Inovasi Resign yang Disebabkan Leaders Mistake

Dunia kerja memang keras. Banyak sekali rintangan yang harus dilalui dalam bekerja. Rintangan yang dihadapi bisa saja membuat mood dan energi kerja berkurang. Kita hanya perlu memimpin diri sendiri agar tidak terjebak dengan emosi sesaat.

Leader atau atasan sebagai pemimpin seyogyanya bisa mengondisikan berbagai persoalan yang dihadapi. Ketegasan, efektivitas, serta tanggung jawab wajib dimiliki supaya bawahan dapat dikontrol sebaik mungkin. Peran atasan sebagai pengayom diperlukan untuk menyetabilkan keharmonisan kerja.

Semua pekerjaan akan berhasil jika memiliki atasan yang baik. Realitasnya tidak semua atasan bersikap sesuai dengan ekspektasi bawahannya. Namun demikian, kita sebagai bawahan tentu harus pula mengaplikasikan kepemimpinan atas diri sendiri. Kita perlu meningkatkan kapasitas manajemen diri agar tidak terpengaruh oleh kesalahan atasan.

Sementara itu, resign merupakan hak semua pekerja. Apabila kita termasuk orang yang tidak sejalan dengan pekerjaan saat ini, maka jangan sampai kita salah mengambil langkah. Salah langkah dalam meninggalkan pekerjaan dapat menimbulkan image buruk terhadap nama baik. Pikirkanlah matang-matang untuk melakukan perpindahan kerja dengan etis dan elegan.

Tidak sedikit rekan-rekan penulis yang memutuskan untuk berhenti kerja. Ada yang disebabkan persaingan kerja yang tidak sehat, perilaku atasan yang kurang adil, hingga bobot kerja yang tak sesuai jangkauan diri. Jika sikap atasan tidak sesuai dengan harapan, mari kita resapi sebuah rekonstruksi positif berikut ini agar mampu mengambil peran dari kesalahan atasan.

Sebuah unggahan menarik menjadi perhatian penulis dalam menuangkan rekonstruksi berpikir. Dikutip dari instagram @ekrutofficial, terdapat empat kesalahan leader yang bikin karyawan resign. Keempat kesalahan leader itu adalah kurang berhati-hati saat merekrut, terlalu banyak batasan, tidak memaksimalkan sumber daya manusia, dan menciptakan kultur yang menakutkan.

Pertama, meskipun ternyata kita adalah rekrutan yang salah dari seorang atasan, tentu sebaiknya kita berkonsultasi atas kriteria yang atasan mau. Ajak pula kerabat kerja untuk diskusi supaya kita mengetahui lebih dalam mengenai salah perekrutan. Kondisi seperti ini minim terjadi di perusahaan besar yang memiliki manajemen super ketat. Semoga kondisi ini tidak terjadi pada diri kita.

Kedua, terlalu banyak batasan. Jika kita merasa dibatasi dalam melakukan pekerjaan, jangan mengundurkan performa kerja kita. Segeralah diskusikan hal apa yang membuat atasan tidak banyak memberimu ruang gerak. Beberkanlah fakta akurat yang mendukung jalan kita mengakselerasikan kinerja. Aspirasikan kehendak kita untuk berbuat sesuai dengan kapasitas yang bisa dimaksimalkan.

Ketiga, tidak memaksimalkan sumber daya manusia. Hal ini sangat berdampak buruk jika dibiarkan. Sampaikanlah bahwa manajemen sumber daya manusia itu penting. Kita bisa memberikan pendapat ketika tahu ada sosok yang seharusnya bisa diberi pengembangan karier. Kita bisa mengemukakan hal ini ketika rapat atau sesi diskusi.

Keempat, menciptakan kultur yang menakutkan. Kondisi buruk seperti ini dapat mengunci partisipasi bawahan. Tentu kita tidak ingin kondisi ini terjadi. Sebaiknya kita mencoba mencari keseimbangan antara aturan atasan dengan kesukaan bawahan.

Posisikanlah diri kita untuk menjadi penengah yang baik. Jadilah pemberi jalan terbaik di saat rekan lain merasa terkekang dengan aturan. Berikan dukungan dan motivasi terbaik kita agar rekan tetap bekerja sepenuh hati. Di sisi lain, kita harus lebih sering mengajak atasan bergabung dengan kebiasaan kita sehari-hari jika memungkinkan. Ciptakanlah waktu istirahat yang menyenangkan bersama-sama.

Inovasi yang harus dilakukan adalah menerapkan langkah-langkah di atas dalam keseharian pekerjaan. Meski terkesan mudah, kita perlu memperhatikan pula kondisi atasan. Apakah kondisinya betul-betul dapat mendukung untuk kita lakukan atau tidak.

Apabila hasil usaha di atas belum optimal, maka sejatinya keputusan resign ada di genggaman kita sendiri. Perlu diingat, tidak semua atasan dapat menerima keputusan resign secara tiba-tiba. Lakukan langkah ini supaya proses resign berjalan efektif:

  1. Menyiapkan surat resign
  2. Selesaikan tugas proyek
  3. Kembalikan peralatan kantor
  4. Hapus data pribadi di komputer kantor
  5. Cari waktu yang pas untuk mengobrol dengan atasan
  6. Sempatkan melatih pengganti
  7. Ucapkan salam perpisahan kepada rekan kerja

Kita pasti sulit mengubah sikap atasan, akan tetapi, sikap kitalah yang harus mengimbanginya. Dengan begitu kita telah memimpin diri sendiri menghadapi kesalahan atasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *