Mengenal Uniknya Hari Raya Galungan di Bali

Rahajeng Rahina Galungan lan Kuningan. Dumogi ngamolihang kerahayuan lan kerahajengan sareng sami.

Hi YOTers! Kali ini aku mau sharing tentang Galungan vibes di Bali! Kedengeran asing ya? Hehe.

Okay, sebelum YOTers pada nanyain Galungan itu apa sih? Aku jelasin dulu yaa!

Jadi Galungan adalah hari rayanya umat agama Hindu nih YOTers, yang mana maknanya adalah sebagai perayaan hari kemenangan Dharma atau kebaikan, melawan Adharma atau kejahatan. Galungan dirayakan 2x dalam satu tahun, yaitu setiap 6 bulan sekali. Rangkaian hari rayanya juga banyak banget, selain Galungan, ada juga Kuningan yang datangnya 10 hari setelah Galungan. Pada Hari Raya Galungan, umat Hindu akan melakukan persembahyangan di rumah masing-masing, rumah sanak keluarga, dan juga di berbagai Pura.

Pada artikel kali ini, aku akan mengulas hal-hal apa saja yang identik dengan Galungan atau keunikan yang hanya bisa ditemukan pada saat Galungan, yang pastinya akan bikin YOTers pengen main ke Bali! Oke, mari kita lanjut!

Pertama, setiap hari Raya Galungan, umat Hindu akan memasang Penjor di depan rumahnya masing-masing. Penjor terbuat dari bambu yang ujungnya melengkung, dan dihias dengan janur dilengkapi hasil bumi seperti buah-buahan, dan kain putih atau kuning. Makna penjor sendiri yaitu sebagai simbol dari Naga Basuki yang artinya kesejahteraan dan kemakmuran. Bagi umat Hindu di Bali penjor merupakan simbol gunung yang dianggap suci.

Sumber: https://streetbali.com/

Kedua, Galungan selalu identik dengan Barong. Biasanya pada hari raya Galungan, anak-anak akan mengarak Barong dilengkapi dengan gamelannya, mengelilingi rumah warga, yang biasanya kita sebut dengan “ngelawang”. Dalam Bahasa Bali, istilah Lawang berarti pintu, sebutan ini dimaksudkan untuk menggambarkan pementasan ritual Ngelawang yang dilakukan dari pintu ke pintu atau dari satu tempat ke tempat lain. Selama pementasan Ngelawang, barong yang dipakai adalah Barong Bangkung, dengan ciri utamanya adalah kepala yang berbentuk mirip babi.¬†Selesai melakukan pertunjukkan, masyarakat akan memberikan sejumlah uang kepada kelompok penari Barong secara sukarela.

Sumber: https://www.pinterest.com/

Ketiga, pada hari raya Galungan, akan ada makanan yang berlimpah, mulai dari buah-buahan, jajanan, bolu, bahkan yang tidak kalah menggiurkannya adalah Lawar dan Gerang Asem khas Bali. Biasanya H-1 sebelum Galungan, tepatnya hari Penampahan Galungan, umat Hindu akan membuat berbagai makanan dengan bumbu bali yang khas, mulai dari daging ayam, bebek, ataupun babi.
Sumber: https://www.kompas.com/
Hari Raya Galungan juga digunakan umat Hindu sebagai ajang silaturahmi, layaknya Hari Ramadhan ataupun Natal. Saat Galungan, akan banyak umat Hindu yang “pulang kampung” untuk menengok sanak saudaranya sembari sembahyang.
Umat Hindu baru saja merayakan Galungan pada Rabu, 10 November kemarin, sementara Kuningan akan dirayakan pada Sabtu, 20 November, dan rangkaian masih berlanjut hingga hari Pegatwakan saat pencabutan Penjor Galungan.
Gimana YOTers? Sudah mulai mengenal apa itu Galungan dan keunikannya kan? Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan memahami keberagaman umat beragama di Indonesia. Salam toleransi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *