Benarkah Semesta Menuntut Kita Untuk Menjadi Sempurna?

Benarkah semesta menuntut kita untuk menjadi sempurna?

Semesta selalu menuntut kita untuk menjadi sempurna, begitulah kiranya

Namun bukan semesta yang menuntut kita menjadi sempurna tanpa cela, tapi orang-orang di dalamnya lah yang seringkali berekspektasi bahwa kita adalah manusia berdaya dan paripurna.

Barangkali kita hidup di bayangi oleh citra diri yang kita bangun sendiri.

Misalnya, kita di kenal oleh orang-orang sebagai penyanyi, maka penghuni semesta mengharapkan kita sebagai penyanyi yang bisa membawakan nanyian apa saja dari berbagai genre.

Misal, kita di kenal sebagai seorang yang pendiam. Di lain hari, kita menampakkan sisi lain dari diri kita yang sedikit heboh, saat seperti itulah mereka tercengang melihat kita.

Begitulah cara kerja semesta, seringkali kita dianggap menjadi orang yang tanpa cela atau justru sebaliknya.

Misalnya kita dikenal sebagai seseorang yang pembuat onar, sering bolos sekolah dan tidak mengerjakan tugas. Maka semesta akan selalu menganggap kita sebagai anak yang malas, bodoh dan banyak cela dimana-mana.

Adilkah seperti itu?

Tentu tidak.

Penghuni semesta memang tidak pernah adil menilai kita, karena mereka melihat kita dari satu sisi.

Kita selalu memiliki sisi yang lain, yang tidak pernah diketahui oleh mereka.

Lantas siapa yang paling mengerti diri kita?

Siapa lagi kalo bukan kita sendiri.

Kita yang paling mengerti kekurangan diri sendiri.

Dan, hal yang paling membahagiakan hati adalah saat dimana kita menerima bahwa kita adalah pribadi yang banyak kurangnya.

Bahwa tidak ada pilihan lain selain menerima diri kita, yang begini saja, yang tidak mampu memenuhi ekspektasi mereka.

Bahwa kita punya segudang luka, segudang kecewa dan bahkan air mata yang harus kita terima.

Menerima adalah pertolongan pertama untuk melangkah ke hal yang lebih baik dan pribadi yang lebih positif.

Karena lewat penerimaan itulah kita bisa melengkapi kekurangan kita sekaligus membebat luka yang pernah ada.

Boleh saja kita mematahkan ekspektasi dunia, tapi jangan sampai kita mematahkan hati yang kita susun sendiri.

Terimalah diri kita layaknya manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *