Sudah di Kepala Dua, Harus Mulai dari Mana?

2021 akan segera usai, mari ucapkan selamat kepada diri yang masih tetap berdiri walau hari-hari serasa akan mati. Banyak ketakutan yang menghampiri, isak tangis yang menemani di malam hari, tapi semua bisa terlewati. Selalu mencoba walau hasil yang diterima kerap kali membuat kecewa. Akhirnya, kita sampai pada titik dewasa.

2022 sudah menanti karena banyak mimpi yang harus direalisasi, untuk mencapai hal-hal yang hebat harus diiringi dengan doa yang kuat. Tapi, apakah doa akan terwujud tanpa adanya usaha? Tidak. Karena, semesta ingin melihat betapa kuatnya dirimu. Kerap kali usaha selalu mengajarkan banyak hal.

Luka membuatmu kuat, lelah membuatmu sabar, rapuh membuatmu tangguh, dan masalah membuatmu dewasa.

Remaja yang sudah beranjak dewasa, belajar untuk menerima bahwa hari-hari yang dilalui tidak selalu baik. Bahkan, bisa membuat tercabik-cabik. Proses menjadi dewasa yang tidak mudah. Banyak tuntutan, pencapaian orang lain yang terkadang membuat diri merasa tertinggal. Tenang, ini hidup bukan perlombaan. Setiap orang mempunyai proses yang berbeda lantas mengapa hasil akhir harus disamaratakan?

Menurut Ayub Firmansyah yang sudah di kepala dua, mengatakan bahwa “Saya tidak merasa tertinggal dengan pencapaian orang lain. Karena, hal pertama yang harus kita sadari adalah bahwa setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Tuhan Yang Maha Esa menciptakan kita dengan jalur hidup berbeda yang harus ditempuh. Kita tidak bisa membandingkan jalur hidup kita dengan jalur hidup orang lain, bahkan ketika kita merasa kondisi kita tidak jauh berbeda dibandingkan mereka. Daripada hanya diam, menatap kesuksesan orang lain dari jauh, lalu memendam rasa galau dan iri dalam hati, lebih baik waktu tersebut kita gunakan untuk merenung dan melihat kembali pada diri sendiri. Coba kita gali lagi apa yang sebenarnya menjadi potensi kita, kelebihan kita, hal-hal yang ada pada diri yang bisa kita kembangkan sebagai langkah awal untuk mencapai kesuksesan.”

Menurut Muhammad Arafat, mengatakan bahwa “Di umur yang 22 tahun ini, hal yang paling saya takuti adalah ketika saya sudah merencanakan apa yang akan saya lakukan untuk masa depan, tapi kenyataannya tidak sesuai dengan rencana yang sudah ada.”

Menurut Rizki Rahma Fadilah yang sudah menginjak usia 22 tahun, juga memberi pesan kepada para remaja yang saat ini sedang berjuang untuk masa depannya, ia mengatakan bahwa “Mulailah untuk mencari tahu segala hal tentang diri sendiri. Bisa jadi hal yang kamu minati, adalah hal yang ingin lakukan. Kekurangan atau kelebihan dari diri kamu sendiri. Jangan jadi orang yang suka menunda-nunda atau terlalu berlarut di satu pekerjaan sampai berlama-lama, tanpa mikir kedepannya akan bagaimana dan mau kemana. Lalu, perluaslah zona nyamanmu. Jangan jadi orang yang overthinking dan insecure-an. Jangan Cuma memikirkan apa yang mau dilakukan tanpa adanya action. Dan yang terpenting ialah cobalah untuk melakukan apa yang ingin kamu lakukan tapi tidak merugikan orang lain dan yang lebih baik lagi kalau yang kamu lakukan itu bisa membuat diri kamu bahagia.”

Masa remaja adalah satu fase yang menentukan untuk masa depan. Menentukan berbagai pilihan hidup, mau jadi apa? Apakah jalan yang dipilih saat ini sesuai dengan keinginan diri sendiri? Apakah semua mimpi akan terwujud? Bagaimana kalau gagal? Apakah harus menyerah atau tetap mencoba? Terlalu banyak pertanyaan yang membuat kepala sakit. Semua bisa dilalui, sabar satu-persatu.

Kehidupan tidak selalu berjalan dengan baik, layaknya air terjun tidak akan selalu mengalir deras. Akan ada waktu dimana air mengalir surut. Begitu juga dengan hidup, terkadang bahagia, sedih, kehilangan arah, dan marah. Semua itu wajar. Karena, pada hakikatnya manusia itu adalah insan yang harus terus belajar. Jangan takut mencoba karena menyesal adalah suatu hal yang sangat sia-sia. Percayalah bahwa setelah badai yang dilalui akan ada pelangi yang menanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *