Significant Talks, Upaya AIESEC in UI Wujudkan Tanggung Jawab atas Konsumsi dan Produksi demi Keadilan Iklim

aiesec ui keadilan iklim

Affan Syafiq | Senin, 28 Juni 2021

Sebagai wujud upaya tanggung jawab atas konsumsi dan produksi demi keadilan iklim dan melawan kelaparan, AIESEC in Universitas Indonesia (UI) mengadakan rangkaian diskusi publik dengan tema “Significant Talks: Responsible Consumption and Production for Climate Justice”. Diskusi tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh lintas profesi, Nur Hidayati (Direktur Eksekutif Walhi Nasional), Wida Septarina (Founder of Food Bank Indonesia), Rahmat Hidayat (Founder of The Floating School), Alya Viva Dinar (Product Manager of Carbon Ethics), dan Nala Amirah (Founder of Green Welfare Indonesia). Diskusi yang diselenggarakan secara virtual tersebut dihadiri oleh ratusan pemuda dari berbagai daerah, Minggu (27/6/2021).

Local Committee President of AIESEC in UI, Astungkara Wibawangsa, mengatakan bahwa AIESEC UI telah menanggapi kekhawatiran pascapandemi menuju masa depan yang berkelanjutan dengan rangakaian acara Significant Impact, salah satunya diskusi Significant Talks. Melalui diskusi tersebut kami menempatkan kepercayaan kami pada kaum muda sebagai kunci untuk membuka masa depan yang lebih baik. Significant Talks akan menjembatani para pemuda dengan para master di bidangnya untuk lebih mengetahui masalah ini.

Penduduk bumi, terutama anak muda harus merubah paradigma berpikir menjadi manusia harus dapat mengendalikan ekosistem secara ramah lingkungan dan humanis, karena semua mahluk hidup di bumi saling bergantung. Perubahan tidak cukup sampai pada level individua tau kolektif saja, perubahan harus dilakukan sampai level perubahan system. Anak muda harus berani untuk mengadvokasi isu ini dengan mengintervensi kebijakan melalui diskusi dengan pendapat bersama wakil-wakil rakyat karena bencana krisis iklim sudah terjadi menimpa Indonesia sejak lama. Jangan sampai Indonesia terlelap menggunakan energi kotor yang dapat merusak lingkungan dan anak muda yang menerima akibatnya. Hal tersebut  terangkum pernyataan Nur Hidayati, Direktur Eksekutif Walhi Nasional, yang mengkritik lemahnya keberpihakan negara dalam upaya penyelamatan iklim pada diskusi Significant Talks, (27/6/2021).

werWida Septarina, Founder of Food Bank Indonesia, menyampaikan hal senada dari sektor pangan. “Indonesia adalah pembuang makanan nomor dua terbesar di dunia, di bawah India. Sementara itu, ironisnya banyak anak-anak yang masih kurang makan. Sepertiga balita Indonesia mengalami stunting, Hasil survei yang dilakukan oleh Food Bank Indonesia pada tahun 2020 mengatakan bahwa 27 persen anak sekolah dasaer (SD) Indonesia pergi ke sekolah dengan perut kosong dan tidak makan sampai siang hari. Oleh karena itu, Food Bank Indonesia menjembatani pihak yang berkelebihan pangan  dengan pihak yang membutuhkan bantuan pangan makanan, kami mengadvokasi isu ini dengan berkolaborasi bersama berbagai pemangku kepentingan, terutama dari sector industri yang sudah peduli terhadap tanggung jawab sosial perusahaan,” Kata Wida pada diskusi tersebut (27/6/2021).

Nala Amirah, Founder of Green Walfare Indonesia, menyampaikan kepeduliannya terhadap krisis iklim yang semakin menghantui, ia mengatakan bahwa kita harus bertindak seperti rumah kita terbakar. Sumber daya alam bumi terdegradasi dan dampaknya selalu dianggap remeh. Tanda-tandanya telah jelas oleh para ilmuwan tetapi tidak bergerak ke arah yang benar, itulah mengapa kaum muda perlu mengambil sikap. 2021 hingga 2030 adalah dekade yang menentukan. Masa depan ada di tangan kita. Ini adalah peran pemuda untuk meninggalkannya terserah kita untuk mengubah cara kita hidup keberlanjutan. Anak muda perlu bertanya pada diri sendiri “kalo bukan kamu siapa dan kalo sekarang bukan kapan?”.

Pendapat tersebut didukung oleh pandangan Rahmat Hidayat, Founder of The Floating School, ia mengatakan bahwa cara mahasiswa menanggulangi permasalah lingkungan, sudah baik sampai level awareness, tetapi implementasinya perlu dipertanyakan. Kita harus merefleksikan kapasitas serta privilese yang kita miliki untuk dapat mengajak masyarakat merubah perilaku yang bertanggung jawab atas konsumsi serta produksi demi keadilan iklim. Anak muda seyogyanya mampu menjadi katalisator dalam menyebarkan virus kebaikan “you have to walk your talk”, (27/6/2021).

Kemauan serta keberpihakan di sector bisnis pun harus terus di dorong. Hal itu karena pemerintah indonesia sudah berkomitmen untuk mengurangi emisi pada tahun 2030 kelak. Sektor bisnis melihat bahwa sudah ada perilaku konsumen yang peduli terhadap Corporate Social Responsibility (CSR). Bagi mayoritas generasi penduduk bumi saat ini selalu memandang pentingnya corporate sustainability dari sebuah perusahaan. Oleh karena itu, penting bagi sektor bisnis untuk merubah konsep operasional mereka menjadi lebih hemat, ramah, serta efisien dalam produksi dan konsumsi. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Alya Hafiza Vivadinar, Group Ecosystem Product manager of Carbon Ethics, pada diskusi tersebut menunjukkan bahwa pentingnya kolaborasi dari lintas sektor dalam upaya mewujudkaan penyelamatan iklim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *