Impostor Syndrome : Fenomena Selalu Merasa “Kurang Pantas”

Istilah “Impostor Syndrome” belakangan ini sedang populer di kalangan anak muda. Eits, jangan disamakan dengan game Among Us yang sempat ngehits beberapa waktu lalu ya, sebab “Impostor Syndrome” di sini artinya adalah suatu keadaan di mana seseorang merasa tidak layak/pantas meraih kesuksesan yang telah dicapainya. Jadi kalau dipikir-pikir, kondisi psikologis ini merupakan salah satu bentuk rasa insecure.

Pada bulan Mei lalu, saya mengikuti kontes public speaking dalam bahasa Inggris di mana lawan-lawan saya adalah young professional yang merupakan finalis dari areanya masing-masing, serta berasal dari tiga negara yang berbeda : Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia Timur. Saya sendiri pada saat itu sudah lolos tiga tahap babak penyisihan untuk tiga kategori kontes sebelumnya. Di tengah-tengah rasa euphoria karena saya belum pernah memiliki pencapaian setinggi ini sebelumnya, terbesit perasaan inferior yang membuat saya berpikir : “Perasaan gue nggak bagus-bagus amat kemarin. Apa sebenarnya gue layak sampai ke titik ini?”

Berbekal overthinking sebagai bakat terpendam, saya mulai berpikir yang aneh-aneh. “Apa mungkin gue bisa sampai ke tahap ini karena kebetulan lawan gue sebelumnya memang kurang bagus?” (Kalau dipikir-pikir gak bagus ya berpikir seperti ini. Mereka bagus-bagus, lho!). Atau, apa yang menganggap kontes ini serius cuma gue sementara buat yang lain cuma main-main? Sayangnya pikiran-pikiran seperti di atas kerap bermunculan dan berakibat ke saya yang malah procrastinate dalam rangka persiapan ke kontes mendatang karena down.

Layaknya saya, banyak sekali orang di luar sana yang mengalami Impostor Syndrome. Mereka tidak merasa cukup pantas, cukup layak, atau cukup bagus atas pencapaian-pencapaian yang padahal sudah berhasil mereka raih, lho! Faktanya, impostor syndrome dialami oleh tiap orang dari berbagai latar belakang seperti gender, ras, umur, dan lain-lain. Dan perlu dicatat, meski ada embel-embel “syndrome” di belakangnya, Impostor Syndrome bukanlah suatu mental disorder, melainkan fenomena sehari-hari yang umum terjadi.

Istilah Impostor Syndrome sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang kekinian. Fenomena ini pertama kali diitentifikasi oleh psikolog bernama Pauline Rose Clance dan Suzanne imes pada tahun 1978. Tapi kamu nggak perlu khawatir karena selama berada dalam batas yang wajar, Impostor Syndrome justru bisa menjadi motivasi agar kamu terus meningkatkan kapabilitas diri.  Sebaliknya, apabila perasaan nggak cukup bagus, nggak cukup layak, dan lain-lain itu justru malah membuat kamu down, mungkin kamu harus refleksi diri lebih dalam lagi.

Dari podcast-nya, Adam Grant memberikan tips mengenai cara-cara menghandle Impostor Syndrome :

Jangan denial terhadap rasa insecure yang timbul dari Impostor Syndrome. Sebaliknya, coba mulai menerima kenyataan bahwa perasaan tersebut normal.

Nervous ikut kompetisi pertama kalinya? Itu normal. Bertanya-tanya sebagus apa kontestan lainnya? Normal juga! Justru pada saat kamu merasakan kekhawatiran macam inilah kamu jadi termotivasi untuk melakukan persiapan lebih baik. Latihan lebih sering untuk mengurangi rasa nervous. Hapalkan script setiap hari supaya nggak ada salah kata di hari-H. Coba rangkul perasaan-perasaan yang timbul dari Impostor Syndrome tersebut dan katakan pada diri sendiri bahwa itu semua normal. Apabila kamu punya sosok seorang mentor atau atasan, kamu bisa berkonsultasi dengan mereka. Kehadiran sosok mentor yang memberikan validasi terhadap rasa insecure yang kamu pendam akan membuat kamu lebih kalem ke depannya.

Motivasi dirimu sendiri melalui sudut pandang orang kedua.

Saya ingat sekali sebelum giliran saya tampil, saking gugupnya saya memutuskan untuk tidak menonton penampilan kontestan-kontestan sebelum saya. Takut drop shay, hehe. Posisi saya waktu itu sedang sendirian sehingga saya cuma bisa bicara pada diri sendiri : “Kamu pasti bisa! Kamu sudah sejauh ini, kamu sudah dan akan lakukan yang terbaik!”

Yang unik di sini adalah beberapa dari kita cenderung berkata pada diri sendiri “Kamu pasti bisa!” dibanding “Aku pasti bisa!” Kenapa begitu? Berdasarkan sebuah eksperimen, orang yang memotivasi dirinya sendiri dengan sudut pandang orang kedua cenderung lebih lancar dalam melakukan presentasi. Logikanya saat kita bilang pada diri kita sendiri “You got this!”, terdapat kesan seakan-akan teman kita atau mentor kita yang sedang memberikan semangat. Pendekatan ini terkesan lebih friendly dibandingkan menyemangati diri sendiri dengan sudut pandang orang pertama yang malah bisa terkesan mengancam. Simple but working!

Terutama bagi individual-individual ambi, tidak masalah kalau target atau standar ekspektasi kamu terus meningkat. Namun jangan lupa untuk selalu take credit atas pencapaianmu sendiri.

Katakan pada diri kamu sendiri bahwa kamu bangga sudah bisa sampai sejauh ini serta jangan lupa bersyukur.  Apa artinya pencapaian-pencapaian baru kalau kamu sama sekali nggak bahagia, kan Kamu juga perlu berhenti membanding-bandingkan diri kamu dengan orang lain. Saat kompetisi Mei kemarin usai dan diumumkan bahwa aku sama sekali tidak menang untuk ketiga kategori kontes yang aku ikuti, awalnya aku sempat merasa down. Aku mulai membanding-bandingkan diriku dengan salah satu pemenang yang berhasil menyabet juara satu untuk dua kategori kontes sekaligus. Terbesit kata-kata semacam “Kok gue nggak bisa kayak dia ya? Apa kemampuan gue segini-gini aja?”

Dari pada membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain yang pasti tidak akan pernah ada habisnya, cobalah bandingkan diri kita saat ini dengan diri kita di masa lalu. Mungkin kalau saya 5 tahun lalu dipertemukan dengan saya saat ini, dia bakal kaget kali melihat progress dirinya sendiri. Sabrina yang dulu bahkan mengalami kesulitan untuk berkomunikasi 1:1 dengan orang lain, boro-boro ikut lomba public speaking. Cara pandang seperti inilah yang akan membuat kita makin termotivasi untuk terus berusaha ke depannya.

Pada akhirnya, Impostor Syndrome itu nyata dan umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kita selalu bisa mengontrol efek-efek yang timbul dari Impostor Syndrome tersebut dengan berbagai cara di atas. Seperti yang dikatakan oleh psikolog asal Amerika, Audrey Ervin : “They can still have an impostor moment, but not an impostor life.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *