Berbangga untuk Bersyukur dan Bersyukur untuk Berbangga adalah Dua Hal yang Berbeda

Ini hanyalah perspektifku semata. Karena inilah pembelajaran hidupku saat melihat orang lain dan diri sendiri saat pernah merasakan pada dua posisi itu.

Tiap definisi kehidupan sering kali dibatasi dengan pembatas yang tipis sehingga sedikit membedakan hal yang berbeda

Aku akan bercerita kisah fiksi dengan karakter “aku” sebagai contoh nyata. Saat SMP, aku adalah korban dari janji palsu masuk sekolah SMP negeri dengan label “orang dalam”. Saat aku sudah berharap dan tanpa melakukan apa-apa, ternyata janji aku pasti akan diterima di sekolah negeri hanyalah kegagalan. Tanpa perencanaan, akhirnya mendaftar ke sekolah swasta yang cukup jauh dengan masih membawa dendam pada orang yang menjanjikan.

image: Freepik.com

Tapi tidak seburuk yang aku pikirkan dulu. Ternyata sekolah swasta juga sama luar biasanya dengan sekolah negeri pada umumnya dari segi pendidikan. Tidak disangka-sangka aku terpilih menjadi Ketua OSIS pada masa itu. Namun tidak lupa dengan dendam sebelumnya, aku akhirnya membuat banyak inovasi kegiatan yang luar biasa walau sekolahku berada diperbatasan kota dengan kabupaten. Aku ingin berbangga bisa menunjukkan bahwa walau aku tidak bisa masuk sekolah negeri, bukan berarti aku tidak bisa sukses. Alasan lainku juga, untuk bisa bersyukur menjalani hari-hari berikutnya.

Namun tidak begitu nyatanya. Saat aku berusaha mempersiapkan salah satu kegiatan besar dan baru saja dibuat pada waktu itu, aku mengalami kerugian finansial sampai dengan teman-temanku disekitarku tidak menghiraukanku sedang menangis di pijakan tangga di lobby utama saat pulang sekolah. Bukan tanpa alasan, karena aku berjuang sendiri tanpa memandang sudut pandang anggota. Tidak tanpa alasan juga, aku melakukan itu karena ingin mendapat kepuasan untuk bangga namun akhirnya mengesampingkan lingkungan sekitarku dengan posisi menjadi seorang pemimpin. Disanalah aku tidak ingin mengulangi kesalahan itu kembali.

Waktu akan menjawab dengan isi dari tindakan kita pada waktu yang disediakan

image: Freepik.com

Kemudian hari, aku mengalami kejadian yang sama, namun dengan definisi yang berbalik dari sebelumnya. Aku menjadi seorang ketua panitia saat SMA dan aku berusaha bersyukur dengan tetap berjuang semaksimal kita bersama. Setiap langkah kita syukuri, kalau ada yang bisa dikembangkan, ayooo kita kembangkan (inilah pentingnya skill melihat peluang). Hasilnya adalah kegiatan berjalan lancar dan juga akhirnya berbangga. Namun bukan sendirian, tapi berbangga bersama.

Dari cerita fiksi ini, aku akan lebih memilih untuk Bersyukur untuk Berbangga daripada Berbangga untuk Bersyukur. Saat kita bersyukur, kita menghargai setiap proses baik buruknya dengan bonus dapat berbangga pada akhirnya karena tuhan tidak pernah mengkhianati usaha umatnya. Tapi pada saat kita ingin Berbangga untuk Bersyukur, cenderung akan menhalalkan segala cara agar kita berbangga pada tiap prosesnya. Bangga adalah rasa dari tiap individu dan punya caranya masing-masing untuk menciptakannya, sehingga kata “bersyukur” hanya akan jadi mimpi belaka yang tidak akan tercapai jika hanya terus berbangga. Begitulah menurut pandanganku. Bangga pertama akan dikalahkan oleh rasa bangga kedua karena lebih besar dan berusaha untuk mendapatkan kebanggan selanjutnya dan selanjutnya.

Di usia muda ini, menurutku, penting untuk kita mensyukuri tiap proses, bukan untuk berbangga. Bangga lah jika didalamnya sudah ada rasa syukur. Bukan berbangga lebih dulu, dengan didalamnya sifat liar untuk mencari kebanggan-kebanggaan lainnya. Semoga kita bisa sukses di usia muda, kalau belum, setidaknya kita sudah membuat jejak perjalanan menuju kesuksesan. Hanya masih belum sampai saja. Tetap semangat menempuh perjalanan. See you on top

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *