalahan. Tapi bahkan ada juga yang memilih untuk menyalahkan diri, mengecilkan ego dan meminta maaf semata-mata hanya agar tidak ingin memperpanjang masalah, padahal dia tau bukan dia yang salah. Dia hanya ingin hidupnya baik-baik saja. Kembali seperti semula.

Ohh iya… kita ngga pernah tau seberapa besar usaha seseorang untuk bangkit, membangun rasa percaya diri kembali setelah jatuh pada rasa bersalah yang cukup dalam. Tentang dendam lalu mengungkit kesalahan, jujur aja ini penyakit nggak sih? Lah kok bisa? Yaa coba aja kita pikir, emang ada rasa bersalah yang bentuknya bahagia? Emang ada yang pernah merasakan penyesalan dengan gembira?

Memaafkan sebenarnya soal belajar mengerti, belajar memahami, belajar menerima. Dampaknya murni tertuju untuk diri sendiri. Kita semua tau bahwa salah bukan untuk diulang. Salah adalah bentuk pembelajaran. Salah adalah sisi lain dari benar. Dengan tau salah, kita jadi tau benar dan baiknya seperti apa.  Salah ada untuk diperbaiki, untuk disadari, untuk dirubah, untuk diterima, bahwa salah memang bagian dari diri, bagian dari hidup. Pasti sering mendengar kalimat “belajar dari kesalahan“. Jadi salah itu normal, tapi bukan berarti jadi membenarkan kesalahan. Salah ya tetep salah, tetep merugikan, tetep mengandung penyesalan. Tidak untuk diulang.

Ketika sudah sampai pada tahap sadar. Sadar bahwa kesalahan lah yang membawa kamu sampai pada di titik ini sekarang, sadar bahwa kesalahan yang mengajarkanmu tentang jalan hidup yang memang harus seperti ini, sadar bahwa kesalahan yang membuat kamu bisa menjadi lebih baik,sadar bahwa setelah memperbaiki kesalahan ini nanti akan mendapat ganti yang lebih baik lagi nanti.

Selamat! Selamat mendewasa, berproses, dan bertumbuh bersama kesalahan ❤ —nuraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *