Hidup untuk Kerja atau Kerja untuk Hidup?

“Hidup untuk kerja atau kerja untuk hidup?”

Pertanyaan klise ini saya dapatkan dari serial Netflix yang sempat heboh di tahun 2020 : Emily in Paris. Di serial tersebut, Emily yang berasal dari Amerika menemui culture shock saat pindah ke Paris sebagai seorang ekspatriat. Salah satu rekan kerjanya yang merupakan native Paritian mengatakan bahwa Emily cenderung menganut konsep ‘Hidup untuk Kerja’. Namun sebenarnya, apakah menjadi seorang workaholic seburuk itu?

Belakangan ini saya banyak mendengarkan podcast WorkLife dengan Adam Grant, seorang psikolog asal negara Paman Sam dengan spesialisasi psikologi organisasi. Seri podcast yang beliau buat banyak membahas isu-isu yang relevan dengan dunia kerja.

Di dalam salah satu episodenya, diterangkan bahwa ada dua jenis workaholic Unhappy Workaholic dan Engaged Workaholic. Dari namanya saja tergambar jelas bahwa unhappy workaholic adalah mereka yang terobsesi untuk terus bekerja tapi tidak menyukai pekerjaannya. Penelitian mengatakan bahwa tipe pekerja seperti ini memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap penyakit kardiovaskular dan diabetes.  Sementara itu, engaged workaholic adalah adalah mereka yang suka bekerja dan mencintai pekerjaannya.

Workaholic juga bisa memiliki batas-batas yang kabur antara jam kerja dan jam di luar kerja. Tidak jarang kita jumpai ada teman sekantor kita yang sering mengirim e-mail atau chat soal kerjaan di luar jam kantor, tapi ada juga yang tegas membatasi diri sehingga tidak diganggu siapa pun begitu jam kantor selesai. Tipe yang pertama disebut sebagai seorang Integrator karena tipe ini memiliki jam kerja dan jam luar kerja yang terintegrasi satu sama lain, sedangkan tipe yang kedua disebut Segmentor karena tipe ini membagi jam kerja dan jam luar kerja sebagai dua segmentasi yang berbeda.

Lalu mana yang lebih baik? Integrator atau Segmentor? Workaholic atau non-workaholic? Jawabannya adalah semuanya sama baik sepanjang tidak menganggu well-being kita masing-masing. Tiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghadapi tekanan pekerjaan serta career goal yang berbeda-beda pula. Jadi, bukan berarti mereka yang memilih untuk lembur kantor terus menerus selalu lebih baik dari yang tidak. Di sinilah kita harus bisa mengenal batasan masing-masing. Kalau kamu memang workaholic, sejauh mana kamu bisa kerja non-stop? Tiap orang pasti perlu rehat juga. Jangan sampai kamu gagal mengidentifikasi batasanmu sendiri hingga akhirnya drop. Bisa-bisa malah berdampak ke kesehatan fisik maupun mental.

Meski menurut podcast yang saya simak Integrator lebih luwes dalam menerima Segmentor, sering kali kasus di kehidupan nyata yang saya temui justru membuktikan sebaliknya. Beberapa kenalan saya yang memiliki pribadi Integrator bisa sampai memaksakan kehendaknya dan bersikap kelewatan apabila rekan sekerjanya menolak mengambil pekerjaan di luar jam kantor. Komentar-komentar sarkastik yang menimbulkan kerenggangan di antara kedua belah pihak akhirnya pun terlempar. Dalam jangka panjang, hal ini akan berakibat terhadap flow kerja yang melibatkan kedua orang yang berselisih tersebut, performance masing-masing, sampai kinerja kantor tempat mereka bekerja.

Oleh karena itu, baik tipe pekerja Integrator maupun Segmentor sudah sepantasnya menghargai satu sama lain. Kamu mungkin senang menyelesaikan tumpukan pekerjaan hingga larut malam, tapi rekan kerjamu bisa jadi tidak. Hindari mengirimkan chat whatssap di luar jam kerja kalau harus berhadapan dengan segmentor! Kamu juga bisa ubah setting email kamu jadi “Schedule Send” supaya tidak begitu menganggu. Sebaliknya, dalam menghadapi seorang integrator kamu bisa sedikit berempati juga. Mungkin mereka mengirim email di luar jam kerja karena tekanan dari bosnya juga. Bila sudah sampai pada tahap yang mengganggu, kamu bisa utarakan keberatanmu dengan baik-baik.

Pada akhirnya, kalau sudah bicara soal pekerjaan semuanya membutuhkan teamwork! Kita bisa berada dalam satu team dengan tipe orang yang berbeda-beda, kadang ini bukan pilihan. Kenali batasan-batasan diri kamu dan rekan kerja kamu supaya flow kerja lebih enak. Belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain, dan jangan lupa untuk rehat sejenak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *