Tantangan dalam Komunikasi Antar Budaya

komunikasi antar budaya

Intercultural communication can be challenging at times. Meskipun budaya asing adalah hal yang paling banyak menarik saya untuk menjelajahi dunia, saya menemukan kalau komunikasi antar budaya kadang-kadang tricky. Dan maksud saya bukan hanya karena ada language barrier, meskipun hal ini bisa aja menjadi hambatan. Yang saya maksud adalah setiap budaya itu memiliki caranya masing-masing dalam berkomunikasi. Ada culture yang menghargai indirectness, informasi biasanya disampaikan secara tidak langsung, tapi ada juga budaya yang menganggap gaya komunikasi yang direct dan terbukalah yang paling efektif dan terbaik. Hal-hal yang dianggap sopan di sebuah culture bisa dianggap enggak sopan di beberapa budaya lainnya.

Kalau ngomongin intercultural communication atau komunikasi antar budaya, saya merasa paling cocok berkomunikasi dengan mereka yang berasal dari low context cultures, misalnya nih orang-orang dari Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman. Saat menyampaikan suatu hal, kata-katanya lugas, eksplisit, dan direct. They speak what’s in their minds and what they feel. Amerika adalah negara dengan lowest context culture. Artinya, saat berkomunikasi, mesages are expressed and understood at face value, jarang menyampaikan suatu hal secara implisit. Buat saya, ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya yang berbeda, kita gak cuma belajar bahasanya tapi juga budayanya, jadi dengan cara berkomunikasi yang straightforward terasa sangat memudahkan dalam memahami maksud satu sama lain. On the personal level, saat ada masalah pun, saya merasa lebih mudah mencari solusinya karena semua hal dikomunikasikan secara verbal.

Meski cara ngomongnya straightforward, bukan berarti orang – orang dari low context cultures cara ngomongnya terkesan kasar dan gak sopan. Justru saya merasa ketika pakai bahasa Inggris as first language, banyak hal yang tadinya susah diungkapkan dalam bahasa Indonesia dan terasa gak proper diucapkan, jadi jauh lebih gampang untuk disampaikan tanpa ada rasa khawatir menyinggung atau membuat kita merasa emosional. Straightforward but very polite, ini yang saya rasakan dari gaya berkomunikasi American yang tinggal/ berasal dari Midwestern US. Budaya kawasan Midwest di Amerika gak jauh beda dengan di Indonesia untuk beberapa hal. Orang-orangnya terbiasa banget untuk basa-basi dan ramah tamah dengan satu sama lain. Misalnya aja nih, kalau kamu masuk ke supermarket atau ke sebuah restoran, pasti akan disapa Hi, how are u doing?, I hope you have a great day…etc. Begitu juga cara mereka bicara ke tetangga, teman, dan keluarga. Small things but matter. Buat saya yang waktu itu baru pindah kesana, saya merasa jadi lebih mudah beradaptasi dan disambut dengan baik.

Budaya Indonesia sendiri termasuk high-context culture, dimana cara berkomunikasi masyarakatnya indirect dan implicit. Indirectness is considered as a politeness here. Things are often implied. Sering dong kamu mendengar seseorang ngomong begini tapi maksudnya begitu?. Menyampaikan informasi secara indirect dianggap lebih sopan dan proper, begitu pula sebaliknya, kecuali untuk situasi tertentu yang mengharuskan kita being direct. Tentu, kita sering dengar pendapat yang menyatakan kalau cara komunikasi antara suatu suku dengan suku lainnya di Indonesia beda-beda. Ada yang katanya sangat indirect tapi ada juga yang lebih terus terang. Memang benar ada sedikit perbedaan, tapi secara keseluruhan, budaya kita, termasuk bahasa, termasuk yang paling tinggi konteksnya di seluruh dunia, setara dengan Jepang, dan sangat berkebalikan dengan cara berkomunikasi negara-negara low context cultures, yaitu AS, Belanda, Jerman, negara-negara Nordik, dan Inggris. Bahkan negara-negara Eropa latin seperti Italia, Prancis, Spanyol, dan Portugal masih jauh lebih direct dibandingkan budaya kita.


Bagaimana dengan communication style negara-negara Asia lainnya?. Negara – negara Asia Tenggara pada umumnya mirip dengan Indonesia, kecuali Singapura. Hal yang unik saya temukan pada communication style orang-orang Asia Timur. Meski secara geografis dekat dengan Jepang, masyarakat Cina dan Korea lebih direct dibanding masyarakat negeri Sakura. Saya sering membaca soal hal ini di thread di Quora. Beberapa kali foreigners yang akrab atau pernah tinggal di Jepang, Cina (termasuk juga negara-negara yang budayanya sama yaitu Taiwan dan Hong Kong), dan Korea Selatan membuat urutan negara mana yang masyarakatnya paling sopan dan paling rude. Untuk kategori sopan, Jepang berada di urutan 1, Korea Selatan kedua, sedang Cina yang ketiga. Sementara itu, untuk kategori paling rude, urutannya dibalik dimana urutan pertama ditempati Cina, kedua Korea Selatan, dan ketiga Jepang.

Yang saya sampaikan di atas adalah berdasar pengalaman orang lain. Apakah benar seperti itu?. Menurut saya benar berdasar pengalaman saya sendiri. Orang Jepang sangat sopan dan kalau ngomong indirect. Misalnya harus ngomong hal yang tidak mengenakkan, mereka tidak akan ngomongin hal itu kecuali berada dalam situasi yang mengharuskan. Ngobrol sama orang Jepang, bagi saya seperti ngobrol dengan orang Jawa dari Solo dan Jogja. Sopan santun ala Jepang atau Tatemae berakar dari budaya ingin menjaga harmoni dimana diantaranya termasuk tidak menyinggung dan menyakiti orang lain serta menghindari konfrontasi dan konflik.

Bagaimana dengan peringkat kedua yaitu Korea Selatan?. Well, jujur harus saya akui saya cukup kaget karena gap antara peringkat 1 dan 2 lumayan gede. I’ve been encountered South Koreans in many occasions, baik saat traveling, hubungan pertemanan, hingga hubungan personal yang dekat. Pengalaman saya bervariasi, ada yang positif ada pula yang negatif. Tapi hal yang paling mengagetkan saya adalah fakta bahwa some of them can be very rude in many ways, baik lewat kata-kata, intonasi hingga teriakan. Apakah hal ini karena mereka lebih straightforward ?. Sepertinya hal ini karena orang Korea memiliki hot temper dan karena mereka punya pali-pali culture, sebuah budaya yang mengharuskan segala sesuatu dilakukan dengan cepat sehingga membentuk karakter orang-orangnya gak sabaran dan cepat gelisah. Hal ini bisa kamu baca lebih lanjut disini.

Sumber: https://theislandgirladventures.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *