Mengenal Toxic Positivity: Semangat yang Mengandung Racun

toxic positivity

“Semangat ya!”

“Kamu Pasti Bisa!”

“Jangan Menyerah!”

“Be Positive!”

Pernah gak kamu disemangatin pake kata-kata itu? Atau mungkin kamu pernah nyemangatin orang pake kata-kata itu? Hmm mulai sekarang, stop deh, karena itu termasuk toxic positivity. Eh, tapi sebenernya apa sih toxic positivity itu?

Menurut seorang psikoterapis dari Amerika, Jennifer Howard Ph.D, nasihat yang bertujuan untuk mengajak seseorang berpikir positif justru akan membuatnya merasa takut, sedih, sakit dan merasa sendiri. Usaha untuk mengajak seseorang berpikir positif sehingga tidak realistis justru akan menjadi racun dan palsu. Nah inilah yang dimaksud dengan toxic positivity.

Maka dari itu, saat kita sedang mendengarkan teman kita bercerita mengenai kesedihan atau musibah yang dialaminya, hindari memberi respon berupa kata-kata pemberi semangat atau meminta mereka berpikir positif. Karena, itu justru akan membuat teman kita semakin merasa rendah diri dan bahkan bisa menimbulkan gangguan psikis.

Baca juga:

Contoh Toxic Positivity

Contoh toxic positivity simple-nya seperti saat kamu meminta teman kamu untuk melupakan hal-hal yang pahit, maka secara tidak disadari, kita memaksa teman kita untuk memendam berbagai emosi negatif di bawah alam sadarnya. Tentu ini akan berdampak ke psikisnya jika terus dibiarkan.

Ciri-Ciri Toxic Positivity

Nggak sedikit orang yang kurang memahami apa sebenarnya toxic positivity. Sebab pada dasarnya, di beberapa kondisi mungkin kita nggak sadar bahwa apa yang kita lakukan termasuk ke dalam perlakuan toxic positivity. Nah, demi menghindari dampak negatif dari toxic positivity, penting bagi kita untuk mengenali ciri-cirinya.

Berikut beberapa ciri yang menandakan seseorang sedang terjebak di dalam toxic positivity, yaitu:

  • Orang yang terjebak dalam toxic positivity biasanya akan memilih untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya sedang Ia rasakan.
  • Selalu menghindari masalah.
  • Kerap memberikan motivasi tapi justru terkesan menghakimi atau merendahkan. Contohnya: “Kamu pasti bisa laluin masalah ini kok, aku aja bisa. Masalah kamu belum seberapa kalau dibandingkan sama masalahku kemarin”.
  • Sering membandingkan kualitas diri dengan orang lain.

Tips Menghindari Perilaku Toxic Positivy

Terus, gimana seharusnya kita bersikap supaya kita gak jadi orang yang menyebarkan toxic positivity? Pertama, biarkan temanmu bercerita, jangan kamu berikan saran terlebih dahulu. Karena sebenarnya seseorang yang sedih membutuhkan ruang untuk bercerita. Percaya deh, saat seseorang memutuskan untuk membagi kisahnya sama kamu, itu berarti kamu adalah orang yang dipercaya. Makanya, selain harus pintar menjaga rahasianya, kamu pun juga harus pintar dalam memberi respon saat teman kamu bercerita.

Kamu bisa mengganti toxic positivity tersebut dengan misalnya “wajar kok kalau kamu kecewa”, “pasti kamu lagi ngerasa berat banget ngejalaninnya ya”, “kadang ngerasa patah semangat itu wajar kok” dibandingkan kamu memberi kata-kata penyemangat yang justru malah bisa membuat seseorang menjadi patah semangat.

Berikan energi atau semangat positif di tahap akhir, saat teman kamu sudah tuntas dengan apa yang ingin diceritakannya. Ini jauh akan lebih bekerja, karena temanmu sudah berada dalam kondisi yang lebih bisa menerima dan secara sadar diri harus melepaskan kesedihannya.

Setelah mengetahui ciri-ciri dari toxic positivity, kini kamu tidak boleh melakukan hal tersebut lagi, ya YOTers! Sebab, toxic positivity itu dampaknya cukup serius kesehatan psikis.

Ingin mendapatkan konten-konten inspiratif  seputar dunia perkuliahan, karir, dan bisnis untuk anak muda? Yuk kunjungi YouTube Young On Top. Atau tonton video di bawah ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *